Rabu, 19 Mei 2010

Menjadi Sufi Funky dengan Rasa Malu

 Kita pasti sudah sering mendengar atau bahkan mengucapkan kata “malu”, atau mungkin pernah merasa malu? Tentunya pernah dong...! Apalagi malu nge-friend banget dengan yang namanya remaja. Malu sering menjadi alas an untuk kita menjadi tidak berani atau tidak pede. Misalnya, ketika kita disuruh maju untuk memjelaskan di depan kelas atau menyampaikan pendapat kita tentang suatu permasalahan di depan teman-teman. Maka kita akan segera menggeleng sambil berucap “Nngak ah, aku malu”. Al-hasil, meski kita paham pada materi tersebut dan mempunyai segudang pendapat yang sedang menumpuk di otak dan teriak-teriak minta dikeluarkan, tapi karena kita merasa malu atau nggak pede untuk menyampaikannya, maka semua itu tetap tertampung dalam otak. Jika dilihat dari satu contoh di atas sepertinya rasa melu terkesan negative. Padahal dalam sebuah hadist Rasullulah bersabda: Malu itu adalah sebagian dari iman. Lalu pertanyaan yang muncul sekarang adalah rasa malu yang bagaimana sih yang termasuk sebagian dari iman?

            Dalam kitab At-Tahliyah Wat Targhib, karya Saayed Muhammad dikatakan bahwa, malu itu ada tiga macam. Pertama, malu kepada Allah. Dalam artian kita merasa malu untuk  tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah dan juga merasa malu ketika kita melakukan apa yang di larang Allah. Dalam sebuah hadist Rosulullah bersabda, barang siapa yang menjaga kepala dan isinya (pikiran,mata, telinga, lisan), perut dan isinya, meninggalkan kemewahan dunia dan selalu mengingat-ingat mati serta semua peristiwa sesudahnya. Maka dia berarti relah benar-benar malu kepada Alla.

Kedua, malu kepada orang lain. Artinya, kita merasa malu ketika melakukan hal-hal yang kurang pantas, seperti mengganggu atau menyakiti orang lain baik dengan perkataan ataupun perbuatan kita. Seperti, mengolok-olok, menyebarkan kejelekan orang lain, atau dengan mengambil sesuatu yang menjadi milik mereka. Yang ketiga adalah malu kepada dirisendiri. Dengan atrtian kita meras malu untuk melakukan kejelekan baik sedang sendirian atau di tempat yang sepi. Itulah yang dimaksud malu adalah sebagian dari iman. Pera remaja yang cerdas-cerdas, udah tau kan apa yang dimaksud malu adalah sebagian dari iman.  Yaitu menjaga seluruh organ tubuh kita dari hal-hal yang dilarang oleh Allah, karena kelak kita akan dimintai LPJ-nya. Sifat malu seperti itulah yang seharusnya dimiliki oleh kita-kita yang masih mengaku Islam.  Sikap seperti itulah yang telah dicontohkan oleh Rosulullah dulu. Terus giman dengan sikap remaja sekarang? Apakah mereka sudah memiliki rasa malu seperti yang disabdakan oleh Rosulullah dalam penggalan hadits di atas?

Jika melihat tingkah laku remaja masa kini bisa dikatakan kebanyakan dari mereka sudah tidak memiliki rasa malu sama sekali.  Lihat saja dari cara berpenampilan saja sudah jauh melenceng dari aturan agama. Para gadis sudah tidak merasa malu untuk mempertontonkan auratnya kemana-mana, menggunakan pakaian yang cocok dipakai oleh adeknya. (Kok muat ya..?). Mempertontonkan kemolekan tubuhnya secara gratis, tak usah kartu cues ataupun kridit. Yang cowok beda lagi, mereka sudah mulai mengadopsi style ala manusia purba. Menggunakan celana compang-camping, model rambut menjiblak model rangga,  (eits… tunggu dulu, bukan rangga pemain film AADC itu lho… tapi rangga yang satunya, yang sukanya nangkep ayam untuk di makan. Udah pada tau kan…? Kalo dalam Bahasa Maduranya sih ranggarangan). Udah gitu masih ditambah dengan segala pernak-pernik cewek, entah itu di telinga, leher, tangan, jari, duh pokonya semunya deh…! Seolah hal tersebut dapat menbuatnya tambah cakep, gaul de el el.  Padahal yang terjadi malah sebaliknya, mereka jadi kayak orang gila yang lepas dari RSJ.

