Rabu, 27 Oktober 2010

Kaulah Robbiku…

Kau bukan batu karang 
Yang tak goyah diterjang ombak
Kau bukan lautan
Yang terhampar luas tak terbatas
Kau bukan langit 
Yang terbentang tak berujung
Kau bukan matahari
Yang mampu patahkan langkah sang raja malam
Kau bukan pula rembulan
Yang memantulkan sinar saat gelap
Kau bukan semua itu
Namun…
Kau tau denyut dalam nadiku
Kau hafal detak di jantungku
Kau dengar bisik dalam hatiku
Kau baca data dalam otakku
Kutau…
Kau memantauku
Hingga tak satupun terlewat dari pengamatanmu
Kadang kujenuh, bosan, dan benci
Dengan alur hidup yang kau cipta untukku
Hingga kesadaran menyentakku
Bahwa kau selalu begitu
Tak pernah beri yang kuinginkan
Tapi kau kasih yang kubutuhkan
Lalu 
Kupahat namamu di lubuk hatiku
Kaulah Robbiku
Yang selalu tau apa yang terbaik untukku.

Melejitkan Innerbeauty

Membaca tema Infitah kali ini, saya jadi bertanya-tanya: Apasih arti cantik dan pintar (Smart 'n Smart) yang sebenarnya? Dalam kamus Bahasa Ingris, kata Smart berarti cerdas; pintar; bijak. Sedang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Cerdas berarti sempurna perkembangan akal budinya ( untuk berpikir, mengerti, dsb.). Bijak berarti selalu menggunakan akal budinya; pandai; mahir. Sedangkan pintar berarti pandai; cakap. Dari uraian ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa, orang yang pintar (Smart) adalah orang yang cerdas dalam berpikir, pintar dalm menempatkam (memposisikan) diri, dan bijak dalm mengambil langkah (keputusan) dimanpun, kapanpun, dan dalam keadan bagaimanapun. Itu berarti orang yang pintar (Smart) bukan hanya orang yang mempunyai IQ yang tinggi atau orang yang sering berprestasi.
 Namun faktanya, ketika kita mendengar kata pintar, maka yang terbayang di otak kita adalah orang yang mahir (menguasai) ilmu atau pelajaran tertentu. Contoh kongkritnya: pintar MTk, pintar baca kitab, pintar Bahasa Arab, dsb. Bahkan kita akan berdecak kagum sambil berucap: "Wah… orang ini pintar sekali!" ketika kita merlihat atau membaca surat kabar yang memuat berita tentang seseorang yang mendapatkan penghargaan dalam bidang (ilmu) tertentu. Padahal belum tentu orang itu pintar menempatkan diri dalam kehidupan sehari-harinya. Bisa saja dia akan menjadikan kemampuan (kelebihan)nya itu untuk membanggakan diri, baik di depan teman-temannya atau orang sekitarnya. Bahkan tidak menutup kemungkinan dia akan menjadikan kepintarannya itu sebagai senjata untuk bermanja-ria di depan orang tuanya. Menuntut ini dan itu, yang sebenarnya tak ia butukan (sekedar untuk hura-hura). Lalu, apakah dia masih pantas menyandang predikat orang atau pemuda yang Smart?
 Kata Smart yang ke-dua, yang berarti cantik. Saya jadi teringat percakapan saya dengan kakak angkat saya lewat SMS beberapa minggu yang lalu.
 
Menurut Kakak, kenapa kecantikan itu lebih menarik bagi laki-laki dari pada kepintaran?

Menurut Kakak pribadi, kecantikan itu bukan harga mati. Walaupun kecantikan menjadi bagian dari pilihan, tapi bukan hal mudah untuk menentukan. Karena cantik itu relatif. Teringat kata orang bijak; cantik menurut nafsu itu rupa, cantik menurut akal itu kecerdasan dan kepintaran, cantik menutut hati adalah kebaikan akhlaq…

Owh… gitu ya… kalo menurutku, kecantikan lebih menarik bagi laki-laki dari pada kepintaran, karena di dunia ini lebih banyak laki-laki yang buta dari pada yang bodoh. He…

Benar juga ya… Tapi kajiannya harus lebih menukik dong… Menurut Kakak, itu karena kebanyakan laki-laki lebih mengedepankan nafsu dari pada hati…

Dari jawaban SMS di atas, saya berkesimpulan bahwa kecantikan bagi sebagian atau bahkan keseluruhan laki-laki adalah keelokan atau kemolekan wajah atau tubuh seorang perempuan. Itu berarti laki-laki cendrung mengartikan kata cantik secara harfiah saja. Karena dalam KBBI-pun juga seperti itu, arti cantik adalah elok; molek. 
Ironisnya, bukan hanya laki-laki yang mengartikan cantik secara harfiah saja. Pandangan masyarakatpun juga mengharuskan seorang perempuan untuk selalu tampil cantik. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa, kecantikan lahiriyah itu sangat penting bagi perempuan, karena yang dilihat dan diingat ketika pertama kali bertemu dengan seseorang adalah wajahnya (cantik atau tidak). Sebagian lagi berpendapat bahwa, kecantikan batiniyah (Innerbeuaty)yang mencakup kecantikan hati, prilaku, sifat dan lain sebagainya__itu lebih penting bagi seorang perempuan. Karena secantik apapun seorang perempuan itu tidak ada artinya jika bererangai jelek. Hal itu terkait dengan hadist nabi yang menyatakan bahwa, kalau kita ingin menilai seseorang, janganlah melihat dari segi pakaian yang dikenakanya. Tapi lihatlah bagimana akhlaqnya.
Diakui atau tidak, para perempuan seringkali tersihir dengan dua hal di atas (cantik lahiriyah dan batiniyah). Hingga terkadang dia akan mati-matian berdandan secantik dan serapi mungkin. Memakai berbagai bedak dan parfum serta bersikap sok sopan dan anggun. Agar mereka laris dipasaran. Padahal kecantikan dalam (Inner beauty) bukanlah sikap yang hanya didasari acting demi menarik perhatian belaka. Walaupun tak dapat dipungkiri, penampilan memang penting agar seorang perempuan terlihat rapi, cantik , dan menarik. Tapi yang dimaksud Inner beauty di sini adalah sikap yang berasal dari kesucian hati dan kemurnian jiwa. Itualah Inner beuaty yang sebenarnya. Bukan hanya topeng belaka. Bukan sekedar sikap manis ketika pertama kali berjumpa dan baru berkenalan, tapi setelah beberapa bulan sikap aslinya yang akan keluar dan nampak ke permukaan. Sikap manis dan sopan santun hanya dijadikan ‘salam’ perkenalan saja agar orang beranggapan bahwa dia adalah orang yang santun dan berbudi. Padahal bukan begitu seharusnya. 
Satu hal yang harus digaris bawahi oleh kita bersama bahwa, kecantikan yang sebenarnya (Inner beauty) akan terpancar dari hati yang bening. Bukan dari jiwa yang hampa dan kososng. Oleh karenanya hati yang bening tak bisa digantikan oleh harta kekayaan, keelokan wajah dan tubuh, kedudukan, prestasi dan sebaginya. Seperti kata guru ngaji saya di rumah:
"Menurut saya, kecantikan itu adalah kebaikan budi yang terpancar dari kebeningan hati. Mendapatkan pasangan atau pun calon pasangan yang cantik, bukanlah suatu kebanggaan. Karena perempuan yang cantik itu banyak godaannya (laki-laki yang menggodanya). Jadi kalau kecantikan itu tidak dibarengi dengan kecantikan dan kebeningan hati, bisa saja dia akan tergoda untuk melayani dan memberikan hati atau tangan bahkan tubuhnya pada laki-laki yang menggodanya. Kalau begitu kenyataannya, apa bedanya dengan kita membeli sampah (bekas orang) yang dibungkus dengan rapi kembali (dengan kecantikannya). Jadi berhati-hatilah mencari pendamping hidup. Apalagi dijaman yang seperti sekarang ini."
Dari itu, marilah kita sebagai generasi muda__terutama yang berpredikat santri__agar benar-benar berusaha untuk menjadi remaja yang Smart ‘n Smart, dalam artian remaja yang cerdas dalam berpikir, pintar dalam menempatkam (memposisikan) diri, dan bijak dalam mengambil langkah (keputusan). Serta menjadi remaja yang ‘cantik’. Yaitu remaja yang senantiasa berbusana dengan akhlaq yang mulia (seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad saw). Berdandan dengan bedak iman, dan berlipstik dengan lipstik kejujuran. Semoga kita benar-benar menjadi remaja yang Smart 'n Smart. Amien…

Jumat, 13 Agustus 2010

Sepenggal Kisahku

Matahari mulai beranjak turun. Mengukir langit dengan semburat kuning kemerahan. Mencipta jingga yang menyejukkan mata. Burungpun mengepak sayap, berlomba menuju sarang. Setelah seharian menorah alur kehidupan. Tapi aku tetap terpekur, tak ada niatan untuk beranjak dari batu tempat aku duduk. Besok ujian Semester genap. Tapi tak ada setitikpun semangat yang mengajakku untuk belajar. Bahkan, matapun sudah perih karena menangis sepanjang malam. 
 Aku masih ingat kejadian beberapa hari yang lalu. Saat aku masih tertawa lepas di dalam kelas, bermain dengan teman-teman, bahkan menanam bunga dengan tulisan MA 1 A Pi di halaman sekolah. Betapa menyenangkannya hari-hari itu. Sepintas, semua kejadian itu seolah biasa, bahklan terlalu biasa untuk di kenang. Tapi sekarang, saat bangku sekolah tak lagi dapat kududuki, saat pendidikan tak lagi dapat kuenyam lantaran ekonomi keluarga yang tak mengizinkan, maka semua kejadian itu berubah wujud, menjelma menjadi torehan sejarah yang tak terlupakan, bahakn terlalu indah untuk dilepas dari 9ingatan meski hanya sesaat.
 “Lho… Emak! Tumben Fany dikunjungi sekarang? Emak bawa oleh-oleh apa?” ucapku antusias saat Emak mengunjungiku dua hari yang lalu. 
 “Emak akan sowan sekarang ke ndalem. Apa kamu mau ikut?” ucap Emak yang mampu menghapus senyumku sekatika.
 “Tapi Mak, Fany kan masih mo ikut ujian. Di sekolah kan nggak boleh kalong Mak. Berhentinya setelah haflah saja ya, Mak. Fany mohon, Mak.” Ucapku memelas, berharap Emak akan mengabulkan permintaanku.
 “Tapi Fa, Emak sudah tak punya uang lagi. Uang ini pun hanya cukup untuk sowan ke pengasuh. Biarlah kamu berhenti sekarang saja ya, Nak.”
 “Mak. Fany tau, Emak udah nggak punya apa-apa. Fany juga nggak akan minta uang jajan sama Emak. Asal Fany berhenti setelah Haflah ya, Mak. Empat hari lagi kan ujian dimulai. Fany juga masih mu ikut lomba. Boleh ya, Mak.”
 “Nak. Emak tau kamu tidak ingin berhenti dari pondok ini. Emak juga tau kamu tidak akan minta uang jajan sama Emak. Tapi, kamu pasti minta uang jajan sama orang kantor Kakakmu, dan mereka akan selalu memberikan apa yang kau butuhkan. Tapi Nak, Emak sudah tidak enak hati pada mereka. Ingat, mereka bukan familimu, tak ada ikatan darah sedikitpun diantara kalian. Iya dulu, masih ada Kak Ziemu di sana. Tapi sekrang….?” Ucap Emak menggantung, membiarkan aku untuk melanjutkannya. Aku hanay diam membeku. Tenggorokanku seolah tercekat. Mataku panas, mungkin air sudah menganak sungai yang akan segera pecah. Kutahan sekuat tenaga, agar tak mengalirkan air mata. Agar tak semakin menambah beban Emak. Kutatap langit yang mulai mendung, mencoba mengalihkan perhatian. Agar muara itu tak jatuh.
 “Sekaranglah, Nak waktu yang paling tepat. Mumpung Emak masih punya uang hasil merumput.” Suara Emak kembali memecah luapan emosiku.
 “Tapi, Mak. Gimana dengan sekolahku? Sebentar lagi ujian sedang di sekolah nggak boleh kalong.”
 “Kau boleh pindah pondok. Tinggal dengan tunangan kakak sepupumu atau tinggal dengan bibimu.” 
 “Bereati Fany pindah pondok, Mak?” ucapku antusias. Ada secercah harapan aku masih akan tetap sekolah, belajar bersama teman-temanku, bermain dan melakukan rebisasi dan sebagainya. Biarlah, meski aku harus pindah pondok, asal aku masih bisa sekolah di pondok ini itu sudah lebih dari cukup. Pikirku.
 “Gimana? Apa kamu mau ikut ke ndalem?” Tanya Emak mebuyarkan hayalku. Aku mengangguk cepat. Sebelum tawaran Emak untuk pindah pondok ditarik kembali. Aku melangkah mengikuti langkah Emak ke ndalem. Ditanganku terjinjing tas berisikan beras sebagai oleh-oleh ke ndalem. 
@@@
Kini aku sudah duduk di pondok bibikku. Masih tertanam lekat tatap heran dari teman-teman sekamarku saat mengantarku tadi. Masih kuingat jelas pintu gerbang pondokku. Pondok yang sangat aku cintai, yang memberiku segala pengetahuan dan pengalaman, yang mengajariku ketegaran dan arti kehidupan, yang membuatku mengerti asam garam kehidupan. Bagiku di sanalah surgaku. Semua yang kubutuhkan ada di sana. Fasilitas lengkap, kegiatan padat, dan hal lain yang tak mungkin kutemukan di tempat lain. Tapi sekarang aku di sini. Sekuat tenaga kutahan agar tak melelehkan air mata. 
 Tuhan. Jadikan ini yang terbaik untukku. Hanya Engkau yang Maha Tau. Hamba hanya menjalani garis taqdir-Mu.
 “Lho… kok ngelamun terus? Mulai besok nanak dengan Bibik ya. Biar semakin hemat. Agar Emakmu nggak usah ngunjungin setiap minggu.” Ucap Bibik mengagetkanku. Dialah Bibikku, sepupu Emak dari kakek.
 “Biar, Bak, nggak usah di kunjungi setiap setengah bulan. Setiap bulan juga nggak apa-apa.” Ucap Bibiku pada Emak.
 “Emangnya berapa hari ujiannya Dek?” Tanya Emak pada Bibik.
 “Sepuluh hari Mbak. Habis itu langsung bazaar.” Jawab Bibik. Aku hanya diam. Lamunanku masih terpatri suasana pondokku.
 “Kan Cuma sepuluh hari, masak masih minta dikunjungi lagi. Habis itu kan setelah itu ‘nggak ada’.”
 “Maksud Emak setelah itu nggak ada. Berarti Fany tetap….” Ucapku tercekat. Emak hanya mengangguk, mengiyakan dugaanku. Segera kusandarkan tubuhku ke tembok, berharap akan segera mendapatkan ketegaran tumk menghalau segala rasa yang sedang berkecamuk di jiwa. Kini aku baru mengerti ternyata yang dimasud emak dengan ‘pindah’ hanya pindah untuk sementara bukan untuk seterusnya. Tapi hanay selama aku mondok saja.
 “Ya sudah , kalau begitu Fany pulang aja ke rumah, Mak. Toh di sini juga hanya untuk sementara.” Ucapku memberi keputusan. Ingin rasanya aku berkata; aku tak mau ikut ujian. Untuk apa? Toh setelah itu aku akan berhenti juga. Paling rapor itu hanay akan terpajang di atas lemari dan menjadi sarang tikus dan kecowa. Tapi aku tak tega untuk mengucapkannya.
 “Terus ujiannya gimana? Katanya nggak boleh kalong.”
 “Biar Fany numpang di rumah Oom Herman saja. Di sana masih termasuk radius kok. Jadi Emak nggak usah hawatir.” Emak hanya diam. Kutolehkan kepala. Ternyata Emak menatapku lekat. Ada segurat resah yang terpancar di sana. Namun, begitulah Emakku. Kutau dia pasti terpaksa dan tak tega untuk melakukan semua ini. Keadaanlah yang memaksanya untuk berbuat begitu. Kutau Emak sangat menyayangiku. Tapi dia tidak akan mengucapkan kata sayang ataupun ungkapan yang lainnya padaku. Mungkin itu adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan baginya.
 Dan disinilah aku sekarang,termenung menangisi nasib. Berhenti mondok dan menumpang di rumah orang. Beginilah jalan taqdir. Hari ini kita tertawa,esok mungkin kecewa. Hari ini bahagia, mungkin lusa terluka. Detik ini kita masih bernafas, semenit lagi mungkin kita binasa. Maka nikmatilah setiap harimu. Berbuatlah selama kau masih bisa. Jangan pernah diam. Karena ketika kau diam,maka saat itulah kau telah mati.
 “Fan. Lho kok nggak belajar, katanya besok ujian? Ayo pulang, sebentar lagi bukit ini gelap lho…” kata Oom Herman membuyarkan semua lamunanku. 

