Pengarang: Abu fatimah
Penerbit:Gen!mirqat
Cetakan: Pertama, Jnuari 2008
Tebal hal. : x + 96
Belajar. Sebuah kata yang kadang menakutkan bagi sebagian orang, baik anak-anak, remaja, atau pun dewasa. Meski tak menutup kemungkinan ada juga orang yang sangat menyukainya. Bahkan rela melakukan apa saja agar dia bisa belajar.
Belajar. Sebuah kata yang juga sangat dekat dan akrab ditelinga, apalagi bagi anak yang masih mengenyam atau berkecimpung di dunia sekolah. Meski pada hakikatnya , tidak hanya anak yang masih sekolah saja yang membutuhkan belajar.
Belajar adalah sebuah proses yang dilakukan oleh orang untuk mengetahui suatu hal yang baru. Belajar tidak hanya di dalam kelas. Belajar bisa di mana saja. Belajar dari buku di perpustakaan, belajar dari media (baik cetak maupun elektronik), belajar dari pengalaman, bahkan, kita juga bisa belajar dari lingkungan sekitar. Jadi, belajar itu tidak harus duduk manis di dalam kelas. Kita bisa belajar di mana saja, apa saja, dan kapan saja. Karena belajar bukanlah suatu keharusan yang diikat dengan beberapa ketentuan dan peraturan. Semisal, harus duduk rapi dalam kelas sambil membaca buku, tidak boleh mengeluarkan suara-suara sedikitpun pada waktu tertentu, menghadap kedepan di mana tempat papan dipajang, bahkan kalau bisa,menarik dan menghembuskan nafas harus sepelan mungkin, atau pun hal lain yang belum tentu benar
Banyak yang salah dalam memahami apakah belajar termasuk kebutuhan atau tuntutan. Sebagian mereka beranggapan bahwa belajar hanya sebatas tututan saja. Rajin belajar ketika ujian demi mendapatkan nilai bagus di rapor atau demi mendapatkan selembar kertas yang bernama Ijazah. Sehingga yang tertanam di otak mereka, belajar itu hanya dilakukan di dalam kelas dengan buku-buku pelajaran yang sudah terjadwal. Padahal belajar itu merupakan sebuah kebutuhan kita sebagai bekal kita hidup di dunia ini. Karena kita tak mungkin bisa menjalani hidup ini tanpa bekal (pengetahuan) apa-apa. Apalagi kita hidup di dunia ini tidak sendiri, ada orang sekitar, dan makhluk sekitar (baik itu hewan ata pun tumbuhan). Jadi kita--mau tak mau--pasti mengadakan interaksi dengan orang (makhluk) lain. Untuk itu, kita perlu belajar untuk membangun dan mengembangkan fondasi bagi pengetahuan dan keterampilan kita, yakni: akhlak dan karakter terpuji.
Dalam buku Belajar Itu Mak Nyuss! Abu Fatimah telah mengulas secara detail tentang hakikat belajar dan utamanya niat dalam belajar, yakni niat belajar bukan karena tuntutan, tapi kita belajar karena mencari ridha Allah. Buku ini telah membuka kesadaran kita sebagai makhluk yang diberi keistimawaan akal oleh Allah harus bisa menfungsikan dan mensyukurinya. Dengan balajarlah kita akan tau bagaimana cara menfungsikan dan mensyukurinya dengan benar. Seperti orang-orang shaleh di zaman dahulu. Mereka menghabiskan waktunya hanya untuk belajar dan mensyukuri nikmat Allah. Kita ambil satu contoh saja: Abu Hurairah, shahabat Nabi Muhammad saw. Yang menjadi perawi hadist yang paling terkenal. Hampir semua kehidupan Rasulullah dia ketahui. Itu karena usaha kerasnya dalam belajar. Ia sangat rajin bertanya pada siapa saja tentang nabi. Bahka, pada istri nabi pun ia tetap bertanya (tentu dengan adab). Ia sangat pintar dalam mengatur waktunya. Malam-malamnya ia habiskan untuk ibadah dan menghafal hadist, selebihnya untuk tidur. Baginya tak ada kata terlambat untuk belajar. Sekalipun beliau adalah sahabat yang masuk islam belakangan. Namun, hal itu tak menyurutkan tekadnya untuk belajar. Inilah contoh yang dikemukakan oleh Abu Fatimah dalam buku Belajar Itu Mak Nyuss! (hal.12)
Dengan membaca buku ini, kita akan tau bahwa kita terlahir kedunia adalah untuk belajar agar kita bisa beribadah dan menjalani hidup yang sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Al-Hadist. Belajar tidaklah harus di kelas atau di bangku sekolah. Karena belajar itu merupakan kebutuhan primer bagi kita--sebagai satu-satunya makhluk yang diberi akal oleh Allah--untuk berproses menjadi diri kita sendiri.Tugas pertama manusia dalam proses menjadi dirinya yang sebenarnya adalah menerima tanggung jawab untuk menjadi penbelajar bukan hanya hanya di gedung sekolah dan perguruan tinggi, tetapi terlebih penting lagi dalam konteks kehidupan. Apalagi kita sebagai khalifah fil ard.
Abu Fatimah benar-benar sukses mengolah buku ini menjadi bacaan yang pantas dikonsumsi oleh semua kalangan, baik oleh anak-anak, remaja, ataupun orang tua. Bahasanya yang ringan dan nge-friend banget dengan remaja, menjadikan buku ini mudah dipahami tanpa harus mengerutkan kening dan sangat ”renyah” untuk dijadikan ”cemilan” tanpa merasa bosan. Kita akan sangat menikmati setiap kalimat yang terdapat di dalamnya. Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan beberapa ayat Al-Quran dan hadist nabi. Pokoknya dengan membaca buku ini, akan menghapus paradigma yang selama ini mengakar diotak kita bahwa, belajar itu membosankan. Sebaliknya melalui lembar kalimat--dalam buku ini—kita akan dibawa menjelajah dunia kesadaran bahwa belajar itu adalah hal yang sangat menyenangkan. Pokonya, belajar itu mak nyuss deh..!
note; Juara II lomba resensi se-kabupaten

0 komentar:
Posting Komentar