Jumat, 13 Agustus 2010

Rahasia Tuhan

Pria muda itu bernama Ar-Rayyan, yang akrab disapa Ryan. Meski usianya masih sangat muda, tapi kepintaran dan kecerdasannya tak bisa dipungkiri. Dalam usianya yang masih sangat muda, dia telah memimpin dua perusahaan sekaligus. Selain itu dia juga dikenal sebagai orang yang pintar dalam tulis menulis. Artikelnya sering mampang dibeberapa media. Tulisannya selalu berbau pemberontakan dan sindrian terhadap segala tipu daya yang dilakukan oleh pemerintah lewat kebijakannya. Jadi tak heran jika dia sering berurusan dengan polisi karena tulisan-tulisannya. Selain itu Ryan juga terkenal sangat dermawan dan peduli terhadap nasib orang rendahan. Sikapnya yang ramah dan bersahaja, semakin menambah karismanya, baik di mata para karyawan atau pun di mata rekan bisnisnya. Dengan segala kesuksesan yang telah diraihnya dalam usia yang terbilang cukup muda, pantaslah jika Ryan dibilang seorang pria yang hampir sempurna, dan menjadi impian setiap wanita. Tapi sayang, sampai detik ini dia belum berkeluarga. Padahal dia termasuk salah satu pria dengan jumlah surat cinta terbanyak sejak dia masih duduk di bangku kuliah.
 “Assalamualaikum…!” ucap seseorang sambil mengetuk pintu. Ryan terperanjat dari lamunannya. Dengan cepat diletakkannya foto ditangannya ke dalam laci.
“Waalaikumsalam,” Ryan menjawab salam. Pintu terbuka, seorang wanita dengan busana rapi menyembul di balik pintu. Ryan terpana menatap gadis itu. Gadis yang selama ini telah mampu mencuri hati Ryan, dan memenjaranya dalam sebuah ruang yang penuh harap. Ya, gadis itulah yang berada di foto tadi.
“Maaf, Pak kalau mengganggu. Ini file-file yang harus ditanda tangani oleh Bapak.” Ucapnya lembut penuh santun.
“Oh…iya. Silahkan duduk dulu,” ucap Ryan mempersilahkan. Rany, yang bernama lengkap Maharany itu duduk. Ryan mulai membolak-balik berkas-berkas di hadapannya sebelum menanda tanganinya. 
“Bagaimana dengan perusahaan Sinar Jaya itu? Apa Bayu sudah memeberi kabar? Terus apa kamu membawa catatan keuangannya yang dari sana? Soalnya mereka complain ke saya, katanya sudah tiga bulan terakhir ini jumlah barang yang mereka dapat tak sesuai dengan jumlah barang yang mereka pesan,” Tanya Ryan sambil menanda tangani berkas-berkas di hadapannya.
“ Bayu belum memberi kabar apa-apa, Pak. Masalah catatan keuangannya saya sudah cek. Uang yang mereka berikan memang sesuai dengan yang mereka sampaikan pada Bapak. Dan jumlah barang yang dikirim dari sini juga sudah sesuai dengan jumlah pesanan mereka. Tapi,setelah saya cocokkan catatan pengeluaran barang dengan catatan jumlah barang yang diterima oleh perusahaan itu, memang ada selisih yang cukup besar.bahkan, hampir separuh, Pak.”
“Maksud kamu?” Tanya Ryan tak mengerti.
“Iya, Pak. Keluhan mereka itu memang benar. Dalam buku penerimaan barang itu memang tercatat tidak sesuai dengan jumlah barang yang tertera dicatatan jumlah pengeluaran barang. Hal itu baru saya ketahui tadi malem setelah saya membongkar lemari tempat file-file yang ada di pojok ruangan kerja saya. Saya tau, kalau lemari itu sebenarnya tak boleh dibuka. Tapi saya terpaksa membukanya untuk mencari data yang berkaitan dengan perusahaan ini sebelum perusahaan ini dipegang Bapak,” Rany menjelaskan panjang lebar. Alis Ryan semakin berkerut pertanda mendengar penuturan Rany.
“Lho… bukankah di buku tanda terima itu jumlah yang diterima sudah sesuai dengan jumlah yang mereka pesan?”
“Tidak, Pak. Itu catatan palsu. Saya menemukan catatan yang asli di lemari itu. Ini dia catatannya, Pak.” Kata Rany sambil menyodorkan buku di tangannya. Lalu dia membandingkan antara buku catatan yang ditemukannya dengan buku catatan yang semula. Ryan memperhatikannya dengan seksama, menikmati wajah ayu di hadapannya. 