Otak Antara Keyakinan, Keinginan, dan Kemampuan

Judul buku: Menjaga Otak Anda Agar tetap Hidup!
Pengarang: Lawrence C. dan Manning R.
Penerbit: Think, Jogjakarta
Tebal Buku: 182 halaman 
Tahun Terbit: Januari, 2009
Coba kita perhatikan tubuh kita baik-baik. Semuanya sangat sempurna dibandingkan makhluk Allah yang lain. Kita punya dua kaki agar bisa berjalan dengan tegak, punya jemari agar bisa menggenggam dengan mudah, punya mata untuk menatap sesuatu tanpa harus mengatur focus, punya mulut untuk berbicara dengan kendali volume tanpa storing. , punya telinga untuk mendengar dengan baik dan jelas. Dan kita sebagai manusia juag mempunyai sifat mendasar yang sama, yaitu; menyukai keindahan, ketentraman , ketenangan, dan kebahagiaan. Bahkan yang paling dahsyat dan mencengangkan, ternyata dalam tubuh kita terdapat sebuah mesin pengatur yang sangat canggih. Bahakan lebih canggih dari computer tercanggih di seluruh dunia. Dialah otak.
Otak merupakan suatu organ pengontrol utama tubuh, yang terletak di kepala dan dilindungi oleh tengkorak. Terapung di cairan serebospinal yang memberikan perlindungan ekstra, karena cairan ini bisa menstabilkan getaran. Otak manusia adalah organ tubuh yang memiliki peluang dan kesempatan tak terhingga. Ia memiliki hampir semiliar sel dan dia dapat menyimpan data sebanyak-banyaknya tanpa takut akan terkena firus. Otak mempunyai kapasitas penyimpanan sampai 180 quintillion bit (28.000.000.000.000.000.000). coba kita bayangkan berapa hardisk yang terpasang di kepala kita. Jadi kita jangan pernah meremehkannya.
Realitanya, selama ini banyak yang beranggapan bahwa kecerdasan kita itu memang bawaan dari lahir atau dari gen. Sehingga tak jarang kita mendengar kata-kata; “ Wah… itu mah memang dari sononya pinter. Lihat aja tuh bapak, ibunya,” ketika ada salah satu atau beberapa teman kita memebicarakan tentang kepintaran dan prestasi yang diraih oleh teman yang lain. Bahkan, yang lebih parah lagi mengakarnya anggapan bahwa, semakin tua umur kita, maka semakin menurunlah fungsi atau daya ingat otaknya. Hal itu telah membuat kita ragu untuk melakukan sesuatu demi mencapai keinginan kita. Padahal seandainya kita mau menfungsikan otak secara maksimal, maka otak kita bisa menjadi komputer tercanggih diseluruh dunia. Tinggal bagaimana cara kita mengaplikasikan komputer yang ada di otak kita. Nah, yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana cara kita menghilangkan prasangka atau keyakinan yang berbau negative (salah) di otak kita?
Hal ini (keyakinan yang negative) kalua hanya dipikir sepintas lalu saja bukan masalah yang berat, bahkan termasuk sepele. Tapi ternyata hal yang kita anggap sepele itulah yang terkadang berdampak besar. Seperti anggapan bahwa kecerdasan itu adalah warisan nenek bapak ibu kita (genetic). Jadi kita yang hanya punya prestasi pas-pasan di kelas tak mungkin punya potensi untuk menjadi rengking kelas, apalagi jadi siswa percontohan (teladan). Nah, ketika ada pandangan seperti itulah , maka otak akan berprogram menjadi seperti yang ada dalam pikiran atau keyakinan kita. Hal itu tak lain karena otak kita dirancang oleh Allah SWT. Sebagai mekanisme sukses. Padahal, semua tergantung pada kemauan kita. Kalau kita yakin dan punya keinginan untuk sukses, maka dengan sendirinya kita akan semangat dalam berusaha untuk mencapai apa yang kita inginkan. Dan pada saat itulah fungsi otak dan daya tampung dan semua potens otak yang lain dapat berkantaminasi, sehingga apa yang diyakini dalam otak kita akan mudah untuk dicapai. 
Lalu pertanyaannya, bagaimana metode menjaga kualitas dan kekuatan otak manusia yang berusia panjang? Bagaimana pula cara membuat otak terus hidup dan bekerja optimal? Dan apakah kecerdasan kita itu memang bawaan dari lahir?
Buku Menjaga Otak Anda tetap Hidup!, ini akan menjawab semua pertanyaan di atas. Dalam buku tipis ini, Lawrence C. dan Manning R. telah menjelaskan secara detail tentang bagaimana cara kita menjaga otak agar tetap bugar dengan menggunakan neurobik. Neurobik adalah sebuah program yang didasarkan pada ilmu pengetahuan yang membantu kita mengubah tingkah laku dengan memperkenalkan hal-hal yang tidak terduga pada otak kita dan mendapatkan bantuan dari semua indra kita dalam menjalani hari (hal.50). 
Buku Menjaga Otak Anda Agar tetap Hidup! ini, memberikan arahan bagaimana kita melatih otak agar semakin cerdas dengan menfungsikan kegiatan yang biasa kita lakukan setiap hari agar menjadi kegiatan yang dapat menambah fungsi otak. Jadi tak usah takut pikun, karena di dalam buku ini sudah ada cara gampang agar otak kita tetap segar meski dalam usia tua. Para ilmuan telah menemukan metode jitu bagaimana kita mempertahankan kesehatan dan kebugaran otak kita. Karena tak hanya tubuh yang harus dijaga dan dipelihara kebugarannya, otak pun membutuhkannya.
Buku ini juga telah menghasilkan sebuah sintesis yang sangat penting—tentang seluk-beluk otak—dengan menggunakan metode neurobik (berdasarkan ilmu pengetahuan yang pasti), tujuannya tak lain hanya untuk memberikan jalan (baca: cara) agar kita bisa menjaga dan mempertahankan kebugaran otak dan mintal kita, meski dalam usia tua (lansia). Hanya dengan melatih 83 jenis saraf kita, kini para orang tua dan lansia bisa benar-benar menjadi “Lebih tua itu lebih bijak”.
Mulai sekarang, ayo kita benahi diri dengan keyainan baru bahwa kita bisa melakukan apa aja dengan otak kita yang super canggih, dengan menggunaka metode neurobik ini. Satukan antara keyakinan keyakinan dan keinginana dalam satu tujuan, agar kita bisa menfungsikan kemampuan kemampuan otak kita dengan maksimal. Ayo kita olah dan simpan data sebanyak-banyaknya dalam otak kita. Otak kita dengan segala kemampuan yang ia miliki tidak akan pernah kekurangan tempat untuk menampung data-data atau file-file yang kita simpan. Selain itu, kita tak usah takut data dan file itu akan terkena firus.
Dengan bahasa yang sederhana serta contoh yang sangat mudah—yang diambil dari kegiatan kegiatan sehari-hari—menjadikan buku ini mudah dipahami tanpa harus membuat “kriting” rambut dan otak kita. Buku ini juga sangat cocok di konsumsi oleh setiap kalangan, baik oleh remaja ataupun dewasa. 
Mulai sekarang tak perlu takut pikun—meski usia sidah lanjut—jika ingin “membuka” memori dan “mengambil” file yang telah kita simpan di “komputer” kita, tak perlu mengklik kanan, plih properties folder yang kamu inginkan dan klik file-nya untuk membuka nya. Cukup ingat maka semuanya akan teringat, cukup berpikir maka semua akan terpikir tanpa harus menginstal soft ware baru untuk mengenal file yang ingin kamu proses. Semua data akan ter-save aman tanpa takut terserang virus. Listrik padam nggak masalah, dihidupkan kapan saja boleh. Hanya satu yang perlu kita ingat; lakukan latihan neurobik untuk meng-instal dan mer-refresh “komputer” kita. Jadi, bagi kamu-kamu yang gak pengen pikun, rugi banget kalo’ sampe’ nggak baca buku ini. Wallahu a’lam.

