Selasa, 20 April 2010
Sisi Lain Hatiku
“Zahrotus Syita. Apakah Adek mendengar perkataan saya tadi?” tanya TU itu pada Ita.
“Iya, Mbak. Saya mendengarnya. Lalu kapan saya harus menyetorkan rapor ini kembali?” tanya Ita agak tergagap. Rupanya dia baru tersadar dari lamunannya.
“Secepatnya. Sebelum ujian semester,” kata TU itu sambil tersenyum. “Kalau Bapaknya nggak bisa, Kakaknya saja yang tanda tangan. Selama ini diakan yang jadi wali kamu,” kata TU itu lagi. Entah kalimat pertanyaan atau pernyataan. Zahro hanya menunduk sambil mengangguk lemah. Kembali rasa aneh itu menyerangnya.Terbayang di otaknya kejadian beberapa hari yang lalu. Saat dia cekcok dengan kakaknya.
“Ya udah. Rapor itu, Ita bawa saja dulu. Nanti kalau sudah ditanda tangani setor ke saya,” suara itu kembali membuarkan lamunan Ita. Ita mengangguk lalu segera pamit dan keluar dari ruang TU itu. Ita berlari. Entah kemana tujuannya. Dia terus berlari dan berlari. Rasa itu tetap menyertainya. Disambut oleh rasa bersalah yang semakin menyiksanya. Dia ingin menjerit sekeras-kerasnya. Tapi itu percuma. Air mata mulai menetes di pipinya.
“Tuhan… Kepana harus berahir seperti ini? Tak cukupkah masalah yang selama ini menimpaku, hingga Kau masih mengujiku dengan rasa itu?” rintihnya. Entah pada siapa. Kini dia telah bersandar di pintu salah satu ruang kelas yang sudah kosong. Ita selalu menangis ditempat yang kosong. Jarang sekali dia menangis di depan orang. Bahkan bisa dikatakan tak pernah. Dia selalu tersenyum untuk menutupi kesedihannya. Karena dia tak ingin ada orang yang tau luka hatinya.
“Ya, Allah. Apa dosa hamba?” jeritnya. Air matanya terus mengalir deras. Tatapannya terpaku pada bangku di depannya. Hatinya terus berdebat dengan akalnya. Dan rasa itu terus menyiksanya. Rasa bersalah karena telah mengotori persaudarrannya dengan kakaknya terus mendominasi pikirannya. Ingatannya kembali pada kejadian beberapa hari lalu. “Kamu berubah, Dek. Sikapmu benar-benar berubah. Kau bukan adekku yang dulu,” itulah kata-kata kakaknya waktu itu. Ita semakain mencengkram rapor yang berada di tangnnya. Otaknya dipenuhi oleh bayangan-bayangan itu. Tatapan matanya benar-benar kosong. Wajah Bapaknya yang terbaring lemah di atas ranjang ikut berkelebat dalam ingatannya. Menagduk hati dan perasaannya. Membuatnya semakin terluka.
Tiba-tiba Ita terperanjat. Dia seolah melihat dirinya sendiri sedang duduk di atas bangku yang berada di depannya dengan pakaian berwarna hitam pekat. Bayangan itu menertawakan Ita yang sedang menangis.
“Menangislah. Menangislah terus. Karena hanya itu yang kau bisa. Jalan hidupmu hanya akan ada gelap dan tangis. Begitu seterusnya. Sampai ajal menjemputmu. Ha… ha.. ha…,” kata bqayangan itu sambil tertawa lepas. Ita masih saja terpaku di tempat. Air matanya masih membanjiri kerudung seragamnya yang putih. Ya, Allah. Lindungi hamba. Batinnya.
“Kenapa kau masih meminta perlindungan pada Tuhanmu? Padahal Dia sudah tak adil padamu. Ingat selama ini kau telah hidup sengsara. Terlahir menjadi orang yang penyakitan. Masalah dan musibah tak pernah lepas dari hari-harimu. Bapakmu sakit. Kau tak pernah dikunjungi keluargamu. Mereka sibuk cari biaya untukmu dan Bapakmu. Bahkan kau telah menjadi ‘anak titipan’. Menyusahkan orang lain yang tak ada hubungan darah sama sekali denganmu. Lalu apa kau masih mau minta perlindungan pada Tuhanmu? Sedang Dialah yang membuatmu seperti ini? kamu bodoh,” cerca bayangan itu.
“Diam kamu. Tuhan itu lebih tau dari kamu. Dia Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi ummatnya. Jadi kau tak usah buang kata-kata. Karena aku tak akan termakan oleh bualanmu itu.” Kata bayangan yang memakai baju putih yang datang dengan tiba-tiba.
“Alah… tak usah menyangkal kebenaran perkataanmu. Bukankah selama ini kau memang selalu mengeluh dan merasa Tuhan tak adil padamu. Bukankah kau selalu merasa iri dan marah saat melihat temanmu yang lain dikunjungi. Dan kau akan menangis dan bersembunyi di kamar mandi, agar orang lain tak tau itu. Bukankah kau juga sudah bosan menjadi ‘ anak titipan’? lalu untuk apa kamu masih pura-pura menyangkal? Akui saja semuanya. Akui bahwa kau adalah orang yang hina, yang hidup hanya atas belas kasihan orang lain. Hidupmu benar-benra tergantung pada orang yang bukan keluargamu. Lalu apa yang masih kamu banggakan. Hidupmu yang selalu nyusahin itu? Katanya sinis.
“Tau apa kamu tentang hidupku? Tak ada yang tau selain Tuhanku. Hanya Dia yang tau apa yang terbaik untukku.”
“Ya. Dia tau yang terbaik untukmu. Makanya hidupmu dibuat sengsara dan menderita. Jadi ‘anak titipan’ yang membebani orang lain. Apa itu yang terbaik untukmu? Coba ingat jalan hidupmu selama ini. Kau tak sama dengan anak seusiamu. Liaht kehidupan mereka, bahagia, punya keluarga yang sehat dan sangat menyayanginya. Selalu ada saat mereka butuh. Sedang kamu. Keluargamu berpenyakit, mereka tak pernah punya waktu untuk mengunjungimu, kebutuhanmu tak pernah tercukupi, dan kau hidup atas belas kasihan orang lain. Apa sekarang kau mesih mau bilang bahwa Tuhan tau apa yang terbaik untukmu. Sedang Dia tak pernah mencukupi dan mengabulkan harapanmu?”