“Jadi, kamu yakin ada yang sengaja melakukan ini semua?”
“Iya, Pak. Saya yakin sekali. Meski sampai sekarang saya tidak bisa menduga, siapa yang ada di balik semua ini.” 
“Lalu, kirakira kenapa orang itu melakukannya? Apa gaji yang diberikan oleh perusahaan ini belum cukup? Atau dia ingin menghancurkan perusahaan ini?” 
“Bisa saja dugaan itu benar, Pak. Karena saya yakin, yang melakukan ini pasti orang yang sudah mengetahui betul seluk beluk perusahaan ini. Lihat saja, pemalsuan tanda tangan Bapak dan tanda tangan derektur perusahaan Sinar Jaya, bahkan cara dia menyimpan catatan yang asli ini di lemari itu sudah menunjukkan kalo orang itu sudah lama berada di kantor ini.”
“Kalau begitu, kamu selidiki siapa yang melakukannya. Kalau ada hal-hal yang mencurigakan, segera kasih tau saya. Kita harus bergerak cepat. Tapi,untuk sementara jangan sampai ada yang tau tentang hal ini. Cukup kita berdua saja. Baru setelah jelas orangnya siapa, kita kasih tau yang lain.”
“Baik, Pak,” jawab Rany sambil mengangguk. Dia memang sudah hampir tiga tahun bekerja menjadi asisten Ryan. Dia merasa cocok menjadi asisten Ryan. Karena Ryan selalu memberi keleluasaan baginya untuk berpendapat. Padahal dia tau, Ryan sangat cerdas. Jadi dia tak perlu bertanya pada siapapun tentang langkah apa yang harus dia ambil. Apalagi dia adalah pemimpin di perusahaan ini. Tapi, Ryan tak melakukannya. Sikap itulah yang membuat Rany semakin mengaguminya.
“Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak.” Lanjut Rany.
“Oh iya, silahkan,” jawab Ryan. Rany mulai beranjak dari kursinya.”Eh, Ran. Tunggu!” seru Ryan cepat. Rany yang sudah di ambang pintu segera menoleh.
“Apa nanti malem kamu ada acara?” Tanya Ryan tiba-tiba. Ryan berdiri menunggu jawaban. Rany berbalik.
“Emangnya ada rapat entar malem, Pak?” Tanya Rany sambil mengingat-ngingat mungkin dia lupa.
“Oh... nggak. Saya hanya… hanya pengen ngajak kamu makan malem,” ucap Ryan. Dalam hati dia ragu, takut ajakannya itu membuat tersinggung hati wanita berjilbab di hadapannya.dan karena hal itulah Ryan tak pernah berusaha untuk pedekate dengan orang yang sangat dicintanya. Bahkan, sejak saat interview Ryan sudah kagum melihat ketenangan dan kecerdasannya dalam menjawab semua pertanyaan Ryan.
Duh… kamu kok nggak ngerti juga ya, Ran bagaimana perasaanku sebenarnya padamu? Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku harus bersikap seperti apa agar kau mengerti perasaanku tanpa harus mengungkapkannya. Aku memang benar-benar tak bias dan tak tau untuk membahasakan perasaanku padamu. 
“Emm… pasti Bapak mau ngomongin masalah yang tadi di luar ya?” terka Rany. Seandainya Pak Ryan tak hanya mengajakku untuk membahas masalah kantor... Astaghfirullah… apa-apan aku ini, itu kan dosa? Samar Rany mengusap dadanya.
Ternyata kau benar-benar tak mengerti gadis kecil…! Keluh hati Ryan.
“Tapi, ma’af ya, Pak. Rany gak bisa. Ibu Rany sedang sakit. Jadi, Rany harus menemaninya di Rumah,” lanjut Rany dengan raut muka bersalah.
 “Oh… gak pa-pa. mungkin lain kali saja. Ngomong-ngomong, sejak kapan ibumu sakit?” 
.
“Sejak tiga hari yang lalu, Pak. Masalah yang tadi, kalo ada perkembangan biar Rany langsung lapor sama Bapak besok,” kata Rany yang masih mengira Ryan mengajaknya makan malam hanya untuk membicarakan masalah itu. Ryan terdiam, seolah ada yang sedang dia pikirkan.
“Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak. Assalamu’alaikum,” ucap Rany.
“Waalaikumsalam.” Jawa Ryan. 
