Kubalut Lukaku dengan Senyum Palsuku
“Kembalilah sekarang ke pondok”. Kata Bapak padaku. Dia terbaring tak berdaya. Tekanan darah tingginya kambuh lagi. Menyebabkannya tak bisa bergerak, walau sekedar untuk duduk menyantap bubur yang di masak oleh Emak.
“Tapi Pak, Fani ingin di sini, menemani Bapak”. Ucapku sambil berusaha menahan tangis. Dadaku sesak. Kata-kataku tercekat di tenggorokan membuatku terasa tercekik.
“Kembalilah. Bapak tidak apa-apa. Tugasmu adalah belajar”. Ucapnya lagi. Aku tertunduk, tak mampu menatap wajah Bapak yang pucat.”Kalau ada apa-apa bilang ke kakakmu. Nanti kalau Bapak sudah sehat, Bapak akan ke pondok, menemuimu”. Lanjut Bapak sambil terbata. Dadaku semakin sesak. Rasa sakit menyerang di sebelah kiri dadaku. Seolah ada yang menusuk-nusuk jantungku. Mengalirkan rasa panas, dan sakit ke sekujur tubuhku. Menjadikanku menggigil.
“Kembalilah nak. Di sana sudah ada kakakmu sebagai pengganti Bapak. Dialah yang akan mengurusimu”. Ucap Bapak seolah berwasiat. Aku bangkit dan berlari ke kamarku. Dadaku sudah tak mampu menahan rasa sesak. Air mataku mengalir deras tanpa mampu kubendung lagi. Aku menangis sambil duduk bersandar di pintu kamarku.. Kemungkinan-kemungkinan buruk berkelebat di otakku. Menjadiakan tangisku semakin pecah. Terbayang sudah kehidupan yang suram tanpa adanya Bapak. Apa yang akan terjadi jika itu benar-benar manimpaku?
Tiba-tiba kurasakan ada tangan menyentuh pundakku. Aku menoleh. Serta merta Emak meraihku ke dalam pelukannya. Aku semakin terisak. Air mataku membasahi bajunya yang sudah lusuh. Kurasakan dadanya naik turun. Detak jantungnya dapat kudengar dengan jelas.
“Kembalilah Nak. Itu adalah permintaan Bapakmu. Tenanglah, di sana sudah ada kakakmu”. Ucapnya sambil berusaha meredakan tangis. Kuangkat kepalaku untuk menatapnya. Mata keriputnya sembab. Pipinya tak lagi kencang, di gerus usia dan berbagai guncangan hidup. Menjadikanya lebih tua dari umurnya.
“Tapi Mak. Aku tidak enak sama kakak. Selama ini aku sudah banyak menyusahkannya. Sedangkan dia bukan kakak kandungku”. Ucapku semakin terisak. Kembali kusandarkan kepalaku. Terbayang wajah kakak di benakku. Semua yang dia lakukan selama ini seolah terputar kembali. Dia rela mundar-mandir ke pondokku demi mengurus semua keperluanku. Padahal kutau, dia bukanlah orang yang sepi dari berbagai kegiaan dan pekerjaan. Bahkan dia sampai rela tidak ikut UAS demi menjagaku di rumah sakit.
“Emak ngerti perasaanmu. Tapi mau bagaimana lagi Nak. Kau tau sendiri keadaan Bapakmu seperti apa. Sedangkan kami tak punya anak laki-laki. Hanya dialah yang dapat menggantikan tugas bapakmu”. Ucap Emak, membuat dadaku semakin sesak. Aku semakin terdiam, mencoba menetralkan ritme pernafasanku. Segala rasa memenuhi dadaku, rasa sakit di dada sebelah kiriku semakin terasa. Menjadikanku semakin sulit bernafas. Tak ada kata yang mampu terucap dari bibirku. Lidahku terasa kelu. Semua yang ingin kuucapksn seolah tercekat tenggorokan.
“Kembaliah Nak. Turuti permintaan Bapakmu”. Emak kembali berucap.
“Tapi Mak. Aku ingin menemani bapak. Aku takut..….” Kataku tak mampu melanjutkan.