“Aku tau, Tuhan itu Maha Adil. Dan dia pasti memberikan yang terbaik bagiku. Dan mungkin jalan itu yang terbaik untukku.”
“Dasar bodoh. Kau benar-benar bodoh dan buta. Tuhan itu tak adil padamu. Kalau Tuhan itu adil, Dia tidak akan membiarkan kamu menderita. Hidupmu akan dibuat senang, sama seperti yang lain. Coab pikir itu.”
“Aku sudah pikirin itu. Dan satu kesimpulan yang kuperoleh. Bahwa, Tuhan sangat menyayangiku, dan selalu meberikan yang terbaik untuku.”
“Bedebah. Kau telah membohongi dirimu sendiri. Kau telah menjadi orang munafik pada perasaanmu sendiri. Tapi, aku tidak heran dengan sifatmu itu. Karena selama ini kau memang menjadi orang munafik terpandai di dunia. Selalu cengar-cengir untuk menutupi lukamu, dan menipu orang sekitarmu.”
“Oke. Aku akui, aku memang sering munafik selama ini. Tapi aku terpaksa lakuin itu. Agar orang lain tak tau lukaku. Tapi untuk kali ini, aku tidak munafik. Karena Allah memang benar-benar mencintaiku dan menyayangiku.”
“Ha... ha… ha… Kalo memang Tuhan sayang sama kamu. Dia tidak akan menyiksamu dengan ‘rasa’ itu sekarang. Karena Dia tau, kalau orang itu adalah ‘bapak’ bagimu. Bahkan Tuhanlah yang menyebabkan kamu harus ber’bapak’ pada orang itu. Tuhanlah yang membuat Bapakmu sakit. Hingga kau jadi ‘anak titipan’ seperti sekarang. Lalu, apakah menurutmu Tuhan itu sayang padamu? Apakah kau masih menganggap-Nya adil padamu? Tidak. Tuhan tidak adil padamu.”
“Tuhan sayang padaku. Tuhan selalu sayang pada setiap ummatnya. Dia tidak pernah menganiaya ummatnya. Keputusan-Nya selalu yang terbaik.”
“Kau masih mau membela Tuhanmu. Kau pikir, siapa yang menumbuhkan ‘penyakit itu di hatimu? Dan apakah kau masih menyangkal bahwa, kau sangat tersiksa dengan rasa itu. Setiap malam kau selalu menangis dalam tahajjutmu, agar Tuhan berbelas kasih menghilangkan ‘penyakit itu dari dalam hatimu. Tapi apa buktinya? Tuhan tak mendengar rintihmu. Dia malah semakin menyiksamu dengan penyakit itu. Apa itu yang kau bilang adil?”
“Oke. Tuhan memang tak adil. Dan tak pernah adil. Kalau Tuhan adil, maka tak akan ada satupun orang yang akan masuk surga selain para nabi. Karena amal kebaikan yang dilakukan oleh manusia tak akan pernah cukup untuk sekedar berterimakasih pada Tuhan atas segala yang sesuatu yang daberikan-Nya pada mereka. Apalagi untuk menebus dosa mereka. Maka beruntunglah manusia karena Tuhan tak pernah adil.”
Ita memegang kepalanya. Matanya terpejam. Tanganya mencengkram keras kerudung seragamnya. Seolah ingin menjambak rambut yang tersembunyi di dalamnya. Rapor itu terserak di lantai. Wujudnya tak lagi mirip kertas. Layaknya tisue yang telah dipaki untuk lap tangan.
“DIAM!” Ita berteriak. Rasa sakit di kepala dan dadanya semakin mendera. Bumi berputar cepat. Bintang berputar mengelilingi kepalanya. Lalu… tubuh itu tergolek ke lantai. Rapor itu segera menyangga kepalanya. Meja dan bengku berderit. Seolah menangisi gadis malang itu.
Neo Rizoma Class XI IPA MA 1 Annuqayah Putri
note; Pernah dimuat di buletin AvoXvak
Belajar itu Menyenangkan Lho...
Pengarang: Abu fatimah
Penerbit:Gen!mirqat
Cetakan: Pertama, Jnuari 2008
Tebal hal. : x + 96
Belajar. Sebuah kata yang kadang menakutkan bagi sebagian orang, baik anak-anak, remaja, atau pun dewasa. Meski tak menutup kemungkinan ada juga orang yang sangat menyukainya. Bahkan rela melakukan apa saja agar dia bisa belajar.
Belajar. Sebuah kata yang juga sangat dekat dan akrab ditelinga, apalagi bagi anak yang masih mengenyam atau berkecimpung di dunia sekolah. Meski pada hakikatnya , tidak hanya anak yang masih sekolah saja yang membutuhkan belajar.
Belajar adalah sebuah proses yang dilakukan oleh orang untuk mengetahui suatu hal yang baru. Belajar tidak hanya di dalam kelas. Belajar bisa di mana saja. Belajar dari buku di perpustakaan, belajar dari media (baik cetak maupun elektronik), belajar dari pengalaman, bahkan, kita juga bisa belajar dari lingkungan sekitar. Jadi, belajar itu tidak harus duduk manis di dalam kelas. Kita bisa belajar di mana saja, apa saja, dan kapan saja. Karena belajar bukanlah suatu keharusan yang diikat dengan beberapa ketentuan dan peraturan. Semisal, harus duduk rapi dalam kelas sambil membaca buku, tidak boleh mengeluarkan suara-suara sedikitpun pada waktu tertentu, menghadap kedepan di mana tempat papan dipajang, bahkan kalau bisa,menarik dan menghembuskan nafas harus sepelan mungkin, atau pun hal lain yang belum tentu benar
Banyak yang salah dalam memahami apakah belajar termasuk kebutuhan atau tuntutan. Sebagian mereka beranggapan bahwa belajar hanya sebatas tututan saja. Rajin belajar ketika ujian demi mendapatkan nilai bagus di rapor atau demi mendapatkan selembar kertas yang bernama Ijazah. Sehingga yang tertanam di otak mereka, belajar itu hanya dilakukan di dalam kelas dengan buku-buku pelajaran yang sudah terjadwal. Padahal belajar itu merupakan sebuah kebutuhan kita sebagai bekal kita hidup di dunia ini. Karena kita tak mungkin bisa menjalani hidup ini tanpa bekal (pengetahuan) apa-apa. Apalagi kita hidup di dunia ini tidak sendiri, ada orang sekitar, dan makhluk sekitar (baik itu hewan ata pun tumbuhan). Jadi kita--mau tak mau--pasti mengadakan interaksi dengan orang (makhluk) lain. Untuk itu, kita perlu belajar untuk membangun dan mengembangkan fondasi bagi pengetahuan dan keterampilan kita, yakni: akhlak dan karakter terpuji.