Rahasia Tuhan

Pria muda itu bernama Ar-Rayyan, yang akrab disapa Ryan. Meski usianya masih sangat muda, tapi kepintaran dan kecerdasannya tak bisa dipungkiri. Dalam usianya yang masih sangat muda, dia telah memimpin dua perusahaan sekaligus. Selain itu dia juga dikenal sebagai orang yang pintar dalam tulis menulis. Artikelnya sering mampang dibeberapa media. Tulisannya selalu berbau pemberontakan dan sindrian terhadap segala tipu daya yang dilakukan oleh pemerintah lewat kebijakannya. Jadi tak heran jika dia sering berurusan dengan polisi karena tulisan-tulisannya. Selain itu Ryan juga terkenal sangat dermawan dan peduli terhadap nasib orang rendahan. Sikapnya yang ramah dan bersahaja, semakin menambah karismanya, baik di mata para karyawan atau pun di mata rekan bisnisnya. Dengan segala kesuksesan yang telah diraihnya dalam usia yang terbilang cukup muda, pantaslah jika Ryan dibilang seorang pria yang hampir sempurna, dan menjadi impian setiap wanita. Tapi sayang, sampai detik ini dia belum berkeluarga. Padahal dia termasuk salah satu pria dengan jumlah surat cinta terbanyak sejak dia masih duduk di bangku kuliah.
 “Assalamualaikum…!” ucap seseorang sambil mengetuk pintu. Ryan terperanjat dari lamunannya. Dengan cepat diletakkannya foto ditangannya ke dalam laci.
“Waalaikumsalam,” Ryan menjawab salam. Pintu terbuka, seorang wanita dengan busana rapi menyembul di balik pintu. Ryan terpana menatap gadis itu. Gadis yang selama ini telah mampu mencuri hati Ryan, dan memenjaranya dalam sebuah ruang yang penuh harap. Ya, gadis itulah yang berada di foto tadi.
“Maaf, Pak kalau mengganggu. Ini file-file yang harus ditanda tangani oleh Bapak.” Ucapnya lembut penuh santun.
“Oh…iya. Silahkan duduk dulu,” ucap Ryan mempersilahkan. Rany, yang bernama lengkap Maharany itu duduk. Ryan mulai membolak-balik berkas-berkas di hadapannya sebelum menanda tanganinya. 
“Bagaimana dengan perusahaan Sinar Jaya itu? Apa Bayu sudah memeberi kabar? Terus apa kamu membawa catatan keuangannya yang dari sana? Soalnya mereka complain ke saya, katanya sudah tiga bulan terakhir ini jumlah barang yang mereka dapat tak sesuai dengan jumlah barang yang mereka pesan,” Tanya Ryan sambil menanda tangani berkas-berkas di hadapannya.
“ Bayu belum memberi kabar apa-apa, Pak. Masalah catatan keuangannya saya sudah cek. Uang yang mereka berikan memang sesuai dengan yang mereka sampaikan pada Bapak. Dan jumlah barang yang dikirim dari sini juga sudah sesuai dengan jumlah pesanan mereka. Tapi,setelah saya cocokkan catatan pengeluaran barang dengan catatan jumlah barang yang diterima oleh perusahaan itu, memang ada selisih yang cukup besar.bahkan, hampir separuh, Pak.”
“Maksud kamu?” Tanya Ryan tak mengerti.
“Iya, Pak. Keluhan mereka itu memang benar. Dalam buku penerimaan barang itu memang tercatat tidak sesuai dengan jumlah barang yang tertera dicatatan jumlah pengeluaran barang. Hal itu baru saya ketahui tadi malem setelah saya membongkar lemari tempat file-file yang ada di pojok ruangan kerja saya. Saya tau, kalau lemari itu sebenarnya tak boleh dibuka. Tapi saya terpaksa membukanya untuk mencari data yang berkaitan dengan perusahaan ini sebelum perusahaan ini dipegang Bapak,” Rany menjelaskan panjang lebar. Alis Ryan semakin berkerut pertanda mendengar penuturan Rany.
“Lho… bukankah di buku tanda terima itu jumlah yang diterima sudah sesuai dengan jumlah yang mereka pesan?”
“Tidak, Pak. Itu catatan palsu. Saya menemukan catatan yang asli di lemari itu. Ini dia catatannya, Pak.” Kata Rany sambil menyodorkan buku di tangannya. Lalu dia membandingkan antara buku catatan yang ditemukannya dengan buku catatan yang semula. Ryan memperhatikannya dengan seksama, menikmati wajah ayu di hadapannya. 
“Jadi, kamu yakin ada yang sengaja melakukan ini semua?”
“Iya, Pak. Saya yakin sekali. Meski sampai sekarang saya tidak bisa menduga, siapa yang ada di balik semua ini.” 
“Lalu, kirakira kenapa orang itu melakukannya? Apa gaji yang diberikan oleh perusahaan ini belum cukup? Atau dia ingin menghancurkan perusahaan ini?” 
“Bisa saja dugaan itu benar, Pak. Karena saya yakin, yang melakukan ini pasti orang yang sudah mengetahui betul seluk beluk perusahaan ini. Lihat saja, pemalsuan tanda tangan Bapak dan tanda tangan derektur perusahaan Sinar Jaya, bahkan cara dia menyimpan catatan yang asli ini di lemari itu sudah menunjukkan kalo orang itu sudah lama berada di kantor ini.”
“Kalau begitu, kamu selidiki siapa yang melakukannya. Kalau ada hal-hal yang mencurigakan, segera kasih tau saya. Kita harus bergerak cepat. Tapi,untuk sementara jangan sampai ada yang tau tentang hal ini. Cukup kita berdua saja. Baru setelah jelas orangnya siapa, kita kasih tau yang lain.”
“Baik, Pak,” jawab Rany sambil mengangguk. Dia memang sudah hampir tiga tahun bekerja menjadi asisten Ryan. Dia merasa cocok menjadi asisten Ryan. Karena Ryan selalu memberi keleluasaan baginya untuk berpendapat. Padahal dia tau, Ryan sangat cerdas. Jadi dia tak perlu bertanya pada siapapun tentang langkah apa yang harus dia ambil. Apalagi dia adalah pemimpin di perusahaan ini. Tapi, Ryan tak melakukannya. Sikap itulah yang membuat Rany semakin mengaguminya.
“Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak.” Lanjut Rany.
“Oh iya, silahkan,” jawab Ryan. Rany mulai beranjak dari kursinya.”Eh, Ran. Tunggu!” seru Ryan cepat. Rany yang sudah di ambang pintu segera menoleh.
“Apa nanti malem kamu ada acara?” Tanya Ryan tiba-tiba. Ryan berdiri menunggu jawaban. Rany berbalik.
“Emangnya ada rapat entar malem, Pak?” Tanya Rany sambil mengingat-ngingat mungkin dia lupa.
“Oh... nggak. Saya hanya… hanya pengen ngajak kamu makan malem,” ucap Ryan. Dalam hati dia ragu, takut ajakannya itu membuat tersinggung hati wanita berjilbab di hadapannya.dan karena hal itulah Ryan tak pernah berusaha untuk pedekate dengan orang yang sangat dicintanya. Bahkan, sejak saat interview Ryan sudah kagum melihat ketenangan dan kecerdasannya dalam menjawab semua pertanyaan Ryan.
Duh… kamu kok nggak ngerti juga ya, Ran bagaimana perasaanku sebenarnya padamu? Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku harus bersikap seperti apa agar kau mengerti perasaanku tanpa harus mengungkapkannya. Aku memang benar-benar tak bias dan tak tau untuk membahasakan perasaanku padamu. 
“Emm… pasti Bapak mau ngomongin masalah yang tadi di luar ya?” terka Rany. Seandainya Pak Ryan tak hanya mengajakku untuk membahas masalah kantor... Astaghfirullah… apa-apan aku ini, itu kan dosa? Samar Rany mengusap dadanya.
Ternyata kau benar-benar tak mengerti gadis kecil…! Keluh hati Ryan.
“Tapi, ma’af ya, Pak. Rany gak bisa. Ibu Rany sedang sakit. Jadi, Rany harus menemaninya di Rumah,” lanjut Rany dengan raut muka bersalah.
 “Oh… gak pa-pa. mungkin lain kali saja. Ngomong-ngomong, sejak kapan ibumu sakit?” 
.
“Sejak tiga hari yang lalu, Pak. Masalah yang tadi, kalo ada perkembangan biar Rany langsung lapor sama Bapak besok,” kata Rany yang masih mengira Ryan mengajaknya makan malam hanya untuk membicarakan masalah itu. Ryan terdiam, seolah ada yang sedang dia pikirkan.
“Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak. Assalamu’alaikum,” ucap Rany.
“Waalaikumsalam.” Jawa Ryan. 
Ibu Rany sakit. Bagaimana bisa Bayu tak memberi tauku tentang hal itu? Apalagi, ibu Rany sudah tiga hari sakit. Kemana saja Bayu selama ini? Bukankah dia sudah kutugaskan untuk mencari tau semua hal yang berkaitan dengan Rany? Karena aku benar-benar mencintai Rany dan ingin menikahinya. Bagaimana bisa hal sepenting itu Bayu tak melaporkannya padaku? Tanya Ryan dalam hati.
***
Rany semakin dekat dengan Ryan. Meski yang dibahas cuma seputar masalah kantor. Tapi, Ryan selalu mencari cara untuk bisa dekat dengan Rany. Pernah suatu ketika, Ryan nekat datang ke rumah Rany dengan alasan ada sesuatu yang ingin dia tanyakan berkaitan dengan kasus di kantor. Padahal yang sebenarnya dia ingin menjenguk ibu Rany yang sedang sakit. Rany sempat tersanjung Ryan mau menjenguk ibunya. Tapi ternyata, Ryan hanya mau menanyakan kasus itu. 
Akhirnya… Rany berhasil mengungkap kasus penyelundupan di kantornya. Pelakunya tak lain adalah orang yang bertugas mengirim dan mengantarkan barang-barang tersebut. Dia bekerja sama dengan sopir truk yang menjadi transportasi barang-barang itu. Tujuannya tak lain agar perusahaan yang menjadi relasi perusahaan Ryan tak percaya lagi dan mencari relasi lain. Ternyata bukan hanya barang-barang yang mereka selundupkan. Tetapi juga saham-saham yang lain. Tapi,untunglah pelakunya bisa cepat ditemukan. 
 Ryan mundar-mandir di ruangan kerjanya. Alisnya berkerut seolah sedang memikirkan sesuatu. Ada kecemasan dan tanda Tanya besar yang terlihat di raut wajahnya. Tapi,bukan masalah kasus di kantor yang membuatnya seperti itu. Melainkan karena hari ini Rany tak masuk. Kemaren Rany hanya menelpon untuk izin satu hari. Itu pun bukan Rany yang menelpon, tapi Rika teman satu kontrakan. Rany adalah karyawan yang sangat rajin dan tak pernah bolos kerja. Kalau berhalangan, pasti dia akan menelpon untuk minta izin. Tapi, hari ini tidak. Dia tak memberi kabar apa-apa, dan tak ada yang tau mengapa dia tak masuk. Bahkan Bayu yang disuruh untuk memata-matainya pun tak tau. Apalagi Bayu sekarang lagi ke luar kota. Ryan semakin gelisah. Pikirannya kacau, sibuk menerka-nerka apa yang terjadi dengan Rany. Padahal hari ini dia telah berencana untuk mengenalkan Rany kepada keluarganya, dan langsung melamarnya. Akhirnya Ryan memutuskan untuk mendatangi tempat tinggal Rany.
***
Ryan sampai di kontrakan Rany jam 12.30. 
Hampir jam makan siang. Sekalian saja entar kuajak Rany maka siang bareng. Ucap Ryan dalam hati. Dia semakin cepat melangkah. Mobilnya diparkir dipinggir jalan. Namun, baru saja Ryan akan mengetok pintu. Rany sudah muncul dengan membawa koper besar. Ryan terkejut bukan main, begtu pun Rany. 
 “Rany mau kemana?” Tanya Ryan cepat. Rany tak menjawab. Dia hanya menunduk menekuri lantai.
“Mari masuk dulu ke dalam, Pak,” ucap Rany sopan. Ryan menerima tawaran Rany. Sampai di dalam semua sudah tertata rapi.seolah Rany akan meninggalkan rumah kontrakan itu. Kamar ibu Rany pun tertutup rapat.
“Ibu Rany kemana? Kok pintunya di tertutup? Apa beliau di rawat di rumah sakit?” Tanya Ryan kemudian. 
Ibu Rany telah dipanggil Allah kemaren, Pak,” ucap Rany sambil tertunduk dalam. Kesedihan terpancar dari raut wajahnya. Bahunya berguncang menhan tangis.
“Innalillahi wainnailaihi raaji’uun…” ucap Ryan. “Jadi, karena itu Rany gak masuk kantor kemaren? Terus… kenapa Rany tak memberi tau saya, kalo ibu meninggal?” Tanya Ryan.
“Maafkan Rany, Pak. Kemaren Rany tak sempat berpikir ke arah itu. Untuk izin saja Rany lupa,” jawab Rany terbata. Bahunya semakin berguncang. Ryan semakin bingung untuk bersikap. Dia tak tau bagaimana cara menenangkan seorang perempuan. Karena selama ini dia tak pernah dekat dengan seorang perempuan kecuali dengan ibunya. Saudara perempuannya telah hilang sejak masih kecil,saat terjadi banjir yang besar. Dan sampai sekarang tak ada yang tau, gadis kecil_-begitu Ryan memanggil adeknya__ itu masih hidup atau telah mati. Karena saat banjir itu terjadi Ryan masih berumur Sembilan tahun dan Adeknya berumur lima tahun. 
“Lalu, sekarang Rany mau pergi ke mana?” tanya Ryan sambil melihat beberapa tas yang berjejer di dekat pintu.
“Sebenarnya, Rany juga gak tau mau pergi ke mana, Pak. Masa kontrak rumah ini sudah habis, dan Rany sudah tak punya siapa-siapa lagi di sini.” 
“Ran. Menikahlah denganku Ran. Lalu tinggallah bersamaku di rumah.” Ucap Ryan tiba-tiba. Rany terperanjak mendengarnya. kepalanya terangkat. Matanya lekat menatap mata Ryan.mencoba memastikan kalau apa yang didengarnya tak salah. 
“Menikahlah denganku, Ran. Sebenarnya aku ke sini untuk mencarimu. Karena nanti malam ortuku menyuruhku membawamu ke rumah. Mereka ingin mengenaLmu langsung. Bukan hanya dari ceritaku.”
“Maaf, Pak. Rany tau kalau Bapak itu orang yang sangat baik. tapi, Rany mohon jangan hanya karena kasihan sama Rany, lantas bapak mau mengorbankan hidup bapak.”
“Tidak, Ran. Saya serius. saya memang sangat mencintai kamu dari dulu. Tapi saya tidak mengatakannya, karena saya masih mau mencari waktu yang tepat, sekalian saya ingin mengenalmu lebih dalam. Dan, sekaranglah saat yang tepat untuk itu.”
“Tidak, Pak. masih banyak orang yang lebih pantas mendampingi Bapak. Di kantorpun banyak perempuan cantik, pinter, dan sederajat dengan Bapak. Jadi, untuk apa bapak berpura-pura cinta sama Rany, hanya untuk menolongku. Rany yakin, bapak hanya terbawa emosi.”
“Saya serius Ran. Saya tidak main-main. Saya memang sudah dari dulu mencintai Rany. Saya tau, masih banyak perempuan yang jauh lebih cantik dari Rany. Tapi, saya mencintai Rany bukan karena itu semua. Saya mencintai Rany bukan karena alasan apa-apa, karena saya juga tak tau kenapa saya mencintai Rany. Yang jelas saya sangat suka dengan kepribadian Rany,” kata Ryan meyakinkan. Rany terdiam tak menjawab. Dia masih belum percaya akan apa yang didengarnya. Meski dalam hati kecilnya, dia sangat berharap apa yang dengarnya bukan hanya mimpi belaka. Karena jujur, Rany pun menyimpan perasaan yang sama dengan Ryan selama ini. Tapi, dia tau diri, siapa dia dan siapa Ryan.
“Apakah Rany mau menjadi pendampingku dan menjadi ibu dari anak-anakku?” Tanya Ryan kemudian. Rany hanya diam terpaku di tempat.” Kalau diam, berarti ‘iya’. Begitukan menurut Hadits Nabi?” lanjut ryan sambil tersenyum.
***
“Assalamualaikum…” ucap Ryan ketika sampai di rumahnya. 
“Wa’alaikum salam…” jawab ibunya dari dapur. Ryan melangkah dengan riang manuju arah suaru ibunya. Wajahnya bersinar seperti mentari pagi. 
“Bu, tebak. Ryan bawa siapa?” Tanya Ryan sambil mencium tangan ibunya. Ibunya melihat Ryan dari atas sampai bawah. Tapi ada satu barang pun yang Ryan bawa. 
“Bukan di situ, Bu. Tapi di sini…” kata Ryan sambil menyingkir. Tampaklah wajah ayu yang sedang tersenyum manis. Ibu Ryan terpana melihat Rany. ada kebahagian yang menjalari hatinya. Seolah dia sudah lama mengenal Rany. Rany segera menunduk dan mencium tangan ibu Ryan.
“Gimana, Ryan gak boong kan, Bu? Dia memang wanita impian Ryan,” bisik Ryan pada ibunya. 
“Kamu salah, Ryan. Dia bukan perempuan impian kamu...” kata ibu Ryan. Ryan kaget mendengarnya. ”Tapi dia adalah menantu idaman ibu,” lanjutnya. Ryan memeluk ibunya erat. Rany hanya bisa tersipu di tempat.
“Ayo, Nak ke ruang keluarga dulu. Kebetulan Bapak Ryan juga sudah nunggu di sana. Sekalian kita makan siang bersama. Tapi, ibu tidak masak apa-apa lho... Ryan bilang masih entar malem dia mau bawa kamu ke sini. Dasar curang,” kata ibunya Ryan sambil pura-pura menjewer anaknya. Ryan pura-pura mengeluh ke sakitan. Lalu berlalu membawa Rany ke ruang keluarga. 
“Assalamu’aliakum, Pa. Ryan bawa Sesuatu lho… untuk Papa,” kata Ryan ketika sampai di ruang keluarga. 
“Waalaikum salam. Bawa apaan sih? Kok kayaknya special banget?” papa Ryan balik bertanya sambil meletakkan buku yang dibacanya.
“Emang special banget. Lihat, Ryan Bawa calon menantu Papa,” kata Ryan sambil menyingkir. Papa Ryan langsung mendongak.
“Assalmualaikum, Om,” sapa Rany sopan. Tangannya terkatup di depan dadanya.
“Waalaikum salam,” jawab Papa Ryan. Tangannya juga dikatupkan di depan dadanya. Ayo, silahkan duduk,” lanjutnya mempersilahkan Rany duduk. Ryan mencium tangan papanya lalu duduk di sampingnya.
“Kamu ini, janjinya masih nanti malem bidadarinya mau dekenalkan sama papa dan mama. Kok malah sekarang?” katanya sambil mengusap kepala anaknya. 
“Biasa… kejutan buat papa dan mama. Oh ya, gimana sama persis seperti yang diceritakan Ryan kan, Pa?” Tanya Ryan sedikit berbisik.
“Ngagak sama persis… tapi lebih,” kata papanya sambil tersenyum hangat. “Kamu memang pinter kalo di suruh milih. Tak percuma papa dan mamamu menunggu lama untuk berkenalan langsung,” lanjutnya. Rany semakin tersipu. Rany benar-benar tak menyangka kalau sikap Ryan di rumah beda jauh dengan yang di kantor. Masih suka manja. Benar-benar keluarga yang sangat harmonis. 
Rany menatap kearah sekitar. Rumah Ryan berlantai tiga dan sangat luas. Sangat besar dan mewah. Tiba-tiba mata Rany tertuju pada sebuah foto yang terpajang di dinding. Foto keluarga dalam ukuran yang sangat besar. Sepasang suami istri dengan dua orang anak sedang tersenyum di sana. Namun, bukan foto itu yang menarik perhatian Rany. Melainkan kalung leontin yang dikenakan oleh kedua anak itu. Rany bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan mendekati foto itu. Matanya lekat menatap foto itu. jemarinya mulai menyentuh foto di depannya. 
“Ada apa, Ran?” tany Ryan. Rany terkejut, dia menatap wajah Ryan sekilas,lalu beralih pada papa dan mama Ryan. Matanya memancarkan ketakutan yang sangat,. Seolah dia baru melihat hantu.
“Ini foto keluarga kami,” kata mama Ryan tanpa di tanya.
“Dan ini foto anak ami yang hilang. Adeknya Ryan,” papa Ryan menimpali. Rany menunduk, matanya mulai mengembun. Ryan dan keluarganya bingung danganperubahan sikap Rany.
“Ada apa, Nak,” Tanya ibu Ryan sambil mengusap jilbab putih yang dkenakan Rany. “Bicaralah pada kami,”lanjutnya. Rany mengangkat kepalanya perlahan. Tanganya menyibak jilbab putih yang menutupi dadanya. Lalu….
“Astaghfirullah…” pekik Papa dan Mama Ryan hampir bersamaan. Kalung leontin yang sama persis dengan yang dipakai oleh kedua anak di foto itu melingkar manis di leher Rany. Rany semakin menangis, begitu pun dengan Papa dan Mama Ryan. Mereka lalu menarik Rany ke dalam pelukannya. Ryan masih diam tak bereaksi. Segala rasa berkecamuk di dadanya. Perlahan air matanya mulai luruh. Entah, itu air mata bahagia atau air mata derita dan kecewa.
Dia gadis kecilku… 