“Tenanglah. Tak akan terjadi apa-apa dengan Bapakmu. Emak yang akan menjaganya.”. Katanya sambil menatapku. Mencoba meyakinkanku bahwa tidak akan terjadi apa-apa dengan Bapak.” Izinmu di sekolah Cuma sampai besok. Kasihan kakakmu kalau harus ke sana lagi untuk minta izin. Sekarang ayo kemasi barang-barangmu”.lanjutnya.
Aku melangkah. Meraih tas ransel di gantungan. Emak menatapku lalu mengusap kepalaku sebalum berlalu ke kamar Bapak. Aku keluarkan pakaian yang akan aku bawa dari dalam lemari. Lalu satu persatu aku memasukannya ke dalam tas. Setelah selesai aku mengganti pakaianku, membasuh mukaku lalu merapikan jilbabku di depan cermin. Aku meraih tas rasel yang tergeletak di tempat tidur, mencangklongnya, lalu melangkah ke kamar Bapak untuk berpamitan.
Malihatku, Bapak tersenyum sambil menahan sakit. ku sunggingkan senyumku dengan susah payah. Ku lihat dia mulai mengatur nafasnya. Mungkin akan berucap sesuatu. Tapi tak kudengar apapun selain batuk yang semakin mengguncang tubuhnya. Aku terkesiap, tulang betisku seolah patah, tak mampu menyangga tubuhku, membuatku terduduk tanpa tenaga. Kulepas ransel yang menggantung di pundakku, serta-merta ku dekap tubuh Bapak dalam pelukanku. Air mata kembali mengalir deras di pipiku.dapat kurasakan detak jantung Bapak. Nafasnya terdengar jelas di telingaku. Bayangan-bayangan buruk kembali berkelebat. Kupejamkan mata untuk mengusir semua perasaan itu dari benakku.
Nafas Bapak mulai teratur. Batuknya sudah berkurang. Aku melepaskan dekapanku. Kutidurkan dia di bantal dengan hati-hati. Emak menyentuh pundakku. Mencoba mengalirkan kekutan padaku. Aku menoleh sambil menggeleng. Ku sandarkan kepalaku di dadanya. Mencoba meredakan segala rasa yang berkecamuk di dada.
”Nak.....”. suara Bapak pelan memanggilku. Aku menoleh. Bapak kembali tersenyum sambil meringis menahan sakit. Dia kembali mengatur nafasnya.”Sampaikan salam Bapak ke kakakmu. Bilang, bapak minta maaf tak dapat mengembalikan uangnya sekarang”. Lanjutnya dengan terbata. Kuingat Bapak memang pinjam uang ke kakak untuk membayar biayaku waktu di rawat di rumah sakit kemarin. Dadaku semakin terasa sesak. Bapak menatapku lekat. Berharap aku menjawab ’ya’. Ku anggukkan kepalaku dengan sangat terpaksa. Dalam hati aku mengutuki diriku karena tak mampu menolak keinginan Bapak untuk kembali ke pondok. Padahal aku sangat ingin menemani bapak saat sakit seperti ini, mendampinginya menjalani hari, dan merawatnya sampai dia sembuh. Tapi Bapak malah menyuruhku kembali ke pondok dengan alasan takut ketinggalan pelajaran. Dan aku tetap tak bisa menolak keinginannya.
Huh.............. aku mendesah. Mencoba mengurangi rasa sesak di dadaku. Emak meletakkan tas ransel di pundakku. Ku lihat Bapak kembali tersenyum, mengangkat tangannya untuk ku jabat. Aku maeraih tangannya dan mencuimnya. Air mataku kembali mengalir. Kucium wajah Bapak dengan penuh kasih. Dalam hati aku berdoa semoga ini bukan terahir kalinya aku melihat Bapak.
Aku bangkit, mencoba menegakkan tubuhku. Bapak kembali tersenyum. Aku kembali mendesah. Kembali aku tersenyum untuk mebalas senyum Bapak, walau dengan susah payah.
”Pak, Fani berangkat ya. Fani akan selalu merindukan dan mendoakan Bapak di pondok”. Ucapku dengan susah payah. Bapak mengangguk. ”Assalamu’alaikum”. Lanjutku. Aku melangkah keluar, Emak mengantarku sampai halaman.