Dalam buku Belajar Itu Mak Nyuss! Abu Fatimah telah mengulas secara detail tentang hakikat belajar dan utamanya niat dalam belajar, yakni niat belajar bukan karena tuntutan, tapi kita belajar karena mencari ridha Allah. Buku ini telah membuka kesadaran kita sebagai makhluk yang diberi keistimawaan akal oleh Allah harus bisa menfungsikan dan mensyukurinya. Dengan balajarlah kita akan tau bagaimana cara menfungsikan dan mensyukurinya dengan benar. Seperti orang-orang shaleh di zaman dahulu. Mereka menghabiskan waktunya hanya untuk belajar dan mensyukuri nikmat Allah. Kita ambil satu contoh saja: Abu Hurairah, shahabat Nabi Muhammad saw. Yang menjadi perawi hadist yang paling terkenal. Hampir semua kehidupan Rasulullah dia ketahui. Itu karena usaha kerasnya dalam belajar. Ia sangat rajin bertanya pada siapa saja tentang nabi. Bahka, pada istri nabi pun ia tetap bertanya (tentu dengan adab). Ia sangat pintar dalam mengatur waktunya. Malam-malamnya ia habiskan untuk ibadah dan menghafal hadist, selebihnya untuk tidur. Baginya tak ada kata terlambat untuk belajar. Sekalipun beliau adalah sahabat yang masuk islam belakangan. Namun, hal itu tak menyurutkan tekadnya untuk belajar. Inilah contoh yang dikemukakan oleh Abu Fatimah dalam buku Belajar Itu Mak Nyuss! (hal.12)
Dengan membaca buku ini, kita akan tau bahwa kita terlahir kedunia adalah untuk belajar agar kita bisa beribadah dan menjalani hidup yang sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Al-Hadist. Belajar tidaklah harus di kelas atau di bangku sekolah. Karena belajar itu merupakan kebutuhan primer bagi kita--sebagai satu-satunya makhluk yang diberi akal oleh Allah--untuk berproses menjadi diri kita sendiri.Tugas pertama manusia dalam proses menjadi dirinya yang sebenarnya adalah menerima tanggung jawab untuk menjadi penbelajar bukan hanya hanya di gedung sekolah dan perguruan tinggi, tetapi terlebih penting lagi dalam konteks kehidupan. Apalagi kita sebagai khalifah fil ard.
Abu Fatimah benar-benar sukses mengolah buku ini menjadi bacaan yang pantas dikonsumsi oleh semua kalangan, baik oleh anak-anak, remaja, ataupun orang tua. Bahasanya yang ringan dan nge-friend banget dengan remaja, menjadikan buku ini mudah dipahami tanpa harus mengerutkan kening dan sangat ”renyah” untuk dijadikan ”cemilan” tanpa merasa bosan. Kita akan sangat menikmati setiap kalimat yang terdapat di dalamnya. Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan beberapa ayat Al-Quran dan hadist nabi. Pokoknya dengan membaca buku ini, akan menghapus paradigma yang selama ini mengakar diotak kita bahwa, belajar itu membosankan. Sebaliknya melalui lembar kalimat--dalam buku ini—kita akan dibawa menjelajah dunia kesadaran bahwa belajar itu adalah hal yang sangat menyenangkan. Pokonya, belajar itu mak nyuss deh..!
Selasa, 13 April 2010
Kubalut Lukaku dengan Senyum Palsuku
Kubalut Lukaku dengan Senyum Palsuku
“Kembalilah sekarang ke pondok”. Kata Bapak padaku. Dia terbaring tak berdaya. Tekanan darah tingginya kambuh lagi. Menyebabkannya tak bisa bergerak, walau sekedar untuk duduk menyantap bubur yang di masak oleh Emak.
“Tapi Pak, Fani ingin di sini, menemani Bapak”. Ucapku sambil berusaha menahan tangis. Dadaku sesak. Kata-kataku tercekat di tenggorokan membuatku terasa tercekik.
“Kembalilah. Bapak tidak apa-apa. Tugasmu adalah belajar”. Ucapnya lagi. Aku tertunduk, tak mampu menatap wajah Bapak yang pucat.”Kalau ada apa-apa bilang ke kakakmu. Nanti kalau Bapak sudah sehat, Bapak akan ke pondok, menemuimu”. Lanjut Bapak sambil terbata. Dadaku semakin sesak. Rasa sakit menyerang di sebelah kiri dadaku. Seolah ada yang menusuk-nusuk jantungku. Mengalirkan rasa panas, dan sakit ke sekujur tubuhku. Menjadikanku menggigil.
“Kembalilah nak. Di sana sudah ada kakakmu sebagai pengganti Bapak. Dialah yang akan mengurusimu”. Ucap Bapak seolah berwasiat. Aku bangkit dan berlari ke kamarku. Dadaku sudah tak mampu menahan rasa sesak. Air mataku mengalir deras tanpa mampu kubendung lagi. Aku menangis sambil duduk bersandar di pintu kamarku.. Kemungkinan-kemungkinan buruk berkelebat di otakku. Menjadiakan tangisku semakin pecah. Terbayang sudah kehidupan yang suram tanpa adanya Bapak. Apa yang akan terjadi jika itu benar-benar manimpaku?
Tiba-tiba kurasakan ada tangan menyentuh pundakku. Aku menoleh. Serta merta Emak meraihku ke dalam pelukannya. Aku semakin terisak. Air mataku membasahi bajunya yang sudah lusuh. Kurasakan dadanya naik turun. Detak jantungnya dapat kudengar dengan jelas.
“Kembalilah Nak. Itu adalah permintaan Bapakmu. Tenanglah, di sana sudah ada kakakmu”. Ucapnya sambil berusaha meredakan tangis. Kuangkat kepalaku untuk menatapnya. Mata keriputnya sembab. Pipinya tak lagi kencang, di gerus usia dan berbagai guncangan hidup. Menjadikanya lebih tua dari umurnya.
