Judul buku: Hades
Penulis: Deasylawat Prasetyaningtyas
Penerbit: DIVA Press (2008)
Tebal: 260 halaman Kita sebagai makhluk sosial__yang selalu membutuhkan orang lain__berkomonikasi dan berinteraksi merupakan hal yang menjadi keharusan bagi kita. Bahkan, lebih dari itu berkomoniasi dan berinteraksi merupakan kebutuhan primer yang harus terpenuhi. Hampir setiap detik kita melakukannya. Karena hal itu merupakan sebuah keniscayaan bagi kita selaku makhluk yang diberi akal. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang autis? Bukankah bagi mereka dua hal tersebut sangat sulit untuk dilakukan?
Ya, autis adalah salah satu penyakit kelainan jiwa, kalau tak mau dibilang cacat bawaan sejak lahir. Bagi mereka yang menderita penyakit ini (autis) sangat sulit untuk memahami setiap hal yang terjadi, terlihat, dan terdengar oleh mereka. Oleh karena itu mereka sangat tidak suka dengan perubahan. Seperti suara, benda, manusia, semua yang bergerak dan berubah, apalagi mengeluarkan suara yang berbeda-beda akan membuat mereka kebingungan untuk memahaminya. Makanya mereka sangat takut dengan lingkungan sekitar, sehingga mereka lebih suka menyendiri dalam dunia mereka sendiri. Orang yang menderita penyakit autis sangat sulit untuk berkomonikasi dan mengerti bahasa yang diucapkan oleh orang sekitar mereka. Cara mereka dalam memandang sesuatu sangat berbeda dengan orang (normal) seperti kita. Bagi kita, hal yang paling membuat hidup kita benar-bear berarti adalah berkomunikasi dengan orang lain, memahami prilaku mereka, menghadapi benda-benda, situasi, dan orang-orang dengan cara yang reatif. Sedang orang-orang autis mempunyai kesulitan besar dalam hal-hal seperti itu. Bagi mereka hidup itu mengerikan. Sehingga mereka sangat membutuhkan lingkungan husus yang teatur dan tak banyak beubah. Lalu, apa jadinya jika penyandang autis harus hidup dilingkunga yang penuh dengan perubahan seperti halnya orang normal seperti mereka?
Novel “Hades” merupakan satu-satunya novel (sepanjang pengetahuan saya) yang menceritakan tentang perjalanan hidup seorang autis. Narendra, sang autis yang dipaksa hidup dalam lingkungan formal seperti orang normal hanya demi menjaga nama baik dan kehormatan keluarga. Narendra lahir dikeluarga yang sangat terpandang dan kaya raya. Panji Sastranegara, bapak dari Narendra yang menjabat sebagai salah satu anggota parlemen pusat dengan reputasi yang sangat sempurna. Dia memimpin salah satu partai yang turut memeriahkan pesta politik pemilu dan meraih suara yang cukup banyak. Selain itu dia juga menjabat sebagai anggota DPR pusat. Dewi, ibu Narendra yang juga seorang artis terkenal yang sering nampang di layar kaca. Karena semua kegemilangan itulah Panji, bapak Rendra memaksa Rendra untuk tetap bersekolah dan hidup di lingkungan yang sebenarnya sangat tidak cocok bagi Rendra.itu semua tak lain, agar semua orang tidak tau bahwa Rendra putra Panji cacat. Dan itu akan menjadi aib bagi keluarga. Itulah yang selalu menjadi pedoman Panji. Sehingga Rendralah yang menjadi korban dari sikap otoriter itu. Dia harus berusaha matian-matian untuk memahami setiap kejadian yang sebenarnya bagi dia sangat menakutkan. Selain itu dia harus selalu berusaha untuk memahami setiap pelajaran yang diterimanya di sekolah. Dengan dibantu Erlangga Pratama, kakaknya yang menjabat sebagai direktur muda dua perusahaan sekaligus, dia menghafal beberapa pelajaran. Angga juga dikenal sebagai penulis dan pengamat bisnis. Dilihat dari semua prestasi yang diraihnya, maka pantaslah jika dia danggap sebagai seorang pria yang nyaris perfect. Dan ditengah kesibukannya itu, Angga masih harus mengurus semua kebutuhan Rendra. Mengajarinya ilmu tata bahasa, membantunya menghafal setiap rumus agar kemampuan Rendra bisa seperti anak seusianya. Untung Rendra memang mempunyai otak yang sangat jenius. Hasil test IQ-nya mencapai 189! Sebuah angka yang sulit dicapai oleh orang normal sekaipun.