”Hati-hati di jalan ya Nak”. Katanya dengan nada cemas.. Aku tau dia pasti sangat berat melepasku. Karena baru kali ini aku kembali ke pondok dengan naik taksi. Biasanya Bapak yang selalu mengantarku.
Aku mengangguk. Kuraih tanggannya dan menciumnya. Emak memelukku dengan erat. Air matanya kembali mengalir. Lalu dia melepaskan pelukannya. Menghapus air mataku dan mencium keningku. Aku mengucap salam sambil menjauhinya. Kulihat Emak masih menatapku sampai aku berbalik di tikungan.
@@@
Sudah dua hari aku di pondok. Kabar ’miring’ tentang aku dan kakak mulai terdengar. Dalam hati aku tidak menyalahkan mereka. karena siapapun yang tidak mengetahui masalah yang sedang kuhadapi pasti akan berfikir yang macem-macem kalau melihat keakrabanku dengan kakak. Apalagi dia hanya kakak sepupuku, bukan kakak kandungku. Tapi yang membuatku bingung: kenapa baru sekarang kabar itu ada, bukankah sudah dari dulu aku akrab dengan kakak. Sejak aku baru menginjak kelas satu MA dan Bapak mulai sakit-sakitan. Apakah karena kakak sering ngisi acara beberapa hari ini. Jadi mereka baru tau kalau dia adalah orang yang sering memanggilku ke kantor pondok?
Ugh... aku mendesah panjang. Rasa penat menguasai kepalaku. Menciptakan rasa pening yang begitu menggangguku. Kembali kuteringat semua kebaikan kakak selama ini. Aku takut semua yang kakak lakukan untukku akan membuahkan sesuatu yang tak mengenakkan, yang akan merusak reputasinya. Apakah ini balasanku kepada kakak, setelah semua kebaikan yang kakak lakukan untukku? Inikah yang di maksud: air susu di balas dengan air tuba?
Aku semakin bingung. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menjauhi kakak? Benarkah ini jalan yang terbaik? Lalu bagaimana kalo aku membutuhkan bantuannya? Bukankah aku selalu membutuhkannya sebagai pengganti Bapakku? Aku membantin. Seribu tanya menumpuk di kepalaku, membuatku semakin bingung. Satu sisi aku ingin menjahuinya. Tapi di sisi lain aku sangat membutuhkannya. Dia bagaikan seorang bapak bagiku. Aku menyayanginya seperti kakakku sendiri. Bahkan mungkin lebih. Karena selain sebagai pengganti Bapak, dia sudah menjadi penganti Zuhli,kakakku yang sudah tiada.
Betapa besar pengorbanannya buat keluargaku. Telah rela dengan ihlas menerima amanah dari bapak untuk menggantikan tugasnya sebagai seorang ayah buatku. Padahal aku tau itu bukan hal yang mudah bagi dia. Walaupun sudah kuliah, tapi secara umur dia tetap belum pantas untuk mengemban amanah jadi seorang Bapak. Tapi entah kenapa Bapak begitu percaya padanya. Mungkin karena Bapak telah tau bagaimana sifat kesehariannya di rumah.
Ugh......... aku semakin mendesah ingin rasanya aku berteriak. Tapi itu tak akan mengurangi bebanku. Malah mungkin hanya akan menambah masalah baru
Karena para santri di sekitarku akan mengira kalau aku sudah gila. Ku pegang kepalaku yang terasa pusing. Tiba-tiba mata tertumpu pada sebuah buku bersampul hijau. Itulah buku Diaryku. Aku meraihnya lalu membukanya, mencoba mencari-cari lembar yang masih kosong.