“Tapi Mak. Aku tidak enak sama kakak. Selama ini aku sudah banyak menyusahkannya. Sedangkan dia bukan kakak kandungku”. Ucapku semakin terisak. Kembali kusandarkan kepalaku. Terbayang wajah kakak di benakku. Semua yang dia lakukan selama ini seolah terputar kembali. Dia rela mundar-mandir ke pondokku demi mengurus semua keperluanku. Padahal kutau, dia bukanlah orang yang sepi dari berbagai kegiaan dan pekerjaan. Bahkan dia sampai rela tidak ikut UAS demi menjagaku di rumah sakit.
“Emak ngerti perasaanmu. Tapi mau bagaimana lagi Nak. Kau tau sendiri keadaan Bapakmu seperti apa. Sedangkan kami tak punya anak laki-laki. Hanya dialah yang dapat menggantikan tugas bapakmu”. Ucap Emak, membuat dadaku semakin sesak. Aku semakin terdiam, mencoba menetralkan ritme pernafasanku. Segala rasa memenuhi dadaku, rasa sakit di dada sebelah kiriku semakin terasa. Menjadikanku semakin sulit bernafas. Tak ada kata yang mampu terucap dari bibirku. Lidahku terasa kelu. Semua yang ingin kuucapksn seolah tercekat tenggorokan.
“Kembaliah Nak. Turuti permintaan Bapakmu”. Emak kembali berucap.
“Tapi Mak. Aku ingin menemani bapak. Aku takut..….” Kataku tak mampu melanjutkan.
“Tenanglah. Tak akan terjadi apa-apa dengan Bapakmu. Emak yang akan menjaganya.”. Katanya sambil menatapku. Mencoba meyakinkanku bahwa tidak akan terjadi apa-apa dengan Bapak.” Izinmu di sekolah Cuma sampai besok. Kasihan kakakmu kalau harus ke sana lagi untuk minta izin. Sekarang ayo kemasi barang-barangmu”.lanjutnya.
Aku melangkah. Meraih tas ransel di gantungan. Emak menatapku lalu mengusap kepalaku sebalum berlalu ke kamar Bapak. Aku keluarkan pakaian yang akan aku bawa dari dalam lemari. Lalu satu persatu aku memasukannya ke dalam tas. Setelah selesai aku mengganti pakaianku, membasuh mukaku lalu merapikan jilbabku di depan cermin. Aku meraih tas rasel yang tergeletak di tempat tidur, mencangklongnya, lalu melangkah ke kamar Bapak untuk berpamitan.
Malihatku, Bapak tersenyum sambil menahan sakit. ku sunggingkan senyumku dengan susah payah. Ku lihat dia mulai mengatur nafasnya. Mungkin akan berucap sesuatu. Tapi tak kudengar apapun selain batuk yang semakin mengguncang tubuhnya. Aku terkesiap, tulang betisku seolah patah, tak mampu menyangga tubuhku, membuatku terduduk tanpa tenaga. Kulepas ransel yang menggantung di pundakku, serta-merta ku dekap tubuh Bapak dalam pelukanku. Air mata kembali mengalir deras di pipiku.dapat kurasakan detak jantung Bapak. Nafasnya terdengar jelas di telingaku. Bayangan-bayangan buruk kembali berkelebat. Kupejamkan mata untuk mengusir semua perasaan itu dari benakku.
Nafas Bapak mulai teratur. Batuknya sudah berkurang. Aku melepaskan dekapanku. Kutidurkan dia di bantal dengan hati-hati. Emak menyentuh pundakku. Mencoba mengalirkan kekutan padaku. Aku menoleh sambil menggeleng. Ku sandarkan kepalaku di dadanya. Mencoba meredakan segala rasa yang berkecamuk di dada.
”Nak.....”. suara Bapak pelan memanggilku. Aku menoleh. Bapak kembali tersenyum sambil meringis menahan sakit. Dia kembali mengatur nafasnya.”Sampaikan salam Bapak ke kakakmu. Bilang, bapak minta maaf tak dapat mengembalikan uangnya sekarang”. Lanjutnya dengan terbata. Kuingat Bapak memang pinjam uang ke kakak untuk membayar biayaku waktu di rawat di rumah sakit kemarin. Dadaku semakin terasa sesak. Bapak menatapku lekat. Berharap aku menjawab ’ya’. Ku anggukkan kepalaku dengan sangat terpaksa. Dalam hati aku mengutuki diriku karena tak mampu menolak keinginan Bapak untuk kembali ke pondok. Padahal aku sangat ingin menemani bapak saat sakit seperti ini, mendampinginya menjalani hari, dan merawatnya sampai dia sembuh. Tapi Bapak malah menyuruhku kembali ke pondok dengan alasan takut ketinggalan pelajaran. Dan aku tetap tak bisa menolak keinginannya.
Huh.............. aku mendesah. Mencoba mengurangi rasa sesak di dadaku. Emak meletakkan tas ransel di pundakku. Ku lihat Bapak kembali tersenyum, mengangkat tangannya untuk ku jabat. Aku maeraih tangannya dan mencuimnya. Air mataku kembali mengalir. Kucium wajah Bapak dengan penuh kasih. Dalam hati aku berdoa semoga ini bukan terahir kalinya aku melihat Bapak.
Aku bangkit, mencoba menegakkan tubuhku. Bapak kembali tersenyum. Aku kembali mendesah. Kembali aku tersenyum untuk mebalas senyum Bapak, walau dengan susah payah.
”Pak, Fani berangkat ya. Fani akan selalu merindukan dan mendoakan Bapak di pondok”. Ucapku dengan susah payah. Bapak mengangguk. ”Assalamu’alaikum”. Lanjutku. Aku melangkah keluar, Emak mengantarku sampai halaman.
”Hati-hati di jalan ya Nak”. Katanya dengan nada cemas.. Aku tau dia pasti sangat berat melepasku. Karena baru kali ini aku kembali ke pondok dengan naik taksi. Biasanya Bapak yang selalu mengantarku.
Aku mengangguk. Kuraih tanggannya dan menciumnya. Emak memelukku dengan erat. Air matanya kembali mengalir. Lalu dia melepaskan pelukannya. Menghapus air mataku dan mencium keningku. Aku mengucap salam sambil menjauhinya. Kulihat Emak masih menatapku sampai aku berbalik di tikungan.