ISLAM DAN KESETARAAN GENDER

(Dinamika Partisipasi Politik Perempuan yang Terpinggirkan)


Pendahuluan
 Sejauh ini masyarakat selalu berpandangan bahwa perempuan berada di bawah laki-laki dalam segeala bidang. Baik di bidang ilmu, politik, dan sebagainya. Kebiasaan masyarakat beranggapan bahwa ruang lingkup (gerak) perempuan hanya di tiga tenpat, yaitu: tempet tidur, dapur, dan sumur. Kebiasaan tersebut kemudian berubah menjadi pandangan-pandangan yang sulit diubah. Kebisaan-kebiasaan tersebut mungkin hanya sebuah pemahaman yang dangkal tentang tanggungjawab dan kewajiban seorang perempuan. Seperti halnya memasaka. Seakan-akan memasak menjadi keharusan bagi perempuan. Padahal sama sekali tidak. Rudy Khoirudin, seorang koki terkenal di Indonesia jelas-jelas bukan seorang ibu.
Memang pada hakikatnya perempuan berada di bawah laki-laki, tapi itu dalam ruang lingkup keluarga. Laki-laki adalah pemimpin rumah tangga. Allah berfirman dalam Al-Quran bahwa, ”derajat seorang laki-laki lebih tinggi daripada perempuan”
Mengenai ayat Al-Quran di atas kita harus mengkaji ulang; melihat dan mengartikan dari pendapat para mufassir Al-Quran seperti Jalaluddin As-Sayuti, Quraisy Syihab, dan sebagainya, agar kita tahu terhadap peristiwa yang melatarbelakangi atau asbabun nuzulnya. Supaya kita tau dengan jelas kapan, di mana, dan dalam hal apa saja laki-laki lebih tinggi derajatnya daripada perempuan. Agar tidak ada kesalahan dalam mengartikan ayat itu secara luas (istilah).
Tidak dapat dipungkiri, memang ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan karena laki-laki dan perempuan memiliki kodrat masing-masing. Perbedaan itu terlihat nyata dari segi biologis. Dalam Al-Quran telah difirmankan, “Janganlah kamu iri hati terhadap keistimewaan yang dianugerahkan Allah terhadap sebagian kamu atas sebagian yang lain. Laki-laki mempunyai hak atas apa yang diusahakannya dan perempuan juga mempunyai hak atas apa yang diusahakannya” (QS. An-Nisa’: 32)
Dari ayat tersebut mengisyaratkan bahwa antara laki-laki dan perempuan memang ada perbedaan dan masing-masing (laki-laki dan perempuan) memiliki keistimewaan. Meski demikian dalam ayat tersebut tidak disebutkan apa perbedaan dan keistimewaan tersebut. Namun demikian, dapat dipastikan bahwa perbedaan yang terdapat pada keduanya (laki-laki dan perempuan) tentu berhubungan erat dengan tugas atau fungsi utama yang harus diemban oleh—mereka—masing-masing. 
Di sisi lain, dapat dipastikan pula bahwa tidak ada perbedaan dalam tingkat kecerdasa dan kemampuan berfikir anatara kedua jenis kelamin tersebut. Allah telah memerintahkan kepada manusia untuk berpikir tentang ciptaan Allah, dan melarang untuk berpikir tentang dzat Allah. Hal tersebut merupak isyrat kepada manusia agar selalu berdzikir dan berpikir tentang kejadian langit dan bumi. Kedua hal tersebut (berdzikir dan berpikir) akan mengantarkan kita untuk mengetahui rahasia-rahasia alam raya. Allah memuji orang yang berzdikir dan berpikir, hal itu tidak terbatas pada kaum laki-laki saja, tetapi kaum perempuan juga termaqsuk di dalamnya. Tak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan di hadapan Allah, yang membedakan diantara keduanya hanya amal yang dikerjakannya. Hal tersebut telah dijelaskan dalam Al-Quran, “Maka Tuhan mereka mengabulkan permintaan mereka dengan berfirman; “Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik lelaki maupun perempuan”. (QS. Ali Imran: 195).
Itu berarti bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan sejajar dalam potensi intelektualnya, mereka juga dapat berpikir, mempelajari kemudian mengamalkan apa yang mereka dapatkan dari berdzikir dan berpikir tentang alam semesta ini.  
Dewasa ini, kesetaraan antara laki-laki dan perempuan (gender) memang menjadi poko bahasan yang paling panas. Berbagai opini dari sudut pandang yang berbeda-beda berhamburan dari berbagai kalangan. Sebagian berpendapat; hak antara laki-laki dan perempuan adalah sama, baik di bidang ilmu, politik, ekonomi, dan sebagainya. Sebagian lagi berpendapat sebaliknya; hak laki-laki dan perempuan tidak sama, baik di bidang ilmu, politik, ekonomi dan sebagainya.

Pembahasan
Di berbagai belahan dunia pandangan masyarakat hampir sama yaitu, menganggap perempuan adalah makhluk lemah, yang keberadaannya tidak lebih hanya untuk melayani laki-laki dewasa. Anggapan tersebut telah memebudaya dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan tanpa mempertahankan dan memperhatikan ajaran agama. Apakah hal itu sesuai dengan agama atau tidak. Sehingga hal tersebut melahirkan kesadaran ketertindasan kaum perempuan.
Kesadaran ketertindasan inilah yang menjadikan feminisme memiliki karakter ”memihak” dan tidak jarang ”menggugat”. Bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa ”keberpihakan” feminisme terhadap nasib kaum perempuan ini ”diterjemahkan” sebagai ancaman bagi kaum laki-laki. Ironisnya, gerakan ini juga ”dianggap” mengancam kebanyakan perempuan yang merasa telah mapan dengan posisi tradisional mereka. Ancaman tersebut dapat dirasakan pada ranah individual, yaitu otoritas kultural seorang perempuan terhadap kontrol idiologis, politis, dan wacana. Kedua ranah ini secara tradisional telah ”diklaim” sebagai otoritas laki-laki termasuk otoritas wacana keagamaan. 
Dengan berbagai gelombang kontroversial yang ada, telah memicu perempuan untuk berontak dan melakukan segala cara untuk menunjukkan ketidaksetujuan mereka. Seperti kalangan perempuan Kristen dengan tegas dan konsisten telah mengonstruksikan suatu pendekatan feminis terhadap wacana keagamaan kontemporer. Sederet nama seperti Elizabeth Fiorenza, Yudith Plasko, dan Rosemary Redford Ruether, adalah sebagian kecil dari para pioner wacana teologi feminis Kristen. Kecendrungan menarik di Indonesia di mana wacana agama dan perempuan ramai dibicarakan. Tidak saja dikembangkan oleh kaum perempuan, tetapi juga oleh kaum laki-laki termasuk kalangan rohaniawan, pendeta, dan pastor.
Tetapi istilah teologi feminis tidak secara eksplisit digunakan. Mereka lebih cendrung menggunakan istilah perspektif perempuan dalam agama atau menggunakan analisis gender dalam agama ketimbang teologi feminis. Bukan berarto istilah gender tidak mendapat respon yang keras dari kalangan umat beragama di Indonesia, tetapi reaksi terhadap feminisme nampaknya lebih keras dibandingkan dengan istilah gender 
Banyak karangan yang dihasilkan oleh para ilmuan yang bisa dijadikan sebagai bahan kajian dalam menyikapi berbagai permasalahan seputar kesetaraan gender dalam islam. Pada hakikatnya bentuk-bentuk kesadaran yang dihasilkan dari analisa ilmu pengetahuan modern terhadap wacana keislaman klasik bukanlah sesuatau yang asing. Ide-ide revolutif yang dikembangkan oleh Eli Syariati mencerminkan bagaimana kesadaran untuk berpihak pada orang-orang tertindas (mustadl’afin) telah membuahkan revolusi di Iran (Ali Syariati) dalam Jalaluddin Rahmat, 1989 . 
Selama ini seakan ada ambivalensi di kalangan umat Islam dalam menyikapi ilmu pengetahuan modern. Pada ilmu-ilmu sains dan teknologi mereka dapat menerima dan menggunakannya tanpa hambatan psikologis yang berarti. Namun, tidak demikian halnya terhadap ilmu-ilmu sosial termasuk teologi. Ada banyak reaksi yang muncul ketika metode-metode ilmu sosial digunakan dalam kajian masyarakat muslim. Seperti dicatat oleh Kuntowijoyo (REPUBLIKA,1999) bahwa pada tahun 1982 diselenggarakan suatu seminar internasional untuk membahas apa yang disebut ”Islamisasi Pengetahuan”. Seminar ini bertujuan agar umat Islam tidak begitu saja meniru metode-metode dari luar dengan mengembalikan pengetahuan yang bermuara pada tauhit, hal tersebut dimaksudkan supaya ada koherensi agar pengetahuan tidak terlepas dari iman. 
Masih megacu pada islamisasi pengetahuan yang dilontarkan oleh Kuntowijoyo, konstruk teologi feminis Islam hendaknya tetap menjadikan iman sebagai bingkai (frame) atau niatan dalam menggunakan teologi feminis sebagai salah satu alat untuk menganalisa masalah-masalah yang muncul dari pengalaman keberagaman yang cendrung diskriminatif dari sudut pandang perempuan. 
Dalam historisitasnya, perbedaan gender terkonstruk melalui proses panjang yakni, dibentuk, disosialisasikan, dan dikonsolidasikan. Bahkan dikonstruksi secara sosial atau kultural melalui ajaran keagamaan. Semua proses yang mengkualitaskan ketidaksetaraan tersebut memproduksi ketidakadilan dan ketimpangan gender yang kemudian memanifestasikan ke dalam beberapa bentuk: stereotip, marjinalisasi, subordinasi, kekerasan. Kondisi dan posisi seperti ini tentunya berimplikasi dan mendeterminasikan peran perempuan untuk berpartisipasi dalam proses pembuatan kebijakan publik. Di samping itu juga menguatkan pandangan bahwa perempuan merupakan manusi kelas dua, sehingga politik bukan ranah bagi perempuan. 
Dalam fenomena yang ada meyebabkan seorang perempuan kurang berpartisipasi dalam bidang politik disebabkan juga karena anggapan masyrakat bahwa seorang perempuan berada di bawah laki-laki yang hanya bertugas mengurus kebutuhan laki-laki dewasa dan hanya pantas menyandang gelar sebagai ibu rumah tangga.
Lebih lanjut perbedaan akses pendidikan laki-laki dan perempuan berimplikasi pada diferensasi dan dominasi penguasaan IPTEK, akses informasi dan komunikasi, sehingga perempuan terlambat dalam membangun jaringan di wilayah publik. Informasi tentang politik selalu diterima berdasarkan perspektif laki-laki. Sehingga perempuan—yang terelimenasi—berasumsi bahwa politik menjadi fenomina di luar dirinya. 
Selain faktor di atas, dalam konteks lokal desa yang sebagian besar masyarakatnya adalah petani, maka faktor alam dan kultur petani mempengaruhi kehidupan sosialnya. Termasuk di dalamnya relasi gender. Di pedesaan yang mayorits\as bekerja di sektor pertanian yang menuntut kerja keras sangat mengedepankan peran laki-laki sebagai makhluk yang mempunyai kekuatan fisik dan ketahanan mental yang lebih ketimbang perempuan, sedangkan perempuan hanya berada di belakang (konco wingking). Pola pembagian kerja demikian ini acapkali disebut pola pembagian kerja secara seksual. Pola pembagian kerja secara seksual ini semula hanya terbatas dalam lingkup domistik (rumah tangga). Namun dalam prosesnya juga mewarnai dalam berbagai ruang sosial, budaya, dan keagamaan. Persolannya menjadi koplit karena aktifitas perempuan dalam berbagai kegiatan intitusi yang pada umumnya masih terbatas pada hal-hal yang selain ritual atau seremonial juga bias gender akibat ketidaksadaran dan ketidakberdayaan tentang hak-hak perempuan. 
Selain itu pandangan masyarakat desa bahwa seorang perempuan tidak perlu mengenyam pendidikan sampai taraf pendidikan tingga layaknya seorang laki-laki. Hampir tidak ditemukan seorang perempuan yang tidak menikah pada usia muda kecuali mereka yang berasal dari keluarga yang mempunyai pengetahun. Umumnya, para orang tua—yang berekonomi pas-pasan—akan memilih menikahkan anak perempuannya ketika ada yang meminang dari pada menyekolahkannya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Mereka beranggapan lebih baik menyerahkan putrinya kepada laki-laki yang mereka anggap mampu menjamin kesejahteraan putrinya daripada harus banting tulang demi menyekolahkan mereka (para perempuan). Hal itu dikarenakan mereka (para orang tua) beranggapan perempuan pada akhirnya hanya akan menjadi ibu rumah tangga. Jadi tak perlu berpendidikan tingi, cukup mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan dapur, sumur, dan kasur.
Anggapan-anggapan tersebut telah menyebabkan kekurangpahaman pada diri perempuan untuk mengukur potensi dirinya sendiri, sehigga menyebabkan mereka seolah kehilangan jati dirinya. Hal tersebut telah berimplikasi pada pola pikir perempuan—desa—sangat akrab dengan kepasrahan. Sehingga tidak menutup kemungkinan hal tersebut akan dimanfaatkan oleh kekuatan prioritas laki-laki, baik disengaja atau tidak.
Memang ada ayat yang menegaskan bahwa, “Kaum laki-laki itu adalah Qawwam bagi perempuan, karena Allah SWT telah memberikan kelebihan di antara mereka diatas yang lain, dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka” (QS. An-Nisa’: 34).
Namun, kepemimpinan ini tidak boleh disalah gunakan, dalam artian kepemimpinana tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk mengantarkan kaum laki-laki (suami) kepada kesewenang-wenangan, karena dari satu sisi Al-Quran memerintahkan untuk tolong menolong antara laki-laki dan perempuan dan pada sisi lain Al-Quran memerintahkan pula agar suami dan istri hendaknya mendiskusikan dan memusyawarahkan persoalan mereka bersama.
Sebagian Ulama’ menegaskan bahwa ayat itu (QS. An-Nisa’:34) sebagai dasar bagi pelarangan seorang perempuan manjadi pemimpin (duduk di kursi pemerintahan) dalam pandangan Islam. Namun, sebagian Ulama’ lain menentang dan menolak keras pandangan tersebut. Beberapa al;asan yang dinyatakan oleh mereka (para Ulama’) yaitu; pertama, bahwa ayat ini membicarakan tentangkepemimpinan di wilayah domestik, sehinnga ayat itu tidak bisa dijadikan sebagai dasar bagi kepemimpinan yang berada di wilayah publik. Kedua, bahwa ayat ini tidak bersifat normatif, tetapi bersifat tentang situasi dan kondisi masyarakat—Arab atau dunia—pada saat itu, sehingga tidak memiliki konsekwensi hukum. Ketiga, karena ada jumlah ayat lain yang mengindikasikan kebolehan kepemimpinan perempuan. Seperti dalam surat A-Taubah 71 yang artinya,“(Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan), yang ma’ru,f dan mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya”.  
Memberikan hak wilayah kepada perempuan atas laki-laki. Kata wilayah bisa berarti penguasaan, kepemimpinan, kerja sama dan saling tolong menolong. Keempat, rijal dalam ayat ini tidak berarti jenis kelamin laki-laki, tetapi sifat-sifat maskulinitas yang bisa dimiliki oleh laki-laki dan perempuan. Dengan keempat alasan ini, pernyataan bahwa Al-Qur’an melarang kepemimpinan perempuan tidak dapat dibenarkan.
Sepintas terlihat bahwa tugas kepemimpinan ini merupakan keistimewaan dan derajat tingkat yang lebih tinggi dari perempuan. Bahkan ada ayat yang mengisyaratkan tentang derajat tersebut yaitu firman-NYA, “Para istri mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf, akan tetapi para suami mempunyai satu derajat/tingkat atas mereka (para istri)” (QS. Al-Baqarah: 228). Kata derajat dalam ayat di atas menurut Imam Thabary adalah kelapangan dada suami terhadap istrinya untuk meringankan sebagian kewajiban istri. Al-Quran secara tegas menyatakan bahwa laki-laki bertanggungjawab untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, karena itu, laki-laki yang memiliki kemampuan material dianjurkan untuk menangguhkan perkawinan. Namun bila perkawinan telah terjalin dan penghasilan manusia tidak mencukupi kebutuhan keluarga, maka atas dasar anjuran tolong menolong yang dikemukakan di atas, istri hendaknya dapat membantu suaminya untuk menambah penghasilan.
Sementara itu kesetraan dalam peran politik juga sering mendapat kendala dari suatu interpretasi ajaran agama yang secara tekstual membatasi atau bahkan melarang perempuan menajdi pemimpin publik. Interpretasi ini sering dipakai sebagai dalil larangan perempuan menajdi pemimpin masyarakat, mulai dari lembaga kemsyarakatan sejenis yayasan, ormas sampai dengan kepemimpinan politik. Khususnya kepemimpinan negara. Dalam masyrakat patriarkhi sangat populer pandangan bahwa kepemimpinan dalam masyarakat maupun negara adalah hak laki-laki, bukan perempuan. 