Ibu Rany sakit. Bagaimana bisa Bayu tak memberi tauku tentang hal itu? Apalagi, ibu Rany sudah tiga hari sakit. Kemana saja Bayu selama ini? Bukankah dia sudah kutugaskan untuk mencari tau semua hal yang berkaitan dengan Rany? Karena aku benar-benar mencintai Rany dan ingin menikahinya. Bagaimana bisa hal sepenting itu Bayu tak melaporkannya padaku? Tanya Ryan dalam hati.
***
Rany semakin dekat dengan Ryan. Meski yang dibahas cuma seputar masalah kantor. Tapi, Ryan selalu mencari cara untuk bisa dekat dengan Rany. Pernah suatu ketika, Ryan nekat datang ke rumah Rany dengan alasan ada sesuatu yang ingin dia tanyakan berkaitan dengan kasus di kantor. Padahal yang sebenarnya dia ingin menjenguk ibu Rany yang sedang sakit. Rany sempat tersanjung Ryan mau menjenguk ibunya. Tapi ternyata, Ryan hanya mau menanyakan kasus itu. 
Akhirnya… Rany berhasil mengungkap kasus penyelundupan di kantornya. Pelakunya tak lain adalah orang yang bertugas mengirim dan mengantarkan barang-barang tersebut. Dia bekerja sama dengan sopir truk yang menjadi transportasi barang-barang itu. Tujuannya tak lain agar perusahaan yang menjadi relasi perusahaan Ryan tak percaya lagi dan mencari relasi lain. Ternyata bukan hanya barang-barang yang mereka selundupkan. Tetapi juga saham-saham yang lain. Tapi,untunglah pelakunya bisa cepat ditemukan. 
 Ryan mundar-mandir di ruangan kerjanya. Alisnya berkerut seolah sedang memikirkan sesuatu. Ada kecemasan dan tanda Tanya besar yang terlihat di raut wajahnya. Tapi,bukan masalah kasus di kantor yang membuatnya seperti itu. Melainkan karena hari ini Rany tak masuk. Kemaren Rany hanya menelpon untuk izin satu hari. Itu pun bukan Rany yang menelpon, tapi Rika teman satu kontrakan. Rany adalah karyawan yang sangat rajin dan tak pernah bolos kerja. Kalau berhalangan, pasti dia akan menelpon untuk minta izin. Tapi, hari ini tidak. Dia tak memberi kabar apa-apa, dan tak ada yang tau mengapa dia tak masuk. Bahkan Bayu yang disuruh untuk memata-matainya pun tak tau. Apalagi Bayu sekarang lagi ke luar kota. Ryan semakin gelisah. Pikirannya kacau, sibuk menerka-nerka apa yang terjadi dengan Rany. Padahal hari ini dia telah berencana untuk mengenalkan Rany kepada keluarganya, dan langsung melamarnya. Akhirnya Ryan memutuskan untuk mendatangi tempat tinggal Rany.
***
Ryan sampai di kontrakan Rany jam 12.30. 
Hampir jam makan siang. Sekalian saja entar kuajak Rany maka siang bareng. Ucap Ryan dalam hati. Dia semakin cepat melangkah. Mobilnya diparkir dipinggir jalan. Namun, baru saja Ryan akan mengetok pintu. Rany sudah muncul dengan membawa koper besar. Ryan terkejut bukan main, begtu pun Rany. 
 “Rany mau kemana?” Tanya Ryan cepat. Rany tak menjawab. Dia hanya menunduk menekuri lantai.
“Mari masuk dulu ke dalam, Pak,” ucap Rany sopan. Ryan menerima tawaran Rany. Sampai di dalam semua sudah tertata rapi.seolah Rany akan meninggalkan rumah kontrakan itu. Kamar ibu Rany pun tertutup rapat.
“Ibu Rany kemana? Kok pintunya di tertutup? Apa beliau di rawat di rumah sakit?” Tanya Ryan kemudian. 
Ibu Rany telah dipanggil Allah kemaren, Pak,” ucap Rany sambil tertunduk dalam. Kesedihan terpancar dari raut wajahnya. Bahunya berguncang menhan tangis.
“Innalillahi wainnailaihi raaji’uun…” ucap Ryan. “Jadi, karena itu Rany gak masuk kantor kemaren? Terus… kenapa Rany tak memberi tau saya, kalo ibu meninggal?” Tanya Ryan.