@@@
Sudah dua hari aku di pondok. Kabar ’miring’ tentang aku dan kakak mulai terdengar. Dalam hati aku tidak menyalahkan mereka. karena siapapun yang tidak mengetahui masalah yang sedang kuhadapi pasti akan berfikir yang macem-macem kalau melihat keakrabanku dengan kakak. Apalagi dia hanya kakak sepupuku, bukan kakak kandungku. Tapi yang membuatku bingung: kenapa baru sekarang kabar itu ada, bukankah sudah dari dulu aku akrab dengan kakak. Sejak aku baru menginjak kelas satu MA dan Bapak mulai sakit-sakitan. Apakah karena kakak sering ngisi acara beberapa hari ini. Jadi mereka baru tau kalau dia adalah orang yang sering memanggilku ke kantor pondok?
Ugh... aku mendesah panjang. Rasa penat menguasai kepalaku. Menciptakan rasa pening yang begitu menggangguku. Kembali kuteringat semua kebaikan kakak selama ini. Aku takut semua yang kakak lakukan untukku akan membuahkan sesuatu yang tak mengenakkan, yang akan merusak reputasinya. Apakah ini balasanku kepada kakak, setelah semua kebaikan yang kakak lakukan untukku? Inikah yang di maksud: air susu di balas dengan air tuba?
Aku semakin bingung. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menjauhi kakak? Benarkah ini jalan yang terbaik? Lalu bagaimana kalo aku membutuhkan bantuannya? Bukankah aku selalu membutuhkannya sebagai pengganti Bapakku? Aku membantin. Seribu tanya menumpuk di kepalaku, membuatku semakin bingung. Satu sisi aku ingin menjahuinya. Tapi di sisi lain aku sangat membutuhkannya. Dia bagaikan seorang bapak bagiku. Aku menyayanginya seperti kakakku sendiri. Bahkan mungkin lebih. Karena selain sebagai pengganti Bapak, dia sudah menjadi penganti Zuhli,kakakku yang sudah tiada.
Betapa besar pengorbanannya buat keluargaku. Telah rela dengan ihlas menerima amanah dari bapak untuk menggantikan tugasnya sebagai seorang ayah buatku. Padahal aku tau itu bukan hal yang mudah bagi dia. Walaupun sudah kuliah, tapi secara umur dia tetap belum pantas untuk mengemban amanah jadi seorang Bapak. Tapi entah kenapa Bapak begitu percaya padanya. Mungkin karena Bapak telah tau bagaimana sifat kesehariannya di rumah.
Ugh......... aku semakin mendesah ingin rasanya aku berteriak. Tapi itu tak akan mengurangi bebanku. Malah mungkin hanya akan menambah masalah baru
Karena para santri di sekitarku akan mengira kalau aku sudah gila. Ku pegang kepalaku yang terasa pusing. Tiba-tiba mata tertumpu pada sebuah buku bersampul hijau. Itulah buku Diaryku. Aku meraihnya lalu membukanya, mencoba mencari-cari lembar yang masih kosong.
Jumat ,24 April 2009
Ry.. ! Apa yang harus aku lakukan. Haruskah aku menjahuinya hanya karena ’berita miring’ itu. Sedangkan kau tau.....? selama ini:
Saat aku sakit, dai datang membawa obat
Saat aku rapuh, dia hadir menjadi penyagga
Saat aku menangis, dia hapus air mata dengan canda dan tawa
Saat aku menjadi serang anak yang terlantar
Dia datang sebagai seorang ayah yang penuh perhatian dan kasih sayang
Saat aku sebagai seorang adek kebingungan
Dia menjelma sebagai seorang kakak yang memberi perlindungan dan petunjuk jalan
Saat aku sebagai sebagai pasien yang terkapar tak berdaya
Dialah dokter yang paling telaten dan bersahaja
Saat aku terpuruk dalam keputus asaan
Dia ciptakan sebuah mimpi dan pengharapan
Saat noraniku kerontang kerena kegelisahan
Dia taburkan sejuta fatwa pnguat jiwa
Saat aku mulai berontak pada takdir tuhan
Dia paparkan tentang taqwa dan keihlasan
Saat aku sebagai fakir yang kelaparan
Dialah rang yang paling dermawan
Saat ruang dan jarak tak dapat dia tempuh
Dia titipkan aku pada orang yang paling tangguh
Yaitu:Bunda!!!!
Lalu haruskah aku sekarang menjuhinya......?!
Aku membenamkan wajahku ke bantal. Air mata sudah tak mampu kubendung lagi. mengalir membasahi pipiku. Aku tak mampu membayangkan apa yang akan terjadi setelah aku menghindar dari kakak. Bagaimana kalau ada urusan yang membutuhkan peran seorang bapak. Bukankah sebentar lagi Semister Genap akan di laksakan. Sedangkan aku balum melunasi uang buku paket. Lalu aku harus minta uang sama siapa? Bukankah selama ini aku selalu pinjam uang ke kakak untuk membayar biaya pondok dan sekolahku. Karena ekonomi keluargaku sedang sekarat. Apalagi Bapak sudah tidak bisa menggarap sawah sejak beliau sakit. Sebagai petani cara itulah satu-satunya sunber penghasilan keluarga kami. Lalu apa yang akan kulakukan? Haruskah aku putus sekolah? Aku membatin.
Tiba-tiba aku merasakan ada sebuah tangan menentuh pundakku. Aku mengangkat kepalaku. Kudapati bak Tin duduk menatapku. Dialah yang biasa kupanggil Bunda. Kuhapus air mataku dengan cepat. Lalu kusunggingkan senyum. Berharap bak Tin tidak bertanya apa-apa padaku. Aku memang selalu tersenyum untuk menyembunyikan segala kegetiran hidup yang sedang kualami. Karena tak ingin ada orang yang tau. Apalagi kalau itu menyangkut masalah keluarga.
”Tak usah kau bersusah payah tersenyum untuk menutupi kesedihanmu. Karena aku tau senyummu itu cuman terpaksa. Ayo ceritakan masalahmu pada Bunda. Itusih kalau kamu mau”. Kata Bak tin padaku. Aku berfikir sejenak. Haruskah aku menceritakannya pada masalahku padanya? Bukankah seama ini dia yang merawatku, dan mengantarkanku ke POSKESTREN untuk terapi. Dan kakak telah menitipkan aku ke padanya. Aku membatin. Ahirnya aku menceritakan semua masalahku, mulai wal sampai ahir. Bak Tin menyuruh ku berterus terang ke kakak. Agar di peroleh pemecahan yang tepat dan lebih bijak. Aku hanya mengangguk. Dalam hati aku membenarkan sarannya.