Kesimpulan 
Memang tidak dapat dipungkiri terjunnya perempuan ke dunia politik banyak mendapat respon, baik pro maupun kontra. Hadist-hadist yang ada (pun) ada yang mendukung dan ada yag melarang. Para Ulama’ memiliki cara dan sudut pandang yang berbeda dalam mengartikannya. Sehingga msalah ini masih simpang siur tentang kebenarannya. Namun, pendapat itu tidak murni salah maupun benar. Kita melakukannya sesuai keyakinan kita saja dengan berpegang teguh pada Al-Quran.
Partisipasi politik perempuan belakangan ini kelihatannya sudah menjadi kompetisis pragmatis. Pelestarian nilai-nilai kemanusiaan sebagai tujuan utama nyaris ditinggalkan dami meraih kemenangan diri sendiri dan golongan tertentu. Tentu hal ini bertolak belakang dengan esensi penyelenggaraan politik praktis sebagai uji kematangan dan dalam rangka mengetahui kapasitas dan keahlian seorang perempuan yang pantas untuk didudukkan dalam sebuah kursi pemerintahan.
Hal ini kemudian berimplikasi pada peluang partisipasi perempuan diranah politik. Di mana perempuan selalu dinomorduakan dan sering dibeda-bedakan; kaum perempuan dengan kaum laki-laki kemudian dibuka peluang partisipasi politik berbeda berdasarkan kuantitas. Hal ini hampir terjadi di semua kabupaten di indonesia. Satu contoh di DPRD Sumenep, ditentukan 30% dari keseluruhan kursi di DPRD untuk perempuan. Selebihnya untuk yang berjenis kelamin laki-laki.
Peluang 30% itu merupakan perkembangan yang terjdi setelah sekian lama perempuan nyaris tidak memiliki peluang di ranah politik. Sehingga hal itu disosialisasikan ke seluruh lapisan masyarakat sebagai bentuk perhatian terhadap paretisipasi politik perempuan dengan jargon pemerintah peduli gender. 
Hal ini sama sekali tidak realistis, peduli gender malah menjadikan diskriminasi gender. Semestinya dalam ranah politik itu hanya ada satu ruang untuk semua. Tidak ada ruang politik laki-laki dan ruang politik perempuan. Sehingga uji kualitas diri nantinya menjadi modal utama. Tentu jika sistem kompetisisnya sehat. Baik dari segi kampanye maupun dalam membangun kepercayaan dan citra diri.
Selain itu juga harus ada perubahan pada kaum perempuan. Di mana yang selama ini dininabobokkan dala ketidakberdayaan struktural harus mulai bangkit dan bersatu menata masa depan bersama. Sehingga kemudian dapat menciptakan citra diri yang hakiki tanpa ada pandangan yang berbeda lagi tentang tanggungjawab sosial. Dalam hal ini partisipasi politik perempuan untuk bersama-sama berkiprah manjalankan roda perpolitikan yang tepat.


 
Daftar Pustaka
1. Pendidikan Adil Gender (Metos dan Fakta) Sekitar Laki-Laki dan Perempuan, Lembaga Studi dan Perempuan dan Anak, Yogyakarta.
2. Dzulhayati, Siti Ruhaini dkk., 2002, Rekonstruksi Metodologis Wacana Kesetaraan Gender dalam Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
3. Partisipasi Politik Perempuan dalam Proses Pembuatan Kebijakan Publik di daerah Jawa Timur, Kemitraan Yayasan Cakrawala Timur.

Demi Hari Esok


Dari kejauhan kutatap rumahku. Berdiri kokoh menatap langit. Tak ada sorak-sorai atau gelak tawa terdengar dari celah-celah jendela rumahku yang kaku. Sunyi, sesunyi malam tanpa cahaya binatang.
 Liburan Ramadlan kali ini aku tidak menunaikan ibadah puasa di rumah. Sama seperti Ramadhan-Ramadhan yang lalu. Aku lebih memilih untuk menghabiskan liburan panjang ini di pondok. Bukan karena kerasan ada disini, atau rasa rindu kepada kedua orang tua dan sanak keluarga tak lagi ada. Justru di saat hati ini ingin menebus gelayut rindu, terpaksa harus bersabar sampai beberapa waktu kemudian. Inilah pengorbanan demi hari esok yang mudah-mudahan lebih cerah. Karena hati ini sudah tidak berkenan lagi mendengar celoteh tetangga yang selalu menjadikan hati ini bagai di iris belati.
 Perlahan kuhembuskan nafas. Ada keresahan yang begitu dalam pada diriku. Akhir-akhir ini perasaanku tidak enak. Apakah ini suatu firasat? Apakah yang akan terjadi dengan diriku? Kuseret tatapan kea rah sekitar, mencoba mengenyahkan perasaan resah yang menjalar. Daun-daun berguguran. Pepehonan yang menjulang tinggi, hanyalah tinggal dahan-dahan yang rapuh. Terik matahari membakar kulit. Bumi menguap seolah mengeluarkan bara.
 "Hore… Hore… bibi pulang." Sayup-sayup terdengar suara anak kecil bersorak-sorai. Kusipitkan mataku, mencari-cari sumber suara itu. Tiba-tiba muncul di kejahuan Rony, keponakanku berlari-lari kecil menghampiriku.
 "Bibi!" serunya seraya berteriak. Roni langsung memelukku. Kuusap kepalanya sambil kucium keningya. Dalam hati aku berdoa: Semoga kelak kau jadi orang yang shaleh dan berguna.
 "Bi…," pekiknya sambil menengadah. Kutatap matanya yang bening. Aku suka mata itu. Mata yang polos dan menandakan kejujuran yang abadi. Mata seperti itulah yang membuatku suka pada anak kecil. Lalu Tersungging senyum manisnya yang tulus.
 "Eiit…," kuletakkan telunjukku di bibir sambil tersenyum. "Assalamu'alaikum, cinta…."
 "Wa'alaikum salam, honey…," jawabnya lalu mencium tanganku.
 "Lho… kok pake' bahasa Inggris? Tahu dari mana?" tanyaku keheranan.
 "Tahu dari Bu Guru. Kan, di sekolahku kemarin ada pondok Ramadhan. Ayo Bi, cepat. Rony punya cerita buanyaaaak banget," ucapnya sambil menarik-narik tanganku.
 "Tunggu, Ron. Jangan cepat-cepat. Kaki Bibi pegel nih."
 "Bibi capek ya? Ayo Roni bawain tasnya." Dengan cepat tangan mungilnya menyambar tas yang berisi mukenah dan sajadah di tanganku. Lalu melangkah berjalan di depanku.
 "Kok sepi Ron? Kemana yang lain?"
 "Ke sawah, mengairi jagung. Katanya Rony nggak boleh ikut dan nggak boleh kemana-kemana. Disuruh nemenin Bibi kalo dateng." Tangan mungilnya yang kiri kemudian membukakan pintu kamarku. Ternyata kamarku sudah ada yang membereskan. Emak mungkin. Terbersit di hatiku rasa rindu pada kamarku. Rindu dengan ketenangan dan keindahannya yang memberikan kedamaian pada hari-hariku.
 Surgaku, ini aku sudah datang kembali dengan hati ceria. Ceriakanlah hari-hariku bersamamu.
“Bibi pasti capek banget,” kata Rany mengagetkanku. “Kalo gitu Rony cerita sambil tiduran aja ya.” Rony menberi keputusan. Aku tersenyum sambil merebahan tubuhku ke tempat tidur di samping Rony. Rony mulai bercerita. Angina berhembus menerobos jendela yang sedikit terbuka. Membelai wajah dan tubuhku. Memberikan kesejukan yang alami dan begitu menetramkan. Serasa berteduh di bawah pohon rindang di siang bolong. Kesejukannya membawa hayalanku. Meninabobokanku di istana salju yang megah.
 
***

Ugh, sudah jam 14.30 WIB rupanya. Aku membatin. Buru-buru aku ke kamar mandi berharap masih menututi waktu shalat Dhuhur. Dengan gayung di tangan, perlahan-lahan kusiramkan air ke seluruh tubuhku sekenanya, berharap dapat mengembalikan kesegaran tubuh untuk menunaikan shalat dengan khusu'.
  Rabb, inilah tubuh segarku karena kemurahan-Mu akan kuperuntukkan kepada-Mu, demi sujud dan ruku'ku yang tulus hanya karena-Mu.
 “Bi, Rony shalat sama Bibi aja ya? Bapak sama Emak sudah shalat tadi pas Rony tertidur sama Bibi. Boleh ya?” Tanya Rony. Baju koko warna putih telah melekat di tubuhnya. Lengkap dengan sarung warna hijau bermotif bunga-bunga. Peci putih terpasang di kepalanya. Sejadah hijau melilit di bahu kanannya, seraswi dengan warna sarungnya. Aku mengangguk sambil tersenyum. Lalu melangkah meraih mukenah di kursi dan mengenakannya. Rony segera melantunkan lafadz iqamah saat aku selesai tanpa kusuruh. Pasti itu kebiasaan yang sudah ditanamkan oleh Mbak Izza, saudara kandungku yang tertua dan Rizqi, suaminya. 
 Aku memulai shalat. Mencoba menyelami artio dari setiap lafadz yang kubaca. Rony berdiri di samping kananku agak kebelakang sedikit. Rupanya dia sudah hafal betul tentang posisi ma’mum shalat yang sendirian.
 