Jumat ,24 April 2009
Ry.. ! Apa yang harus aku lakukan. Haruskah aku menjahuinya hanya karena ’berita miring’ itu. Sedangkan kau tau.....? selama ini:
Saat aku sakit, dai datang membawa obat
Saat aku rapuh, dia hadir menjadi penyagga
Saat aku menangis, dia hapus air mata dengan canda dan tawa
Saat aku menjadi serang anak yang terlantar
Dia datang sebagai seorang ayah yang penuh perhatian dan kasih sayang
Saat aku sebagai seorang adek kebingungan
Dia menjelma sebagai seorang kakak yang memberi perlindungan dan petunjuk jalan
Saat aku sebagai sebagai pasien yang terkapar tak berdaya
Dialah dokter yang paling telaten dan bersahaja
Saat aku terpuruk dalam keputus asaan
Dia ciptakan sebuah mimpi dan pengharapan
Saat noraniku kerontang kerena kegelisahan
Dia taburkan sejuta fatwa pnguat jiwa
Saat aku mulai berontak pada takdir tuhan
Dia paparkan tentang taqwa dan keihlasan
Saat aku sebagai fakir yang kelaparan
Dialah rang yang paling dermawan
Saat ruang dan jarak tak dapat dia tempuh
Dia titipkan aku pada orang yang paling tangguh
Yaitu:Bunda!!!!
Lalu haruskah aku sekarang menjuhinya......?!
Aku membenamkan wajahku ke bantal. Air mata sudah tak mampu kubendung lagi. mengalir membasahi pipiku. Aku tak mampu membayangkan apa yang akan terjadi setelah aku menghindar dari kakak. Bagaimana kalau ada urusan yang membutuhkan peran seorang bapak. Bukankah sebentar lagi Semister Genap akan di laksakan. Sedangkan aku balum melunasi uang buku paket. Lalu aku harus minta uang sama siapa? Bukankah selama ini aku selalu pinjam uang ke kakak untuk membayar biaya pondok dan sekolahku. Karena ekonomi keluargaku sedang sekarat. Apalagi Bapak sudah tidak bisa menggarap sawah sejak beliau sakit. Sebagai petani cara itulah satu-satunya sunber penghasilan keluarga kami. Lalu apa yang akan kulakukan? Haruskah aku putus sekolah? Aku membatin.
Tiba-tiba aku merasakan ada sebuah tangan menentuh pundakku. Aku mengangkat kepalaku. Kudapati bak Tin duduk menatapku. Dialah yang biasa kupanggil Bunda. Kuhapus air mataku dengan cepat. Lalu kusunggingkan senyum. Berharap bak Tin tidak bertanya apa-apa padaku. Aku memang selalu tersenyum untuk menyembunyikan segala kegetiran hidup yang sedang kualami. Karena tak ingin ada orang yang tau. Apalagi kalau itu menyangkut masalah keluarga.
”Tak usah kau bersusah payah tersenyum untuk menutupi kesedihanmu. Karena aku tau senyummu itu cuman terpaksa. Ayo ceritakan masalahmu pada Bunda. Itusih kalau kamu mau”. Kata Bak tin padaku. Aku berfikir sejenak. Haruskah aku menceritakannya pada masalahku padanya? Bukankah seama ini dia yang merawatku, dan mengantarkanku ke POSKESTREN untuk terapi. Dan kakak telah menitipkan aku ke padanya. Aku membatin. Ahirnya aku menceritakan semua masalahku, mulai wal sampai ahir. Bak Tin menyuruh ku berterus terang ke kakak. Agar di peroleh pemecahan yang tepat dan lebih bijak. Aku hanya mengangguk. Dalam hati aku membenarkan sarannya.
Aku bangkit meraih kerudung berwarna putih di atas lemari.mengekannya dan merapikannya di depan cermin.
” Mau kemana?” Tanya Bak Tin padaku.
”Mau nelpon kakak. Ikut yuk Bunda”. Kataku sambil menarik-narik tangannya.
”Tunggu, Bunda ambil kerudung dulu..” Katanya sambil bangkit.
” Assalamu’alaikum”. Ucapku saat telpon di sebrang di angkat.
” Wa’alaikum salam. Ada apa Dek, kok nelpon?”. suara di seberang menjawab. Ternyata yang ngangkat telponnya memang kakak.
”Pokoknya mulai sekarang kita jaim kak. Biar gak ada ’kabar miring’ tentang adek dan kakak”. Kataku
”Lho.. memang ada apa? Coba jelaskan dulu. Kakak gak ngerti”. Aku ceritakan semua kabar yang kudengar tentang aku dan kakak. Di luar dugaan kakak hanya tertawa mendengar ceritaku.