“Maafkan Rany, Pak. Kemaren Rany tak sempat berpikir ke arah itu. Untuk izin saja Rany lupa,” jawab Rany terbata. Bahunya semakin berguncang. Ryan semakin bingung untuk bersikap. Dia tak tau bagaimana cara menenangkan seorang perempuan. Karena selama ini dia tak pernah dekat dengan seorang perempuan kecuali dengan ibunya. Saudara perempuannya telah hilang sejak masih kecil,saat terjadi banjir yang besar. Dan sampai sekarang tak ada yang tau, gadis kecil_-begitu Ryan memanggil adeknya__ itu masih hidup atau telah mati. Karena saat banjir itu terjadi Ryan masih berumur Sembilan tahun dan Adeknya berumur lima tahun. 
“Lalu, sekarang Rany mau pergi ke mana?” tanya Ryan sambil melihat beberapa tas yang berjejer di dekat pintu.
“Sebenarnya, Rany juga gak tau mau pergi ke mana, Pak. Masa kontrak rumah ini sudah habis, dan Rany sudah tak punya siapa-siapa lagi di sini.” 
“Ran. Menikahlah denganku Ran. Lalu tinggallah bersamaku di rumah.” Ucap Ryan tiba-tiba. Rany terperanjak mendengarnya. kepalanya terangkat. Matanya lekat menatap mata Ryan.mencoba memastikan kalau apa yang didengarnya tak salah. 
“Menikahlah denganku, Ran. Sebenarnya aku ke sini untuk mencarimu. Karena nanti malam ortuku menyuruhku membawamu ke rumah. Mereka ingin mengenaLmu langsung. Bukan hanya dari ceritaku.”
“Maaf, Pak. Rany tau kalau Bapak itu orang yang sangat baik. tapi, Rany mohon jangan hanya karena kasihan sama Rany, lantas bapak mau mengorbankan hidup bapak.”
“Tidak, Ran. Saya serius. saya memang sangat mencintai kamu dari dulu. Tapi saya tidak mengatakannya, karena saya masih mau mencari waktu yang tepat, sekalian saya ingin mengenalmu lebih dalam. Dan, sekaranglah saat yang tepat untuk itu.”
“Tidak, Pak. masih banyak orang yang lebih pantas mendampingi Bapak. Di kantorpun banyak perempuan cantik, pinter, dan sederajat dengan Bapak. Jadi, untuk apa bapak berpura-pura cinta sama Rany, hanya untuk menolongku. Rany yakin, bapak hanya terbawa emosi.”
“Saya serius Ran. Saya tidak main-main. Saya memang sudah dari dulu mencintai Rany. Saya tau, masih banyak perempuan yang jauh lebih cantik dari Rany. Tapi, saya mencintai Rany bukan karena itu semua. Saya mencintai Rany bukan karena alasan apa-apa, karena saya juga tak tau kenapa saya mencintai Rany. Yang jelas saya sangat suka dengan kepribadian Rany,” kata Ryan meyakinkan. Rany terdiam tak menjawab. Dia masih belum percaya akan apa yang didengarnya. Meski dalam hati kecilnya, dia sangat berharap apa yang dengarnya bukan hanya mimpi belaka. Karena jujur, Rany pun menyimpan perasaan yang sama dengan Ryan selama ini. Tapi, dia tau diri, siapa dia dan siapa Ryan.
“Apakah Rany mau menjadi pendampingku dan menjadi ibu dari anak-anakku?” Tanya Ryan kemudian. Rany hanya diam terpaku di tempat.” Kalau diam, berarti ‘iya’. Begitukan menurut Hadits Nabi?” lanjut ryan sambil tersenyum.
***
“Assalamualaikum…” ucap Ryan ketika sampai di rumahnya. 
“Wa’alaikum salam…” jawab ibunya dari dapur. Ryan melangkah dengan riang manuju arah suaru ibunya. Wajahnya bersinar seperti mentari pagi. 
“Bu, tebak. Ryan bawa siapa?” Tanya Ryan sambil mencium tangan ibunya. Ibunya melihat Ryan dari atas sampai bawah. Tapi ada satu barang pun yang Ryan bawa. 
“Bukan di situ, Bu. Tapi di sini…” kata Ryan sambil menyingkir. Tampaklah wajah ayu yang sedang tersenyum manis. Ibu Ryan terpana melihat Rany. ada kebahagian yang menjalari hatinya. Seolah dia sudah lama mengenal Rany. Rany segera menunduk dan mencium tangan ibu Ryan.
“Gimana, Ryan gak boong kan, Bu? Dia memang wanita impian Ryan,” bisik Ryan pada ibunya. 