"Fan, udah shalat belum?" terdengar suara Abi memanggilku.
 "Sudah, Bi," jawabku pelan. Segera kubuka mukenaku lalu menggantinya dengan jilbab putih kesukaanku untuk menemui Abi. Entah, tiba-tiba saja ada perasaan tidak enak. Tidak seperti biasanya abi memanggilku ke ruang tamu. Kalau ada sesuatu yang perlu dibicarakan berdua, Abi pasti mendatangi kamarku.
 "Ada apa, Bi?" pertanyaanku rupayanya membuyarkan lamunan Abi. Ternyata Abi tidak sendirian. Ummi duduk di sampingnya lalu menatap kedatanganku, dingin tanpa sepatah kata pun. Benar-benar tidak seperti biasanya. Seingatku, mata teduh Ummi tidak pernah jauh dari senyumnya yang tulus setiap kali menasehatiku ataupun untuk sekedar menyuruhku membeli sebungkus garam dapur ke toko tetangga sebelah. Aku semakin tidak bisa menguasai diri. 
 Tiba-tiba tenggorokan terasa kering dan pekat. Seakan pita suaraku putus. Maksud hati ingin memulai pembicaraan untuk mencairkan suasana yang mulai membeku. Tapi aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa selain menunduk, untuk meredam gejolak hati yang kian tak menentu. Jantungku berdetak cepat. Keringat dingin mulai menyesaki pori-poriku.
 "Ada apa sebenarnya, Bi, Mi?" reflek pertanyaan ini muncul. Mataku berkaca-kaca. Terlihat Abi menarik nafas dalam-dalam. Mungkin akan menjawab pertanyaanku.
 "Kalo jadi, besok malam tunangan Fani sekeluarga akan datang ke sini. Mereka akan meminta kesediaan Fani untuk segera melangsungkan pernikahan dengan Ari." Buk!! Seakan tengkukku ada yang memukul dengan keras dari belakang. Hingga aku tidak mampu umtuk sekedar menghela nafas. Dada terasa sesak. Tenggorokanku yang kering menjadi pekat. Tiba-tiba air mata mengalir deras. Membasahi pipi dan bibirku yang kaku. Aku hanya bisa menunduk. Seperti nasib air mataku yang membasahi lantai rumahku yang berdebu. Secepat inikah masa-masa indah akan berlalu? Bukankah masih panjang jalan yang harus kutapaki untuk meraih masa depan yang cerah?
 "Abi serahkan semua ini kepadamu, Nak. Kalau Fani masih mau mondok, nggak apa-apa permintaan ini ditolak. Abi tidak akan memaksa, seperti Abi memaksa Fani untuk ditunangkan dulu. Abi kira Fani sudah bisa mempertimbangkan yang terbaik. Hanya saja, jangan terlalu menuruti keinginan yang belum dipikirkan dengan matang. Mintalah petunjuk kepada Allah," kata Abi dengan bijak. Alhamdulillah... sungguh Engkau maha pengasih, ya Allah. Kuangkat wajahku menatap Abi dan Ummi yang tetap bergeming. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Abi meraih tangan Ummi mengajaknya beranjak dari ruang tamu. Aku tersenyum dalam, sedalam kegelisahan ini menyesaki hatiku. Kuhapus air mata yang tumpah tak terbendung. Secara perlahan dada ini kembali bisa bernafas lega.
 Aku ingin berlari-lari di halaman rumah meneriakkan perasaan legaanku pada bintang yang bertaburan. Aku ingin berbagi kebahagiaan ini dengannya. Seperti saat ia menemaniku dalam kesendirian. Dan menghiburku di saat hati ini gelisah. Sungguh mulia Engkau menciptakan bintang-bintang itu. Bintang-bintang itulah yang membuatku terus bermimpi. Bermimpi untuk menatap hari esok yang lebih cerah. Karena aku yakin, di atas segala keterbatasan dan kekurangan dalam diriku, masih terdapat kekuasaan-Mu yang agung yang akan melukiskan keindahan maha karya di alam semesta ini.
 Namun seandainya Abi tetap seperti dulu. Entah aku tak tahu bagaimana nasibku. Karena tidak boleh tidak aku harus menerima permintaan Ari, tunanganku, untuk segera melangsungkan pernikahan.
 Kuhempaskan tubuhku di kasur sambil menatap langit-langit kamarku. Kata-kata Abi terus terngiang di telingaku. Aku benar-benar akan serasa mati seandainya Abi tidak berubah perndirian. Karena jika aku menolak dengan alasan masih ingin melanjutkan pendidikan di pondok pesantren, masyarakat akan mencaciku, dan akan mecatat namaku sepanjang sejarah, sebagai perempuan yang tidak punya perasaan dan tidak tahu terimakasih. Ini adalah aib bagi keluargaku. Sudah pasti keluargaku akan dicemoh oleh masyarakat sekitar karenaku. Budaya inilah yang menyebabkan pendidikan tinggi menjadi nihil di desaku. Pintu sekolah tidak terbuka bagi perempuan yang sudah menikah. Dari sekian teman-teman sebayaku, hanya aku yang belum menikah. Bahkan, banyak perempuan usia di bawahku sudah punya anak.
***
Takbir berkumandang di mana-mana. Menyuarakan kebesaran dan kekuasaan-Nya. Aku bersujud kepada Allah. 
Ya Allah, ini aku, hamba-Mu, yang tak punya daya sedikitpun untuk melangkah jalani hidup. Ya Allah... kebahagiaan, kesedihan dan kegalauan yang kujalani selama ini sudah tertulis pada lembaran takdir-Mu. Ya Allah, aku mencintai-Mu sepenuh hati dan segenap ragaku. Dengan rahmat dan hidayah-Mu, terangilah didupku. Beri aku petunjuk-Mu untuk memutuskan yang terbaik untukku dan keluargaku.
 "Fan, kalo tidak ada kerjaan, ikut kakakmu ke rumah om Adi sekarang," suara Abi mengagetkanku.
 "Iya, Bi," buru-buru aku mengiyakan, takut Abi yang sedang berdiri di balik pintu itu tiba-tiba masuk ke kamarku. Di depan cermin kukeringkan mataku yang sembab dengan tisu, sehingga tidak ada tanda-tanda bahwa aku baru saja menitikkan air mata. Lalu aku ganti jilbab dan bergegas menemui kakak.
 "Jangan lama-lama! Khawatir mertua kamu datang," Abi mengingatkanku. Aku diam tak menjawab. Lidahku terasa kelu. Kata-kata tersekat di tenggorokan. Kutatap mata Abi. Kutemukan harapan sekaligus kepasrahan di sana. Cepat-cepat aku berpamitan dan mencium tangannya yang kasar.
 "Asslamau'alaikum," Kakak mengucapkan salam.
 "Wa'alaikumsalam," Abi menjawab sambil terus memerhatikan kepergian kami.
 Terasa berat kaki kulangkahkan. Beban pikiran terus menghantuiku. Bukannya aku bingung untuk memutuskan. Bahkan aku sudah pilihan. Akan tetapi yang membebani pikiranku adalah perasaan berdosa kepada kedua orang tua. Karena bagaimanapun, mereka berdua yang akan menanggung aib keluaragaku di mata masyarakat. Rabb, di malam idul fitri ini, mohon limpahkanlah rahmat-Mu dan petunjuk-Mu kepada kedua orang tuaku. Sungguh kemurahan dan pengorbanannya melebihi segala arti hidup dan matiku. 
 Di sepanjang jalan berkerikil ini, lampu senter yang Kakak bawa tidak cukup menerangi jalan setapak. Batu-batunya tersangkut kakiku yang kaku. Sakit rasanya. Tentu tidak sesakit hati ini jika harus dipaksa mengiyakan untuk menikah. Tapi inilah tamsil kehidupan. Saat kaki kesandung, sudah pasti akan semakin berhati-hati untuk melangkah. Tak ada kehidupan yang berjalan mulus tanpa hambatan. Perjalanan hidup sering kali tidak sesuai rencana. Inilah misteri kekuasaan Tuhan pencipta alam semesta. Shubhanallah…
 "Kak, Kakak aja di depan ya…. Nanti kakak juga yang bilang sama om Adi kalau kita tidak mau lama-lama. Kita cukup maaf-maafan aja." Tanpa komentar Kakak langsung mendahuluiku masuk pekarangan om Adi.
***
Seperti di musim kemarau, saat malam mulai menyapa, bintang kejora tiba-tiba berpendar. Bentuknya lebih besar dan cahanya lebih terang dibandingkan bintang-bintang yang lain. Begitulah dengan nuraniku. Terbersit rasa untuk membahagiakan orang lain dan membantu mewujudkan keinginannya sebagai asas kehidupan makhluk sosial. Hati kecilku seakan merelakan hari esokku demi tercapainya keinginan seorang manusia yang patut aku patuhi. Mengorbankan keinginanku untuk kepentingan orang lain yang sangat mencintaiku. 
Rabb, inikah tuntunan-Mu? Apakah sudah cukup bekal bagiku untuk menjadi seorang istri yang berbakti kepada suami? Menjadi seorang ibu yang siap menjadi tempat bersandar anak-anaknya?
 Tapi akal sehatku tetap tidak bisa merelakan dunia mimpiku yang melukiskan istana kehidupan yang megah hanya manjadi buih di tengah-tengah realita yang kuhadapi. Gemerlapnya seakan menjanjikan arti hidup yang lebih bermakna. Kesuksesan di masa depan tidak bisa dibandingkan dengan arti pengorbananku kali ini. Jika aku memilih mengorbankan impian dan cita-citaku, tentu sangat sulit untuk meraihnya kenbali. Mustahil malah. Karena aku sudah hidup di dunia yang lain.
 Jika aku bertekadku membiarkan perasaan orang lain merasa kehilangan, membiarkan dia mencari calon istri yang lebih baik dariku demi cita-cita dan masa depanku, tentu, yang terberat bagiku adalah jika setiap hari harus menutup telinga karena cemohan para tetangga yang begitu pedas. Namun, di balik itulah tersimpan masa depanku yang cerah. Yang akan menerangi hidupku, dengan proses panjang yang akan kulalui. Hatiku yakin, suatu saat nanti aku dapat menjadi perempuan dewasa yang bisa berpikir bijak. Tentu itu lebih baik bagi seorang istri. Dan lebih dapat dipertanggungjawabkan jika kelak menjadi seorang ibu.
***
Ugh…. Dadaku menjadi sesak, seakan dunia akan berbalik. Pandanganku terombang-ambing bagai gempa bumi menerjang rumahku. Berat rasanya. Tapi sia-sia rupanya harus pusing tujuh keliling untuk mempertibangkan kembali pilihan-pilihan itu. Jawabanku dibutuhkan saat ini juga. Pada detik ini di depan Ari dan keluarganya yang tidak lain adalah pamanku sendiri.
 Aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata. Lidahku menjadi kelu untuk menyusun bahasa. Hanya air mata yang tumpah, deras membasahiku. Ingatanku sudah mulai kabur. Yang tetap kurasakan adalah bahwa kado pernikahan Ari yang tetap berada di pangkuanku. Tiba-tiba semuanya gelap. Gelap gulita tak ada yang bisa menerangiku. Kuhempaskan kado pernikahan itu entah kemana. Bergegas aku bangkit dan berlari menuju kamarku. Kuhempaskan tubuhku dan aku pun menangis sejadi-jadinya. 
Ya Allah, seiring alunan takbir kebesaran-Mu menyambut hari kemenangan ini, berkatilah aku dengan rahmat dan hidayah-Mu. 



Demi Hari Esok


Dari kejauhan kutatap rumahku. Berdiri kokoh menatap langit. Tak ada sorak-sorai atau gelak tawa terdengar dari celah-celah jendela rumahku yang kaku. Sunyi, sesunyi malam tanpa cahaya binatang.
 Liburan Ramadlan kali ini aku tidak menunaikan ibadah puasa di rumah. Sama seperti Ramadhan-Ramadhan yang lalu. Aku lebih memilih untuk menghabiskan liburan panjang ini di pondok. Bukan karena kerasan ada disini, atau rasa rindu kepada kedua orang tua dan sanak keluarga tak lagi ada. Justru di saat hati ini ingin menebus gelayut rindu, terpaksa harus bersabar sampai beberapa waktu kemudian. Inilah pengorbanan demi hari esok yang mudah-mudahan lebih cerah. Karena hati ini sudah tidak berkenan lagi mendengar celoteh tetangga yang selalu menjadikan hati ini bagai di iris belati.
 Perlahan kuhembuskan nafas. Ada keresahan yang begitu dalam pada diriku. Akhir-akhir ini perasaanku tidak enak. Apakah ini suatu firasat? Apakah yang akan terjadi dengan diriku? Kuseret tatapan kea rah sekitar, mencoba mengenyahkan perasaan resah yang menjalar. Daun-daun berguguran. Pepehonan yang menjulang tinggi, hanyalah tinggal dahan-dahan yang rapuh. Terik matahari membakar kulit. Bumi menguap seolah mengeluarkan bara.
 "Hore… Hore… bibi pulang." Sayup-sayup terdengar suara anak kecil bersorak-sorai. Kusipitkan mataku, mencari-cari sumber suara itu. Tiba-tiba muncul di kejahuan Rony, keponakanku berlari-lari kecil menghampiriku.
 "Bibi!" serunya seraya berteriak. Roni langsung memelukku. Kuusap kepalanya sambil kucium keningya. Dalam hati aku berdoa: Semoga kelak kau jadi orang yang shaleh dan berguna.
 "Bi…," pekiknya sambil menengadah. Kutatap matanya yang bening. Aku suka mata itu. Mata yang polos dan menandakan kejujuran yang abadi. Mata seperti itulah yang membuatku suka pada anak kecil. Lalu Tersungging senyum manisnya yang tulus.
 "Eiit…," kuletakkan telunjukku di bibir sambil tersenyum. "Assalamu'alaikum, cinta…."
 "Wa'alaikum salam, honey…," jawabnya lalu mencium tanganku.
 "Lho… kok pake' bahasa Inggris? Tahu dari mana?" tanyaku keheranan.
 "Tahu dari Bu Guru. Kan, di sekolahku kemarin ada pondok Ramadhan. Ayo Bi, cepat. Rony punya cerita buanyaaaak banget," ucapnya sambil menarik-narik tanganku.
 "Tunggu, Ron. Jangan cepat-cepat. Kaki Bibi pegel nih."
 "Bibi capek ya? Ayo Roni bawain tasnya." Dengan cepat tangan mungilnya menyambar tas yang berisi mukenah dan sajadah di tanganku. Lalu melangkah berjalan di depanku.
 "Kok sepi Ron? Kemana yang lain?"
 "Ke sawah, mengairi jagung. Katanya Rony nggak boleh ikut dan nggak boleh kemana-kemana. Disuruh nemenin Bibi kalo dateng." Tangan mungilnya yang kiri kemudian membukakan pintu kamarku. Ternyata kamarku sudah ada yang membereskan. Emak mungkin. Terbersit di hatiku rasa rindu pada kamarku. Rindu dengan ketenangan dan keindahannya yang memberikan kedamaian pada hari-hariku.
 Surgaku, ini aku sudah datang kembali dengan hati ceria. Ceriakanlah hari-hariku bersamamu.
“Bibi pasti capek banget,” kata Rany mengagetkanku. “Kalo gitu Rony cerita sambil tiduran aja ya.” Rony menberi keputusan. Aku tersenyum sambil merebahan tubuhku ke tempat tidur di samping Rony. Rony mulai bercerita. Angina berhembus menerobos jendela yang sedikit terbuka. Membelai wajah dan tubuhku. Memberikan kesejukan yang alami dan begitu menetramkan. Serasa berteduh di bawah pohon rindang di siang bolong. Kesejukannya membawa hayalanku. Meninabobokanku di istana salju yang megah.
 