” Pokoknya kita harus jaim”..tegasku.
” Kalau yang di maksud Adek jaim, jaga iman. Kakak sangat setuju. Karena itu merupakan keharusan bagi kita. Tapi kalo maksud Adek, jaga image, kakak kurang setuju. Karena walaupun kita benar menurut pandangan Allah belum tentu benar menurut pandangan manusia. Lagian kakak takut, kalo kita terlalu mempreoritaskan penilaian orang lain dalam setiap prilaku kita, kakak hawatir tidak bisa menjaga hati. Sehingga kita menjadi orang yang munafik, yang hidup dengan kepura-puraan, dan hanya menginginkan kita benar dalam pandangan orang lain, sampai kita menjadi orang riya’. Apa Adek mau kayak gitu?”
Aku diam. Tak tau harus menjawab apa. Semua yang kakak katakan memang benar. Berdebatpun aku percuma. Kakak nggak akan tau bagaimana perasaanku.
”Sudahlah, tidak usah perdulikan gosip itu. Nanti akan hilang sendiri.”
”Adek tak mau nama baik kakak rusak gara-gara adek.”.
”Adek gak usah takut. Nggak bakal kek gitu kok. Lagian seandainya itu terjadi, biarkan saja. Toh kakak tak akan kekurangan apa-apa. Anggap saja itu yang terbaik.......”
Tapi Adek gak enak sama kakak”. Sergahku
”Sudah jangan terlalu di pikirkan. Adek gak salah kok. Dan gak ada yang harus di salahin dalam hal ini. Mereka ’kan gak tau kalo adek ’di titipin’ ke kakak. Jadi mereka juga gak salah.”
@@@
Matahari belum sempurna menyemburkan sinarnya pada lingkaran alam. Embun masih bergulir, berjatuhan di dedaunana. Berkilauan ditimpa sinar matahari pagi, bak mutiarayang bertaburan. Burung pipit berkicauan di dahan-dahan. Seoalah menyambut pagi dengan dzikir yang panjang. Memuja keagungan dan kekuasaan Tuhan yang tak terbatas. Aku melangkah dengan terburu-buru menuju kantor OSIS yang dijadikann posko tim proyek untuk sementara, sebelum posko yang baru jadi.
Tak ada satu pun orang di posko. Akulah manusia pertama yang muncul pagi ini. Aku sengaja berangkat pagi, karena ingin me-layout newsletter sebelum diterbitkan.
Sekarang hari Jumat. Hari yang paling ditunggu-tunggu oleh para santri. Karena mereka akan bertemu dengan orang tua mereka. Kebanyakan para orang tua santri akan mengunjungi putranya pada hari Jumat. Karena pada hari itulah sekolah libur.
Aku duduk di depan komputer, mencoba berkonsentrasi pada pekerjaanku. Bayangan Bapak berkelebat di pelupuk mata. Sudah satu minggu lebh aku di sini. Tapi sampai sekarang tak ada kabar tentang keadaan Bapak. Waktu aku nelpon beberapa hari yang lalu, ternyata kaka iparku yang ngangkat. Dia bilang Bapak sedang beristirahat. Aku sudah tau kalau yang dimaksud Bapak sedang beristirahat adalah kata lain dari Bapak sedang sakit.”Jadi Adek nggak bisa ngomong sama Bapak”. Itulah kata yang selalu dikatakan oleh keluargaku setiap kali aku menelpon. Akupun hanya bisa menelan ludah dan menahan tangis agar tak pecah.
”Dek, Fany! Boleh minta tolong?” suara itu mengangetkanku. Kuhapus air mata yang sudah mulai mlelh lalu menoleh, mencari sumber suara. Ternyata Mbak Dian sudah berdiri di depan pintu.
”Ya, Bak. Ada yang bisa Fany bantu?”
”Tolong copy undangan ini jadi lima belas lembar, nanti kalau sudah selesai antarkan ke kantor ya,” lanjutnya.
”Baik, Bak”, jawabku.