“Kamu salah, Ryan. Dia bukan perempuan impian kamu...” kata ibu Ryan. Ryan kaget mendengarnya. ”Tapi dia adalah menantu idaman ibu,” lanjutnya. Ryan memeluk ibunya erat. Rany hanya bisa tersipu di tempat.
“Ayo, Nak ke ruang keluarga dulu. Kebetulan Bapak Ryan juga sudah nunggu di sana. Sekalian kita makan siang bersama. Tapi, ibu tidak masak apa-apa lho... Ryan bilang masih entar malem dia mau bawa kamu ke sini. Dasar curang,” kata ibunya Ryan sambil pura-pura menjewer anaknya. Ryan pura-pura mengeluh ke sakitan. Lalu berlalu membawa Rany ke ruang keluarga. 
“Assalamu’aliakum, Pa. Ryan bawa Sesuatu lho… untuk Papa,” kata Ryan ketika sampai di ruang keluarga. 
“Waalaikum salam. Bawa apaan sih? Kok kayaknya special banget?” papa Ryan balik bertanya sambil meletakkan buku yang dibacanya.
“Emang special banget. Lihat, Ryan Bawa calon menantu Papa,” kata Ryan sambil menyingkir. Papa Ryan langsung mendongak.
“Assalmualaikum, Om,” sapa Rany sopan. Tangannya terkatup di depan dadanya.
“Waalaikum salam,” jawab Papa Ryan. Tangannya juga dikatupkan di depan dadanya. Ayo, silahkan duduk,” lanjutnya mempersilahkan Rany duduk. Ryan mencium tangan papanya lalu duduk di sampingnya.
“Kamu ini, janjinya masih nanti malem bidadarinya mau dekenalkan sama papa dan mama. Kok malah sekarang?” katanya sambil mengusap kepala anaknya. 
“Biasa… kejutan buat papa dan mama. Oh ya, gimana sama persis seperti yang diceritakan Ryan kan, Pa?” Tanya Ryan sedikit berbisik.
“Ngagak sama persis… tapi lebih,” kata papanya sambil tersenyum hangat. “Kamu memang pinter kalo di suruh milih. Tak percuma papa dan mamamu menunggu lama untuk berkenalan langsung,” lanjutnya. Rany semakin tersipu. Rany benar-benar tak menyangka kalau sikap Ryan di rumah beda jauh dengan yang di kantor. Masih suka manja. Benar-benar keluarga yang sangat harmonis. 
Rany menatap kearah sekitar. Rumah Ryan berlantai tiga dan sangat luas. Sangat besar dan mewah. Tiba-tiba mata Rany tertuju pada sebuah foto yang terpajang di dinding. Foto keluarga dalam ukuran yang sangat besar. Sepasang suami istri dengan dua orang anak sedang tersenyum di sana. Namun, bukan foto itu yang menarik perhatian Rany. Melainkan kalung leontin yang dikenakan oleh kedua anak itu. Rany bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan mendekati foto itu. Matanya lekat menatap foto itu. jemarinya mulai menyentuh foto di depannya. 
“Ada apa, Ran?” tany Ryan. Rany terkejut, dia menatap wajah Ryan sekilas,lalu beralih pada papa dan mama Ryan. Matanya memancarkan ketakutan yang sangat,. Seolah dia baru melihat hantu.
“Ini foto keluarga kami,” kata mama Ryan tanpa di tanya.
“Dan ini foto anak ami yang hilang. Adeknya Ryan,” papa Ryan menimpali. Rany menunduk, matanya mulai mengembun. Ryan dan keluarganya bingung danganperubahan sikap Rany.
“Ada apa, Nak,” Tanya ibu Ryan sambil mengusap jilbab putih yang dkenakan Rany. “Bicaralah pada kami,”lanjutnya. Rany mengangkat kepalanya perlahan. Tanganya menyibak jilbab putih yang menutupi dadanya. Lalu….
“Astaghfirullah…” pekik Papa dan Mama Ryan hampir bersamaan. Kalung leontin yang sama persis dengan yang dipakai oleh kedua anak di foto itu melingkar manis di leher Rany. Rany semakin menangis, begitu pun dengan Papa dan Mama Ryan. Mereka lalu menarik Rany ke dalam pelukannya. Ryan masih diam tak bereaksi. Segala rasa berkecamuk di dadanya. Perlahan air matanya mulai luruh. Entah, itu air mata bahagia atau air mata derita dan kecewa.
Dia gadis kecilku… 

0 komentar:

Posting Komentar