Aku bangkit meraih kerudung berwarna putih di atas lemari.mengekannya dan merapikannya di depan cermin.
” Mau kemana?” Tanya Bak Tin padaku.
”Mau nelpon kakak. Ikut yuk Bunda”. Kataku sambil menarik-narik tangannya.
”Tunggu, Bunda ambil kerudung dulu..” Katanya sambil bangkit.
” Assalamu’alaikum”. Ucapku saat telpon di sebrang di angkat.
” Wa’alaikum salam. Ada apa Dek, kok nelpon?”. suara di seberang menjawab. Ternyata yang ngangkat telponnya memang kakak.
”Pokoknya mulai sekarang kita jaim kak. Biar gak ada ’kabar miring’ tentang adek dan kakak”. Kataku
”Lho.. memang ada apa? Coba jelaskan dulu. Kakak gak ngerti”. Aku ceritakan semua kabar yang kudengar tentang aku dan kakak. Di luar dugaan kakak hanya tertawa mendengar ceritaku.
” Pokoknya kita harus jaim”..tegasku.
” Kalau yang di maksud Adek jaim, jaga iman. Kakak sangat setuju. Karena itu merupakan keharusan bagi kita. Tapi kalo maksud Adek, jaga image, kakak kurang setuju. Karena walaupun kita benar menurut pandangan Allah belum tentu benar menurut pandangan manusia. Lagian kakak takut, kalo kita terlalu mempreoritaskan penilaian orang lain dalam setiap prilaku kita, kakak hawatir tidak bisa menjaga hati. Sehingga kita menjadi orang yang munafik, yang hidup dengan kepura-puraan, dan hanya menginginkan kita benar dalam pandangan orang lain, sampai kita menjadi orang riya’. Apa Adek mau kayak gitu?”
Aku diam. Tak tau harus menjawab apa. Semua yang kakak katakan memang benar. Berdebatpun aku percuma. Kakak nggak akan tau bagaimana perasaanku.
”Sudahlah, tidak usah perdulikan gosip itu. Nanti akan hilang sendiri.”
”Adek tak mau nama baik kakak rusak gara-gara adek.”.
”Adek gak usah takut. Nggak bakal kek gitu kok. Lagian seandainya itu terjadi, biarkan saja. Toh kakak tak akan kekurangan apa-apa. Anggap saja itu yang terbaik.......”
Tapi Adek gak enak sama kakak”. Sergahku
”Sudah jangan terlalu di pikirkan. Adek gak salah kok. Dan gak ada yang harus di salahin dalam hal ini. Mereka ’kan gak tau kalo adek ’di titipin’ ke kakak. Jadi mereka juga gak salah.”
@@@
Matahari belum sempurna menyemburkan sinarnya pada lingkaran alam. Embun masih bergulir, berjatuhan di dedaunana. Berkilauan ditimpa sinar matahari pagi, bak mutiarayang bertaburan. Burung pipit berkicauan di dahan-dahan. Seoalah menyambut pagi dengan dzikir yang panjang. Memuja keagungan dan kekuasaan Tuhan yang tak terbatas. Aku melangkah dengan terburu-buru menuju kantor OSIS yang dijadikann posko tim proyek untuk sementara, sebelum posko yang baru jadi.
Tak ada satu pun orang di posko. Akulah manusia pertama yang muncul pagi ini. Aku sengaja berangkat pagi, karena ingin me-layout newsletter sebelum diterbitkan.
Sekarang hari Jumat. Hari yang paling ditunggu-tunggu oleh para santri. Karena mereka akan bertemu dengan orang tua mereka. Kebanyakan para orang tua santri akan mengunjungi putranya pada hari Jumat. Karena pada hari itulah sekolah libur.
Aku duduk di depan komputer, mencoba berkonsentrasi pada pekerjaanku. Bayangan Bapak berkelebat di pelupuk mata. Sudah satu minggu lebh aku di sini. Tapi sampai sekarang tak ada kabar tentang keadaan Bapak. Waktu aku nelpon beberapa hari yang lalu, ternyata kaka iparku yang ngangkat. Dia bilang Bapak sedang beristirahat. Aku sudah tau kalau yang dimaksud Bapak sedang beristirahat adalah kata lain dari Bapak sedang sakit.”Jadi Adek nggak bisa ngomong sama Bapak”. Itulah kata yang selalu dikatakan oleh keluargaku setiap kali aku menelpon. Akupun hanya bisa menelan ludah dan menahan tangis agar tak pecah.
”Dek, Fany! Boleh minta tolong?” suara itu mengangetkanku. Kuhapus air mata yang sudah mulai mlelh lalu menoleh, mencari sumber suara. Ternyata Mbak Dian sudah berdiri di depan pintu.
”Ya, Bak. Ada yang bisa Fany bantu?”
”Tolong copy undangan ini jadi lima belas lembar, nanti kalau sudah selesai antarkan ke kantor ya,” lanjutnya.
”Baik, Bak”, jawabku.
@@@
Aku duduk di depan kantor pondok menunggu surat itu selesai di-copy. Kulihat di dalam kantor banyak teman-temanku. Mereka bersenda gurau dan bermanja ria dengan kelurga mereka.
Seandainya aku yang menjadi mereka, betapa bahagianya... Batinku. Mataku mulai panas, mungin air sudah mulai menggenangi muara di mataku. Hatiku mulai bergejolak mempertanyakan keadalilan Tuhan. Aku mulai merasa Tuhan tak adil padaku.
Kenapa mereka punya keluarga yang sehat, yang dapat mengunjungi ereka setiap minggu atau setiap bulan. Sedangkan aku nggak, hanya kakak yang selalu mengunjungiku. Itupun bukan kakak kandungku. Kenapa juga Allah mengambil Kak Zuhli? Dia kan kakak kandungku. Tuhan tak adil padaku. Jerit hatiku.