@@@
Aku duduk di depan kantor pondok menunggu surat itu selesai di-copy. Kulihat di dalam kantor banyak teman-temanku. Mereka bersenda gurau dan bermanja ria dengan kelurga mereka.
Seandainya aku yang menjadi mereka, betapa bahagianya... Batinku. Mataku mulai panas, mungin air sudah mulai menggenangi muara di mataku. Hatiku mulai bergejolak mempertanyakan keadalilan Tuhan. Aku mulai merasa Tuhan tak adil padaku.
Kenapa mereka punya keluarga yang sehat, yang dapat mengunjungi ereka setiap minggu atau setiap bulan. Sedangkan aku nggak, hanya kakak yang selalu mengunjungiku. Itupun bukan kakak kandungku. Kenapa juga Allah mengambil Kak Zuhli? Dia kan kakak kandungku. Tuhan tak adil padaku. Jerit hatiku.
Dada sebelah kiriku nulai terasa sakit. Mengalirkan rasa nyeri ke seluruh tubuh. Aliran darah di tubuhku seolah berhenti. Menjadikan pembuluh darahku mengejang. Menimbulkan rasa nyeri, serasa organ di tubuhku terpisah-pisah dan tak berfungsi. Aku bangkit lalu berlari dengan cepat menuju kamar mandi. Agar aku dapat menangis dengan laluasa, menumpahkan segala rasa yang berkecamuk di jiwa. Aku memang paling nggak bisa menangis di depan orang lain. Agar mereka tak tahu masalahku. Walau terkadaang muara yang telah menganak sungai di mataku pecah juga.
”Lho... kok Dek Fany di sini? Tadi Adek dipanggil di airphone. Mungkin dikunjungi,” kata Bak Aisy mengagetkanku. Dia berdiri, menatapku dengan heran. Tangannya memegang cebok warna hijau.
”Kok, Adek nangis? Ada apa?” tanyanya.
”Nngak Mbak. Fany nggak apa-apa kok”. Kataku buru-buru menghapus air mata.”Kalo begit, Fany ke kantor dulu ya, Bak.” lanjutku sambil tersenyum, lalu melangkah keluar kamar mandi, berharap Mbak Aisy mempercayai kebohonganku. Aku melangkah dengan cepat.
Pasti Bapak yang mengunjungiku. Kakak ’kan lagi ke Jogja, jadi tak mungkin dia. Aku melangkah sambil tersenyum, hilang sudah rasa kecewa dan sedihku, karena sebentar lagi aku akan segera bertemu dengan Bapakku setelah hampir satu tahun dia tak pernah mengunjungiku. Ingin rasanya kupotong jalan di hadap[anku, agar aku bisa cepat sampai di kantor pondok.
@@@
Kini aku sudah berdiri di depan kantor pondok. Perlahan kubuka pintunya dan... ternyata bukan Bapak yang kulihat. Tapi Oom yang mengunjungiku. Kesedihan kembali menyeruak, rasa kecewa mulai bertahta di jiwa, menjadikannya tak mampu menampung. Hingga keluar ke tenggorokan, menimbulkan rasa sakit seolah tercekat. Sehingga tak mampu mengeluarkan kata meski hanya sekedar tuk berucap salam.
”Rony sakit, sudah beberapa hari dia di rawat di rumah sakit. Emmakmu ada di sana. Tadi, dia nggak ikut ke sini, karena buru-buru, ingin cepat pulang. Soalnya nggak ada yang ngejaga Bapakmu di rumah,” kata Oom padaku. Rasa nyeri kembali menyerang dada kiriku. Disusul dengan segala rasa yang tak mengenakkan mulai menjalar keseluruh tubuh.
”Lalu bagaimana keadaan Bapak sekarang?” tanyaku dengan susah payah. Namun, Oom tak menjawab, dia hanya menunduk menekuri lantai keramik berwarna putih. Rasa nyeri di sekujur tubuh tak dapat kutahan. Dadaku seolah di belah dengan pedang yang sangat tajam. Pembuluh darahku mengejang, menjadikan tubuhku gemetar. Kurasakan bumi berputar dengan cepat. Lalu gelap merajai dunia...

0 komentar:
Posting Komentar