Zaman yang sudah serba maju dan canggih seperti sekarang ini telah menjadikan peradaban semakin tenggelam di gantikan dengan budaya barat yang sudah mulai mendarah daging. Kalau dulu para remaja jarang—bahkan tidak ada—yang pacaran, apalagi yang berasal dari pedesaan. Pacaran merupakan hal yang tabu bahkan aib. Tapi sekarang pacaran marupakan hal yang biasa, bahkan terlalu biasa, sehingga seakan-akan menjadi hal yang wajib. (nggak pacaran, gak gaul gitu lho!). Mereka tanpa malu akan memperkenalkan pacarnya pada teman-temannya, menceritakan semua yang terjadi dengan pacarnya sampe’ hal yang paling pribadipun diceritakan. Bahkan yang paling membuat hati miris, mereka tak segan-segan melakukan hal-hal yang tak senonoh di depan umum tanpa meras risih sedikitpun. (Lho… kok bisa, kemana rasa malu mereka ya?). Kalo dulu taman bunga di jadikan sebagai tempat melepaskan penat bersama keluarga, tapi sekarang sudah berubah fungsi. Tempat itu sudah menjadi tempat untuk berasyik-masyuk bermalam mingguan. (Duh… apa gak takut dosa ya…? Tapi kalo remaja pesantren nggak gitu kan?). Eits… belum tentu. remaja pesantren tak melakukan hal itu.

Remaja yang tinggal di pesantren yang akrab banget dengan ilmu pengetahuan agama belum tentu ‘suci’ dari hal yang begituan (baca: pacaran). Apalagi sekarang sedang nge-tren banget yang namanya tunangan. Tidak sedikit para santri yang bercerita panjang lebar tentang kejadian yang dialaminya dengan sang tunangannya ketika liburan Bahkan, yang masih bau kencur alias masih MTs pun udah pinter lho bercerita tentang apa yang dilakukannya dengan sang tunangan. (Wadoh, pinter banget tuh anak. Apa ngak malu ya..?). Beli baju dianter sang tunangan, pergi ke rumah mertua di antar-jemput pas lebaran, bahkan ke pondok pun masih dianterin. (Kok diizinin ya sama sang ortu?). Jangan salah, itu adalah kebiasaan yang hampir—kalo tak mau dibilang sudah—menjadi tradisi dalam sebuah ikatan pertunangan. Padahal hal itu nggak diperbbolehkan lho oleh agama. Bahkan, ada yang berpendapat kalo—melihat model pertunangan jaman sekarang—pertunangan itu adalah pacaran yang dilegalkan. Tapi kayaknya emang bener lho pendapat itu. Lihat saja kelakuan remaja yang sudah bertunangan, pergi berduaan pada moment-moment tertentu, telphonan, saling berkirim sms mesra, de el el. Kalo gitu, nggak ada bedanya kan antara pacaran dan tunangan?

So, kita sebagai generasi muda, penerus masa depan bangsa dan pemegang astafet alias penerus ajaran agama harus menjaga prilaku kita agar tak terikut pada kebiasaan yang dilarang oleh agama. Apalagi kita yang ber-title  S-1 alias Santri harus benar-benar menjaga sikap dalam keseharian kita dan berpegang teguh pada ajaran agama. Karena kita—sebagai orang yang dianggap mempunyai penguatahuan agama Islam yang mendalam—punya kewajiban untuk amar ma’ruf nahi munkar. Jadi, kalo malah kita yang melakukan kemungkaran, apa kata dunia entar. Jadilah remaja yang gaul tapi syar’i alias sufi funky, dengan menanamkan sifat malu kepada Allah. Kalo kita sudah mempunyai rasa malu, baik malu kepada diri sendiri, orang lain, lebih-lebih malu kepada Allah. Karena jika kita sudah mempunyai rasa malu kepada Allah, secara otomatis kita akan selalu bersikap dan bertindak sesuai dengan al-Qur’an dan al-Hadits. Kita akan merasa malu untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah, baik di tempat yang sepi ataupun di keramaian. Karena kita sadar dan tau kalo Allah pasti mengetahuinya.   Semoga kita bisa remaja yang gaul tapi syar’I alias sufi funky. Amien…

0 komentar:

Posting Komentar