Namun, sebuah perubahan besar terjadi dikeluarga Rendra. Orang tuanya cerai, dan mamanya pergi meninggalannya entah ke mana. Rendra sangat terpukul dengan perubahan itu. Dia menjadi seorang pendiam dan benar-benar hanya hidup di dunianya sendiri. Tak ubahnya seperti boneka buatan yang sangat mirip dengan manusia. Rendra tak pernah mau berbicara dengan siapapun. Dia manjadi orang dingin yang misterius. Dia hidup dengan para terapis dan dengan jadwal hidup yang harus dia jalani. Benar-benar seperti robot yang dikendalikan. Setiap hal yang akan terjadi dan yang akan Rendra lakukan sudah terjadwal. Tak boleh ada yang berubah sedikitpun. Kalau ada yang tak sesuai dengan jadwal meski hanya hal sepele, maka Rendra akan mengamuk sejadi-jadinya. Itulah bahasa satu-satunya yang bisa Rendra lakukan agar orang disekitarnya mengerti kemauannya.
Rendra menjadi pemuda yang begitu dingin dan misterius. Berbagai kejadian mengerikan terjadi di sekitar Rendra. Pembunuhan, penyiksaan, penganiayaan, dan kematian selalu menimpa orang-orang terdekat Rendra. Bahkan, keempat teman sekolah Rendra mati terbunuh. Dan setiap terjadi pembunuhan, Rendra selalu berada di
Rendra dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain. Namun, penyiksaan, penganiayaan, dan pembunuhan tetap terjadi di sekitar Rendra. Semua orang semakin membenci dan menjauhinya. Hanya Rahardian, kakak Rendra yang nomor dua yang tetap baik dan perhatian pada Rendra. Ian (nama panggilan Rahardian) selalu memberikan buku-buku dan hadiah yang behubugan denga sejarah Yunani/Romawi kuno. Rendra sangat menyukainya. Bahkan, Rendra sanggup menghapalnya hanya dalam waktu semalam. Dan Ian akan selalu menghadiahi Rendra buku-buku itu meski dengan jalan sembunyi-sembunyi. Karena Panji telah mengusir Ian dari rumahnya.
Diluar dugaan, alur hidup yang dialami oleh Rendra (hampir) sama persis dengan salah satu tooh dalam sejarah itu. Hades, sang dewa dunia kematian dalam mitodologi Yunani/Romawi kuno. Dialah satu-satunya dewa yang hidup di underworld, dunia orang-orang mati dalam mitos Yunani/Romawi kuno. Lalu,benarkah Rendra terobsesi dengan tokoh Hades dalam sejarah Yunani/Romawi kuno itu? Benarkah dia yang melakukan semua penyiksaan dan pembunuhan-pembunuhan itu agar membuatnya seolah dewa kematian yang hidup di jaman sekarang? Sanggupkah orang yang mempunyai kelainan jiwa seperti Rendra melakukan hal-hal sekeji itu, sedang untuk memahami lingkungan sekitar saja dia tidak bisa? Benarkah dia Hades? Bukankah Hades hanya dewa penguasa dunia kematian, dan bukan Hadeslah kematian itu sendiri? Bukankah kematian itu sendiri adalah Thanatos? Lalu, siapa Thanatos sebenarnya? Benarkah dia ada? Temukan jawabannya dalam novel Hades (Seduah Novel Sang Autis).
Benar-benar sebuah novel yang sangat menakjubkan. Diuraikan dengan bahasa yang sangat memukau, hingga membuat kita seolah berada di dunia yang diciptakan oleh sang penulis. Sebuah dunia yang penuh dengan misteri, menakutkan, dan menegangkan. Konflik yang ditampilkan pun sangat meyakinkan, seolah konflik itu benar-benar terjadi di dunia nyata. Konflik keluarga yang sering kita lihat di layar kaca. Tentang sebuah keluarga yang sangat mementingkan nama baik dan kehormatan keluarga dari pada kebahagiaan anggota keluarga itu sendiri. Setiap untaian katanya mampu menyedot seluruh pehatian kita, dan membuat kita berdebar dan penasaran sebelum mengunyah habis seluruh isi novel ini.
Selain itu, dengan membaca novel ini kita akan sadar, betapa penting peran keluarga terhadap tumbuh kembang serang anak. Baik dari segi sikap, mental, dan cara pandang. Tapi sayang, dalam novel ini penulis (kayaknya) kurang bijak dalam menempatkan ending terhadap Rendra, seorang yang autis. Seolah sang Hadeslah menjadi rakyat jelata yang tertindas dan teraniaya. Bukan dewa yang munguasai dunia kematian. Sedang Thanatos hanya sedikit menuai getah dari perbuatannya. Itupun setelah membuat orang sekitarnya tersiksa. Namun hal itu sama sekali tak mengurangi kualitas dari novel ini. Mungkin penulis punya maksud tersendiri dalam memilih ending itu. Wallahu a’la.
**05-02-10, Neo Rizoma Class XI IPA MA 1 Annuqayah Putri
Untuk Saudaraku yang baru “Trim’s udah mo minjemin novelnya.
Note: Pernah dimuat di Buletin KOMPAk edisi perdana

0 komentar:
Posting Komentar