***

Ugh, sudah jam 14.30 WIB rupanya. Aku membatin. Buru-buru aku ke kamar mandi berharap masih menututi waktu shalat Dhuhur. Dengan gayung di tangan, perlahan-lahan kusiramkan air ke seluruh tubuhku sekenanya, berharap dapat mengembalikan kesegaran tubuh untuk menunaikan shalat dengan khusu'.
  Rabb, inilah tubuh segarku karena kemurahan-Mu akan kuperuntukkan kepada-Mu, demi sujud dan ruku'ku yang tulus hanya karena-Mu.
 “Bi, Rony shalat sama Bibi aja ya? Bapak sama Emak sudah shalat tadi pas Rony tertidur sama Bibi. Boleh ya?” Tanya Rony. Baju koko warna putih telah melekat di tubuhnya. Lengkap dengan sarung warna hijau bermotif bunga-bunga. Peci putih terpasang di kepalanya. Sejadah hijau melilit di bahu kanannya, seraswi dengan warna sarungnya. Aku mengangguk sambil tersenyum. Lalu melangkah meraih mukenah di kursi dan mengenakannya. Rony segera melantunkan lafadz iqamah saat aku selesai tanpa kusuruh. Pasti itu kebiasaan yang sudah ditanamkan oleh Mbak Izza, saudara kandungku yang tertua dan Rizqi, suaminya. 
 Aku memulai shalat. Mencoba menyelami artio dari setiap lafadz yang kubaca. Rony berdiri di samping kananku agak kebelakang sedikit. Rupanya dia sudah hafal betul tentang posisi ma’mum shalat yang sendirian.
 
"Fan, udah shalat belum?" terdengar suara Abi memanggilku.
 "Sudah, Bi," jawabku pelan. Segera kubuka mukenaku lalu menggantinya dengan jilbab putih kesukaanku untuk menemui Abi. Entah, tiba-tiba saja ada perasaan tidak enak. Tidak seperti biasanya abi memanggilku ke ruang tamu. Kalau ada sesuatu yang perlu dibicarakan berdua, Abi pasti mendatangi kamarku.
 "Ada apa, Bi?" pertanyaanku rupayanya membuyarkan lamunan Abi. Ternyata Abi tidak sendirian. Ummi duduk di sampingnya lalu menatap kedatanganku, dingin tanpa sepatah kata pun. Benar-benar tidak seperti biasanya. Seingatku, mata teduh Ummi tidak pernah jauh dari senyumnya yang tulus setiap kali menasehatiku ataupun untuk sekedar menyuruhku membeli sebungkus garam dapur ke toko tetangga sebelah. Aku semakin tidak bisa menguasai diri. 
 Tiba-tiba tenggorokan terasa kering dan pekat. Seakan pita suaraku putus. Maksud hati ingin memulai pembicaraan untuk mencairkan suasana yang mulai membeku. Tapi aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa selain menunduk, untuk meredam gejolak hati yang kian tak menentu. Jantungku berdetak cepat. Keringat dingin mulai menyesaki pori-poriku.
 "Ada apa sebenarnya, Bi, Mi?" reflek pertanyaan ini muncul. Mataku berkaca-kaca. Terlihat Abi menarik nafas dalam-dalam. Mungkin akan menjawab pertanyaanku.
 "Kalo jadi, besok malam tunangan Fani sekeluarga akan datang ke sini. Mereka akan meminta kesediaan Fani untuk segera melangsungkan pernikahan dengan Ari." Buk!! Seakan tengkukku ada yang memukul dengan keras dari belakang. Hingga aku tidak mampu umtuk sekedar menghela nafas. Dada terasa sesak. Tenggorokanku yang kering menjadi pekat. Tiba-tiba air mata mengalir deras. Membasahi pipi dan bibirku yang kaku. Aku hanya bisa menunduk. Seperti nasib air mataku yang membasahi lantai rumahku yang berdebu. Secepat inikah masa-masa indah akan berlalu? Bukankah masih panjang jalan yang harus kutapaki untuk meraih masa depan yang cerah?
 "Abi serahkan semua ini kepadamu, Nak. Kalau Fani masih mau mondok, nggak apa-apa permintaan ini ditolak. Abi tidak akan memaksa, seperti Abi memaksa Fani untuk ditunangkan dulu. Abi kira Fani sudah bisa mempertimbangkan yang terbaik. Hanya saja, jangan terlalu menuruti keinginan yang belum dipikirkan dengan matang. Mintalah petunjuk kepada Allah," kata Abi dengan bijak. Alhamdulillah... sungguh Engkau maha pengasih, ya Allah. Kuangkat wajahku menatap Abi dan Ummi yang tetap bergeming. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Abi meraih tangan Ummi mengajaknya beranjak dari ruang tamu. Aku tersenyum dalam, sedalam kegelisahan ini menyesaki hatiku. Kuhapus air mata yang tumpah tak terbendung. Secara perlahan dada ini kembali bisa bernafas lega.
 Aku ingin berlari-lari di halaman rumah meneriakkan perasaan legaanku pada bintang yang bertaburan. Aku ingin berbagi kebahagiaan ini dengannya. Seperti saat ia menemaniku dalam kesendirian. Dan menghiburku di saat hati ini gelisah. Sungguh mulia Engkau menciptakan bintang-bintang itu. Bintang-bintang itulah yang membuatku terus bermimpi. Bermimpi untuk menatap hari esok yang lebih cerah. Karena aku yakin, di atas segala keterbatasan dan kekurangan dalam diriku, masih terdapat kekuasaan-Mu yang agung yang akan melukiskan keindahan maha karya di alam semesta ini.
 Namun seandainya Abi tetap seperti dulu. Entah aku tak tahu bagaimana nasibku. Karena tidak boleh tidak aku harus menerima permintaan Ari, tunanganku, untuk segera melangsungkan pernikahan.
 Kuhempaskan tubuhku di kasur sambil menatap langit-langit kamarku. Kata-kata Abi terus terngiang di telingaku. Aku benar-benar akan serasa mati seandainya Abi tidak berubah perndirian. Karena jika aku menolak dengan alasan masih ingin melanjutkan pendidikan di pondok pesantren, masyarakat akan mencaciku, dan akan mecatat namaku sepanjang sejarah, sebagai perempuan yang tidak punya perasaan dan tidak tahu terimakasih. Ini adalah aib bagi keluargaku. Sudah pasti keluargaku akan dicemoh oleh masyarakat sekitar karenaku. Budaya inilah yang menyebabkan pendidikan tinggi menjadi nihil di desaku. Pintu sekolah tidak terbuka bagi perempuan yang sudah menikah. Dari sekian teman-teman sebayaku, hanya aku yang belum menikah. Bahkan, banyak perempuan usia di bawahku sudah punya anak.
***
Takbir berkumandang di mana-mana. Menyuarakan kebesaran dan kekuasaan-Nya. Aku bersujud kepada Allah. 
Ya Allah, ini aku, hamba-Mu, yang tak punya daya sedikitpun untuk melangkah jalani hidup. Ya Allah... kebahagiaan, kesedihan dan kegalauan yang kujalani selama ini sudah tertulis pada lembaran takdir-Mu. Ya Allah, aku mencintai-Mu sepenuh hati dan segenap ragaku. Dengan rahmat dan hidayah-Mu, terangilah didupku. Beri aku petunjuk-Mu untuk memutuskan yang terbaik untukku dan keluargaku.
 "Fan, kalo tidak ada kerjaan, ikut kakakmu ke rumah om Adi sekarang," suara Abi mengagetkanku.
 "Iya, Bi," buru-buru aku mengiyakan, takut Abi yang sedang berdiri di balik pintu itu tiba-tiba masuk ke kamarku. Di depan cermin kukeringkan mataku yang sembab dengan tisu, sehingga tidak ada tanda-tanda bahwa aku baru saja menitikkan air mata. Lalu aku ganti jilbab dan bergegas menemui kakak.
 "Jangan lama-lama! Khawatir mertua kamu datang," Abi mengingatkanku. Aku diam tak menjawab. Lidahku terasa kelu. Kata-kata tersekat di tenggorokan. Kutatap mata Abi. Kutemukan harapan sekaligus kepasrahan di sana. Cepat-cepat aku berpamitan dan mencium tangannya yang kasar.
 "Asslamau'alaikum," Kakak mengucapkan salam.
 "Wa'alaikumsalam," Abi menjawab sambil terus memerhatikan kepergian kami.
 Terasa berat kaki kulangkahkan. Beban pikiran terus menghantuiku. Bukannya aku bingung untuk memutuskan. Bahkan aku sudah pilihan. Akan tetapi yang membebani pikiranku adalah perasaan berdosa kepada kedua orang tua. Karena bagaimanapun, mereka berdua yang akan menanggung aib keluaragaku di mata masyarakat. Rabb, di malam idul fitri ini, mohon limpahkanlah rahmat-Mu dan petunjuk-Mu kepada kedua orang tuaku. Sungguh kemurahan dan pengorbanannya melebihi segala arti hidup dan matiku. 
 Di sepanjang jalan berkerikil ini, lampu senter yang Kakak bawa tidak cukup menerangi jalan setapak. Batu-batunya tersangkut kakiku yang kaku. Sakit rasanya. Tentu tidak sesakit hati ini jika harus dipaksa mengiyakan untuk menikah. Tapi inilah tamsil kehidupan. Saat kaki kesandung, sudah pasti akan semakin berhati-hati untuk melangkah. Tak ada kehidupan yang berjalan mulus tanpa hambatan. Perjalanan hidup sering kali tidak sesuai rencana. Inilah misteri kekuasaan Tuhan pencipta alam semesta. Shubhanallah…
 "Kak, Kakak aja di depan ya…. Nanti kakak juga yang bilang sama om Adi kalau kita tidak mau lama-lama. Kita cukup maaf-maafan aja." Tanpa komentar Kakak langsung mendahuluiku masuk pekarangan om Adi.
***
Seperti di musim kemarau, saat malam mulai menyapa, bintang kejora tiba-tiba berpendar. Bentuknya lebih besar dan cahanya lebih terang dibandingkan bintang-bintang yang lain. Begitulah dengan nuraniku. Terbersit rasa untuk membahagiakan orang lain dan membantu mewujudkan keinginannya sebagai asas kehidupan makhluk sosial. Hati kecilku seakan merelakan hari esokku demi tercapainya keinginan seorang manusia yang patut aku patuhi. Mengorbankan keinginanku untuk kepentingan orang lain yang sangat mencintaiku. 
Rabb, inikah tuntunan-Mu? Apakah sudah cukup bekal bagiku untuk menjadi seorang istri yang berbakti kepada suami? Menjadi seorang ibu yang siap menjadi tempat bersandar anak-anaknya?
 Tapi akal sehatku tetap tidak bisa merelakan dunia mimpiku yang melukiskan istana kehidupan yang megah hanya manjadi buih di tengah-tengah realita yang kuhadapi. Gemerlapnya seakan menjanjikan arti hidup yang lebih bermakna. Kesuksesan di masa depan tidak bisa dibandingkan dengan arti pengorbananku kali ini. Jika aku memilih mengorbankan impian dan cita-citaku, tentu sangat sulit untuk meraihnya kenbali. Mustahil malah. Karena aku sudah hidup di dunia yang lain.
 Jika aku bertekadku membiarkan perasaan orang lain merasa kehilangan, membiarkan dia mencari calon istri yang lebih baik dariku demi cita-cita dan masa depanku, tentu, yang terberat bagiku adalah jika setiap hari harus menutup telinga karena cemohan para tetangga yang begitu pedas. Namun, di balik itulah tersimpan masa depanku yang cerah. Yang akan menerangi hidupku, dengan proses panjang yang akan kulalui. Hatiku yakin, suatu saat nanti aku dapat menjadi perempuan dewasa yang bisa berpikir bijak. Tentu itu lebih baik bagi seorang istri. Dan lebih dapat dipertanggungjawabkan jika kelak menjadi seorang ibu.
***
Ugh…. Dadaku menjadi sesak, seakan dunia akan berbalik. Pandanganku terombang-ambing bagai gempa bumi menerjang rumahku. Berat rasanya. Tapi sia-sia rupanya harus pusing tujuh keliling untuk mempertibangkan kembali pilihan-pilihan itu. Jawabanku dibutuhkan saat ini juga. Pada detik ini di depan Ari dan keluarganya yang tidak lain adalah pamanku sendiri.
 Aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata. Lidahku menjadi kelu untuk menyusun bahasa. Hanya air mata yang tumpah, deras membasahiku. Ingatanku sudah mulai kabur. Yang tetap kurasakan adalah bahwa kado pernikahan Ari yang tetap berada di pangkuanku. Tiba-tiba semuanya gelap. Gelap gulita tak ada yang bisa menerangiku. Kuhempaskan kado pernikahan itu entah kemana. Bergegas aku bangkit dan berlari menuju kamarku. Kuhempaskan tubuhku dan aku pun menangis sejadi-jadinya. 
Ya Allah, seiring alunan takbir kebesaran-Mu menyambut hari kemenangan ini, berkatilah aku dengan rahmat dan hidayah-Mu. 