Dada sebelah kiriku nulai terasa sakit. Mengalirkan rasa nyeri ke seluruh tubuh. Aliran darah di tubuhku seolah berhenti. Menjadikan pembuluh darahku mengejang. Menimbulkan rasa nyeri, serasa organ di tubuhku terpisah-pisah dan tak berfungsi. Aku bangkit lalu berlari dengan cepat menuju kamar mandi. Agar aku dapat menangis dengan laluasa, menumpahkan segala rasa yang berkecamuk di jiwa. Aku memang paling nggak bisa menangis di depan orang lain. Agar mereka tak tahu masalahku. Walau terkadaang muara yang telah menganak sungai di mataku pecah juga.
”Lho... kok Dek Fany di sini? Tadi Adek dipanggil di airphone. Mungkin dikunjungi,” kata Bak Aisy mengagetkanku. Dia berdiri, menatapku dengan heran. Tangannya memegang cebok warna hijau.
”Kok, Adek nangis? Ada apa?” tanyanya.
”Nngak Mbak. Fany nggak apa-apa kok”. Kataku buru-buru menghapus air mata.”Kalo begit, Fany ke kantor dulu ya, Bak.” lanjutku sambil tersenyum, lalu melangkah keluar kamar mandi, berharap Mbak Aisy mempercayai kebohonganku. Aku melangkah dengan cepat.
Pasti Bapak yang mengunjungiku. Kakak ’kan lagi ke Jogja, jadi tak mungkin dia. Aku melangkah sambil tersenyum, hilang sudah rasa kecewa dan sedihku, karena sebentar lagi aku akan segera bertemu dengan Bapakku setelah hampir satu tahun dia tak pernah mengunjungiku. Ingin rasanya kupotong jalan di hadap[anku, agar aku bisa cepat sampai di kantor pondok.
@@@
Kini aku sudah berdiri di depan kantor pondok. Perlahan kubuka pintunya dan... ternyata bukan Bapak yang kulihat. Tapi Oom yang mengunjungiku. Kesedihan kembali menyeruak, rasa kecewa mulai bertahta di jiwa, menjadikannya tak mampu menampung. Hingga keluar ke tenggorokan, menimbulkan rasa sakit seolah tercekat. Sehingga tak mampu mengeluarkan kata meski hanya sekedar tuk berucap salam.
”Rony sakit, sudah beberapa hari dia di rawat di rumah sakit. Emmakmu ada di sana. Tadi, dia nggak ikut ke sini, karena buru-buru, ingin cepat pulang. Soalnya nggak ada yang ngejaga Bapakmu di rumah,” kata Oom padaku. Rasa nyeri kembali menyerang dada kiriku. Disusul dengan segala rasa yang tak mengenakkan mulai menjalar keseluruh tubuh.
”Lalu bagaimana keadaan Bapak sekarang?” tanyaku dengan susah payah. Namun, Oom tak menjawab, dia hanya menunduk menekuri lantai keramik berwarna putih. Rasa nyeri di sekujur tubuh tak dapat kutahan. Dadaku seolah di belah dengan pedang yang sangat tajam. Pembuluh darahku mengejang, menjadikan tubuhku gemetar. Kurasakan bumi berputar dengan cepat. Lalu gelap merajai dunia...
Ketika Nama Baik Dipreoritaskan
Judul buku: Hades
Penulis: Deasylawat Prasetyaningtyas
Penerbit: DIVA Press (2008)
Tebal: 260 halaman Kita sebagai makhluk sosial__yang selalu membutuhkan orang lain__berkomonikasi dan berinteraksi merupakan hal yang menjadi keharusan bagi kita. Bahkan, lebih dari itu berkomoniasi dan berinteraksi merupakan kebutuhan primer yang harus terpenuhi. Hampir setiap detik kita melakukannya. Karena hal itu merupakan sebuah keniscayaan bagi kita selaku makhluk yang diberi akal. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang autis? Bukankah bagi mereka dua hal tersebut sangat sulit untuk dilakukan?
Ya, autis adalah salah satu penyakit kelainan jiwa, kalau tak mau dibilang cacat bawaan sejak lahir. Bagi mereka yang menderita penyakit ini (autis) sangat sulit untuk memahami setiap hal yang terjadi, terlihat, dan terdengar oleh mereka. Oleh karena itu mereka sangat tidak suka dengan perubahan. Seperti suara, benda, manusia, semua yang bergerak dan berubah, apalagi mengeluarkan suara yang berbeda-beda akan membuat mereka kebingungan untuk memahaminya. Makanya mereka sangat takut dengan lingkungan sekitar, sehingga mereka lebih suka menyendiri dalam dunia mereka sendiri. Orang yang menderita penyakit autis sangat sulit untuk berkomonikasi dan mengerti bahasa yang diucapkan oleh orang sekitar mereka. Cara mereka dalam memandang sesuatu sangat berbeda dengan orang (normal) seperti kita. Bagi kita, hal yang paling membuat hidup kita benar-bear berarti adalah berkomunikasi dengan orang lain, memahami prilaku mereka, menghadapi benda-benda, situasi, dan orang-orang dengan cara yang reatif. Sedang orang-orang autis mempunyai kesulitan besar dalam hal-hal seperti itu. Bagi mereka hidup itu mengerikan. Sehingga mereka sangat membutuhkan lingkungan husus yang teatur dan tak banyak beubah. Lalu, apa jadinya jika penyandang autis harus hidup dilingkunga yang penuh dengan perubahan seperti halnya orang normal seperti mereka?