Rabu, 19 Mei 2010

Menjadi Sufi Funky dengan Rasa Malu

 Kita pasti sudah sering mendengar atau bahkan mengucapkan kata “malu”, atau mungkin pernah merasa malu? Tentunya pernah dong...! Apalagi malu nge-friend banget dengan yang namanya remaja. Malu sering menjadi alas an untuk kita menjadi tidak berani atau tidak pede. Misalnya, ketika kita disuruh maju untuk memjelaskan di depan kelas atau menyampaikan pendapat kita tentang suatu permasalahan di depan teman-teman. Maka kita akan segera menggeleng sambil berucap “Nngak ah, aku malu”. Al-hasil, meski kita paham pada materi tersebut dan mempunyai segudang pendapat yang sedang menumpuk di otak dan teriak-teriak minta dikeluarkan, tapi karena kita merasa malu atau nggak pede untuk menyampaikannya, maka semua itu tetap tertampung dalam otak. Jika dilihat dari satu contoh di atas sepertinya rasa melu terkesan negative. Padahal dalam sebuah hadist Rasullulah bersabda: Malu itu adalah sebagian dari iman. Lalu pertanyaan yang muncul sekarang adalah rasa malu yang bagaimana sih yang termasuk sebagian dari iman?

            Dalam kitab At-Tahliyah Wat Targhib, karya Saayed Muhammad dikatakan bahwa, malu itu ada tiga macam. Pertama, malu kepada Allah. Dalam artian kita merasa malu untuk  tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah dan juga merasa malu ketika kita melakukan apa yang di larang Allah. Dalam sebuah hadist Rosulullah bersabda, barang siapa yang menjaga kepala dan isinya (pikiran,mata, telinga, lisan), perut dan isinya, meninggalkan kemewahan dunia dan selalu mengingat-ingat mati serta semua peristiwa sesudahnya. Maka dia berarti relah benar-benar malu kepada Alla.

Kedua, malu kepada orang lain. Artinya, kita merasa malu ketika melakukan hal-hal yang kurang pantas, seperti mengganggu atau menyakiti orang lain baik dengan perkataan ataupun perbuatan kita. Seperti, mengolok-olok, menyebarkan kejelekan orang lain, atau dengan mengambil sesuatu yang menjadi milik mereka. Yang ketiga adalah malu kepada dirisendiri. Dengan atrtian kita meras malu untuk melakukan kejelekan baik sedang sendirian atau di tempat yang sepi. Itulah yang dimaksud malu adalah sebagian dari iman. Pera remaja yang cerdas-cerdas, udah tau kan apa yang dimaksud malu adalah sebagian dari iman.  Yaitu menjaga seluruh organ tubuh kita dari hal-hal yang dilarang oleh Allah, karena kelak kita akan dimintai LPJ-nya. Sifat malu seperti itulah yang seharusnya dimiliki oleh kita-kita yang masih mengaku Islam.  Sikap seperti itulah yang telah dicontohkan oleh Rosulullah dulu. Terus giman dengan sikap remaja sekarang? Apakah mereka sudah memiliki rasa malu seperti yang disabdakan oleh Rosulullah dalam penggalan hadits di atas?

Jika melihat tingkah laku remaja masa kini bisa dikatakan kebanyakan dari mereka sudah tidak memiliki rasa malu sama sekali.  Lihat saja dari cara berpenampilan saja sudah jauh melenceng dari aturan agama. Para gadis sudah tidak merasa malu untuk mempertontonkan auratnya kemana-mana, menggunakan pakaian yang cocok dipakai oleh adeknya. (Kok muat ya..?). Mempertontonkan kemolekan tubuhnya secara gratis, tak usah kartu cues ataupun kridit. Yang cowok beda lagi, mereka sudah mulai mengadopsi style ala manusia purba. Menggunakan celana compang-camping, model rambut menjiblak model rangga,  (eits… tunggu dulu, bukan rangga pemain film AADC itu lho… tapi rangga yang satunya, yang sukanya nangkep ayam untuk di makan. Udah pada tau kan…? Kalo dalam Bahasa Maduranya sih ranggarangan). Udah gitu masih ditambah dengan segala pernak-pernik cewek, entah itu di telinga, leher, tangan, jari, duh pokonya semunya deh…! Seolah hal tersebut dapat menbuatnya tambah cakep, gaul de el el.  Padahal yang terjadi malah sebaliknya, mereka jadi kayak orang gila yang lepas dari RSJ.

Zaman yang sudah serba maju dan canggih seperti sekarang ini telah menjadikan peradaban semakin tenggelam di gantikan dengan budaya barat yang sudah mulai mendarah daging. Kalau dulu para remaja jarang—bahkan tidak ada—yang pacaran, apalagi yang berasal dari pedesaan. Pacaran merupakan hal yang tabu bahkan aib. Tapi sekarang pacaran marupakan hal yang biasa, bahkan terlalu biasa, sehingga seakan-akan menjadi hal yang wajib. (nggak pacaran, gak gaul gitu lho!). Mereka tanpa malu akan memperkenalkan pacarnya pada teman-temannya, menceritakan semua yang terjadi dengan pacarnya sampe’ hal yang paling pribadipun diceritakan. Bahkan yang paling membuat hati miris, mereka tak segan-segan melakukan hal-hal yang tak senonoh di depan umum tanpa meras risih sedikitpun. (Lho… kok bisa, kemana rasa malu mereka ya?). Kalo dulu taman bunga di jadikan sebagai tempat melepaskan penat bersama keluarga, tapi sekarang sudah berubah fungsi. Tempat itu sudah menjadi tempat untuk berasyik-masyuk bermalam mingguan. (Duh… apa gak takut dosa ya…? Tapi kalo remaja pesantren nggak gitu kan?). Eits… belum tentu. remaja pesantren tak melakukan hal itu.

Remaja yang tinggal di pesantren yang akrab banget dengan ilmu pengetahuan agama belum tentu ‘suci’ dari hal yang begituan (baca: pacaran). Apalagi sekarang sedang nge-tren banget yang namanya tunangan. Tidak sedikit para santri yang bercerita panjang lebar tentang kejadian yang dialaminya dengan sang tunangannya ketika liburan Bahkan, yang masih bau kencur alias masih MTs pun udah pinter lho bercerita tentang apa yang dilakukannya dengan sang tunangan. (Wadoh, pinter banget tuh anak. Apa ngak malu ya..?). Beli baju dianter sang tunangan, pergi ke rumah mertua di antar-jemput pas lebaran, bahkan ke pondok pun masih dianterin. (Kok diizinin ya sama sang ortu?). Jangan salah, itu adalah kebiasaan yang hampir—kalo tak mau dibilang sudah—menjadi tradisi dalam sebuah ikatan pertunangan. Padahal hal itu nggak diperbbolehkan lho oleh agama. Bahkan, ada yang berpendapat kalo—melihat model pertunangan jaman sekarang—pertunangan itu adalah pacaran yang dilegalkan. Tapi kayaknya emang bener lho pendapat itu. Lihat saja kelakuan remaja yang sudah bertunangan, pergi berduaan pada moment-moment tertentu, telphonan, saling berkirim sms mesra, de el el. Kalo gitu, nggak ada bedanya kan antara pacaran dan tunangan?

So, kita sebagai generasi muda, penerus masa depan bangsa dan pemegang astafet alias penerus ajaran agama harus menjaga prilaku kita agar tak terikut pada kebiasaan yang dilarang oleh agama. Apalagi kita yang ber-title  S-1 alias Santri harus benar-benar menjaga sikap dalam keseharian kita dan berpegang teguh pada ajaran agama. Karena kita—sebagai orang yang dianggap mempunyai penguatahuan agama Islam yang mendalam—punya kewajiban untuk amar ma’ruf nahi munkar. Jadi, kalo malah kita yang melakukan kemungkaran, apa kata dunia entar. Jadilah remaja yang gaul tapi syar’i alias sufi funky, dengan menanamkan sifat malu kepada Allah. Kalo kita sudah mempunyai rasa malu, baik malu kepada diri sendiri, orang lain, lebih-lebih malu kepada Allah. Karena jika kita sudah mempunyai rasa malu kepada Allah, secara otomatis kita akan selalu bersikap dan bertindak sesuai dengan al-Qur’an dan al-Hadits. Kita akan merasa malu untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah, baik di tempat yang sepi ataupun di keramaian. Karena kita sadar dan tau kalo Allah pasti mengetahuinya.   Semoga kita bisa remaja yang gaul tapi syar’I alias sufi funky. Amien…

Guru itu Harus Profesional!

Judul Buku       : Pengembangan Profesi Guru

Penulis              : Mujtahid, M.Ag.

Penerbit            : UIN-MALANG PRESS

Cetakan           : I, Desember 2009

Tebal Halaman: xi + 134

 

Bicara tentang pendidikan kita tak bisa lepas dari peran seorang guru. Karena guru merupakan elemen terpenting dalam pendidikan. Sukses tidaknya proses pendidikan tergantung pada peran sang pendidik (guru). Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa, kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas tenaga pendidik.

            Maju tidaknya sebuah peradaban tidak terlepas dari peran seorang guru. Karena semakin maju pendidikan di suatu daerah, maka semakin maju pulalah peradaban di daerah tersebut. Di tangan gurulah peradaban ilmu pengetahuan dapat terbangun. Begitupun sebaliknya, di tangan guru pula peradaban ilmu pengetahuan dapat runtuh dan tenggelam. Hal itu dikarenakan guru merupakan elemen terpenting yang menentukan berhasil-tidaknya proses pembelajaran dalam sebuah lembaga pendidikan. Sebab sosok gurulah yang akan mencektak peserta didik menjadi cerdas, trampil, bermural dan berpengetahuan yang luas. Oleh karena itu seorang guru harus pintar dan trampil dalam menyampaikan materi. Guru yang pintar adalah guru yang bisa membuat peserta didik (siswa) merasa senang belajar di kelas (sekolah). Jadi seorang guru tak cukup hanya pintar (menguasai) materi yang akan disampaikan. Akan tetapi seorang guru juga harus pandai mencari metode yang cocok dalam penyampaian materi, agar peserta didik bisa menangkap (mengerti) terhadap apa yang disampaikan oleh guru. Disinilah keprofesionalan seorang guru sangat diperlukan. Lalu pertanyaannya, dengan apa sih kita bisa menilai kualitas seorang guru (professional atau tidak)? Dan seperti apa guru yang profesional itu?

            Untuk menjawab semua pertanyaan di atas, buku Pengembangan Profesi Guru ini sangat cocok untuk dikonsumsi. Buku ini ditulis berawal dari studi penelitian yang dilakukan oleh Mujtahid, M. Ag. pada program Magister  yang mengangkat topik tentang “Pengembangan Profesi Guru”. Karena suatu hal, buku ini diformat bukan dalam bentuk laporan penelitian asli, melainkan sengaja di desain seperti buku pemikiran/kajian konseptual, karena pelbagai alasan data yang sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini (hal.v).

            Dalam buku Pengembangan Profesi Guru ini Mujtahid mengatakan bahwa, kualitas secara formal (S-1, S-2 bahkan S-3) bukanlah satu-satunya jaminan kualitas pendidik, tetapi harus ditopang dengan pembinaan dan pengembangan bobot dan visi keprofesian maupun jiwa dan semangat keguruan yang tinggi. (hal.xi).

            Sejatinya seorang guru tidak hanya berperan sebagai pendidik. Tetapi seorang guru juga berperan sebagai pengajar dan pelatih. Dan seorang guru yang baik adalah mereka yang memenuhi persyaratan kemampuan profesional baik sebagai pendidik maupun sebagai pengajar atau pelatih. Disinilah letak pentingnya standar mutu profesional guru untuk menjamin proses belajar mengajar dan hasil yang bermutu. (hal.5).

            Guru sebagai penentu berhasil-tidaknya proses pembelajaran di sekolah tidak cukup hanya berbekal menguasai materi saja. Akan tetapi seorang guru juga  dituntut untuk memiliki beberapa keterampilan. Dalam buku Pengembangan Profesi Guru ini Mujtahid menyebutkan keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru diantaranya, seorang guru harus terampil dalam mengolah kelas. Dengan artian seorang guru harus bisa menguasai kelas dan mengkondisikan siswa, kapan siswa siap untuk menerima pelajaran. Agar proses pembelajaran bisa berlangsung secara optimal.

            Selain itu, seorang guru juga harus terampil dalam menyampaikan materi dan mengadakan metode yang bervariasi. Agar peserta didik tidak merasa jenuh dan bosan di dalam kelas. Baik itu dengan metode diskusi, permainana, dan lain-lain. Bahkan, sebisa mungkin guru menkondisikan bagaimana suasana pembelajaran bisa berlangsung menyenangkan. Hal tersebut akan berdampak pada hasil yang akan dicapai. Semakin menyenangkan proses yang dijalani oleh peserta didik akan semakin efektif pula hasil yang akan dicapai dalam proses tersebut.

            Guru juga harus terampil dalam membuka dan menutup proses pembelajaran. Jadi, sebelum memulai pelajaran guru harus bisa menangkap indikator yang disampaikan siswa dan mengkondisikan siswanya agar siap menerima pelajaran. Serta memberikan intisari atau kesimpulan dari materi yang telah disampaikan sebelum menutup proses pembelajaran. Agar siswa punya gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajarinya.

            Terkait dengan peran guru dalam proses pembelajaran maka menurut Mujtahid dalam buku Pengembangan Profesi Guru ini, yang harus dipersiapkan oleh seorang guru adalah penguasaan, pemahaman dan pengembangan materi, penggunaan metode yang tepat, efektif dan senantiasa melakukan pengembangannya, serta menumbuhkan kepribadian kepada peserta didik. Ketiga cakupan tersebut terjadi dalam interaksi antara guru dan perserta didik dalam bentuk pembelajaran. (hal. 53).

            Selain berperan sebagai pengajar dan pelatih, seorang guru juga berperan sebagai perancang, penggerak, evaluator, dan sebagai motivator di dalam sebuah lembaga pendidikan. Jadi seorang guru bukan hanya menyampaikan materi di depan peserta didik, akan tetapi guru juga menyusun kegiatan akademik, menggerakkan sistem organisasi sekolah, mengevaluasi atau menilai aktivitas yang telah dikerjakan dalam sistem sekolah, dan sebagainya.

Dalam buku Pengembangan Profesi Guru ini Mujtahid juga menjelaskan secara detail tentang peran, fungsi, dan tugas seorang guru dalam sebuah lembaga pendidikan. Dalam buku ini juga dijelaskan bagaimana model atau metode yang dapat digunakan dalam mengembangkan profesional guru. Dengan bahasa yang mengalir menjadikan buku ini sangat cocok untuk dikonsumsi oleh para guru atau seseorang yang bercita-cita menjadi seorang guru, sebagai bahan acuan dan pegangan bagaimana menjadi seorang guru yang profesional, agar bisa menjalankan tugasnya sesuai dengan peran dan fungsinya.  Wallahua’lam.