Novel “Hades” merupakan satu-satunya novel (sepanjang pengetahuan saya) yang menceritakan tentang perjalanan hidup seorang autis. Narendra, sang autis yang dipaksa hidup dalam lingkungan formal seperti orang normal hanya demi menjaga nama baik dan kehormatan keluarga. Narendra lahir dikeluarga yang sangat terpandang dan kaya raya. Panji Sastranegara, bapak dari Narendra yang menjabat sebagai salah satu anggota parlemen pusat dengan reputasi yang sangat sempurna. Dia memimpin salah satu partai yang turut memeriahkan pesta politik pemilu dan meraih suara yang cukup banyak. Selain itu dia juga menjabat sebagai anggota DPR pusat. Dewi, ibu Narendra yang juga seorang artis terkenal yang sering nampang di layar kaca. Karena semua kegemilangan itulah Panji, bapak Rendra memaksa Rendra untuk tetap bersekolah dan hidup di lingkungan yang sebenarnya sangat tidak cocok bagi Rendra.itu semua tak lain, agar semua orang tidak tau bahwa Rendra putra Panji cacat. Dan itu akan menjadi aib bagi keluarga. Itulah yang selalu menjadi pedoman Panji. Sehingga Rendralah yang menjadi korban dari sikap otoriter itu. Dia harus berusaha matian-matian untuk memahami setiap kejadian yang sebenarnya bagi dia sangat menakutkan. Selain itu dia harus selalu berusaha untuk memahami setiap pelajaran yang diterimanya di sekolah. Dengan dibantu Erlangga Pratama, kakaknya yang menjabat sebagai direktur muda dua perusahaan sekaligus, dia menghafal beberapa pelajaran. Angga juga dikenal sebagai penulis dan pengamat bisnis. Dilihat dari semua prestasi yang diraihnya, maka pantaslah jika dia danggap sebagai seorang pria yang nyaris perfect. Dan ditengah kesibukannya itu, Angga masih harus mengurus semua kebutuhan Rendra. Mengajarinya ilmu tata bahasa, membantunya menghafal setiap rumus agar kemampuan Rendra bisa seperti anak seusianya. Untung Rendra memang mempunyai otak yang sangat jenius. Hasil test IQ-nya mencapai 189! Sebuah angka yang sulit dicapai oleh orang normal sekaipun.
Namun, sebuah perubahan besar terjadi dikeluarga Rendra. Orang tuanya cerai, dan mamanya pergi meninggalannya entah ke mana. Rendra sangat terpukul dengan perubahan itu. Dia menjadi seorang pendiam dan benar-benar hanya hidup di dunianya sendiri. Tak ubahnya seperti boneka buatan yang sangat mirip dengan manusia. Rendra tak pernah mau berbicara dengan siapapun. Dia manjadi orang dingin yang misterius. Dia hidup dengan para terapis dan dengan jadwal hidup yang harus dia jalani. Benar-benar seperti robot yang dikendalikan. Setiap hal yang akan terjadi dan yang akan Rendra lakukan sudah terjadwal. Tak boleh ada yang berubah sedikitpun. Kalau ada yang tak sesuai dengan jadwal meski hanya hal sepele, maka Rendra akan mengamuk sejadi-jadinya. Itulah bahasa satu-satunya yang bisa Rendra lakukan agar orang disekitarnya mengerti kemauannya.
Rendra menjadi pemuda yang begitu dingin dan misterius. Berbagai kejadian mengerikan terjadi di sekitar Rendra. Pembunuhan, penyiksaan, penganiayaan, dan kematian selalu menimpa orang-orang terdekat Rendra. Bahkan, keempat teman sekolah Rendra mati terbunuh. Dan setiap terjadi pembunuhan, Rendra selalu berada di
Rendra dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain. Namun, penyiksaan, penganiayaan, dan pembunuhan tetap terjadi di sekitar Rendra. Semua orang semakin membenci dan menjauhinya. Hanya Rahardian, kakak Rendra yang nomor dua yang tetap baik dan perhatian pada Rendra. Ian (nama panggilan Rahardian) selalu memberikan buku-buku dan hadiah yang behubugan denga sejarah Yunani/Romawi kuno. Rendra sangat menyukainya. Bahkan, Rendra sanggup menghapalnya hanya dalam waktu semalam. Dan Ian akan selalu menghadiahi Rendra buku-buku itu meski dengan jalan sembunyi-sembunyi. Karena Panji telah mengusir Ian dari rumahnya.
Diluar dugaan, alur hidup yang dialami oleh Rendra (hampir) sama persis dengan salah satu tooh dalam sejarah itu. Hades, sang dewa dunia kematian dalam mitodologi Yunani/Romawi kuno. Dialah satu-satunya dewa yang hidup di underworld, dunia orang-orang mati dalam mitos Yunani/Romawi kuno. Lalu,benarkah Rendra terobsesi dengan tokoh Hades dalam sejarah Yunani/Romawi kuno itu? Benarkah dia yang melakukan semua penyiksaan dan pembunuhan-pembunuhan itu agar membuatnya seolah dewa kematian yang hidup di jaman sekarang? Sanggupkah orang yang mempunyai kelainan jiwa seperti Rendra melakukan hal-hal sekeji itu, sedang untuk memahami lingkungan sekitar saja dia tidak bisa? Benarkah dia Hades? Bukankah Hades hanya dewa penguasa dunia kematian, dan bukan Hadeslah kematian itu sendiri? Bukankah kematian itu sendiri adalah Thanatos? Lalu, siapa Thanatos sebenarnya? Benarkah dia ada? Temukan jawabannya dalam novel Hades (Seduah Novel Sang Autis).
Benar-benar sebuah novel yang sangat menakjubkan. Diuraikan dengan bahasa yang sangat memukau, hingga membuat kita seolah berada di dunia yang diciptakan oleh sang penulis. Sebuah dunia yang penuh dengan misteri, menakutkan, dan menegangkan. Konflik yang ditampilkan pun sangat meyakinkan, seolah konflik itu benar-benar terjadi di dunia nyata. Konflik keluarga yang sering kita lihat di layar kaca. Tentang sebuah keluarga yang sangat mementingkan nama baik dan kehormatan keluarga dari pada kebahagiaan anggota keluarga itu sendiri. Setiap untaian katanya mampu menyedot seluruh pehatian kita, dan membuat kita berdebar dan penasaran sebelum mengunyah habis seluruh isi novel ini.
Selain itu, dengan membaca novel ini kita akan sadar, betapa penting peran keluarga terhadap tumbuh kembang serang anak. Baik dari segi sikap, mental, dan cara pandang. Tapi sayang, dalam novel ini penulis (kayaknya) kurang bijak dalam menempatkan ending terhadap Rendra, seorang yang autis. Seolah sang Hadeslah menjadi rakyat jelata yang tertindas dan teraniaya. Bukan dewa yang munguasai dunia kematian. Sedang Thanatos hanya sedikit menuai getah dari perbuatannya. Itupun setelah membuat orang sekitarnya tersiksa. Namun hal itu sama sekali tak mengurangi kualitas dari novel ini. Mungkin penulis punya maksud tersendiri dalam memilih ending itu. Wallahu a’la.
**05-02-10, Neo Rizoma Class XI IPA MA 1 Annuqayah Putri
Untuk Saudaraku yang baru “Trim’s udah mo minjemin novelnya.
Note: Pernah dimuat di Buletin KOMPAk edisi perdana
