Selasa, 20 April 2010

Sisi Lain Hatiku

“Rapor ini harus segera ditanda tangani oleh walimu, Ita. Sebelum ujian semester tiba,” kata salah satu TU sekolah pada Zahrotus Syita, yang akrap dipanggil Ita. Namun Ita tak menggubrisnya. Seolah dia tak mendengar apa-apa. Angannya melayang entah kemana.jauh menembus ruang TU yang tak terlalu luas dan pennuh dengan lemari yang berjejer rapi. Buku-buku dan berbagai arsip tertata rapi di sana.
“Zahrotus Syita. Apakah Adek mendengar perkataan saya tadi?” tanya TU itu pada Ita.
“Iya, Mbak. Saya mendengarnya. Lalu kapan saya harus menyetorkan rapor ini kembali?” tanya Ita agak tergagap. Rupanya dia baru tersadar dari lamunannya.
“Secepatnya. Sebelum ujian semester,” kata TU itu sambil tersenyum. “Kalau Bapaknya nggak bisa, Kakaknya saja yang tanda tangan. Selama ini diakan yang jadi wali kamu,” kata TU itu lagi. Entah kalimat pertanyaan atau pernyataan. Zahro hanya menunduk sambil mengangguk lemah. Kembali rasa aneh itu menyerangnya.Terbayang di otaknya kejadian beberapa hari yang lalu. Saat dia cekcok dengan kakaknya.
“Ya udah. Rapor itu, Ita bawa saja dulu. Nanti kalau sudah ditanda tangani setor ke saya,” suara itu kembali membuarkan lamunan Ita. Ita mengangguk lalu segera pamit dan keluar dari ruang TU itu. Ita berlari. Entah kemana tujuannya. Dia terus berlari dan berlari. Rasa itu tetap menyertainya. Disambut oleh rasa bersalah yang semakin menyiksanya. Dia ingin menjerit sekeras-kerasnya. Tapi itu percuma. Air mata mulai menetes di pipinya.
“Tuhan… Kepana harus berahir seperti ini? Tak cukupkah masalah yang selama ini menimpaku, hingga Kau masih mengujiku dengan rasa itu?” rintihnya. Entah pada siapa. Kini dia telah bersandar di pintu salah satu ruang kelas yang sudah kosong. Ita selalu menangis ditempat yang kosong. Jarang sekali dia menangis di depan orang. Bahkan bisa dikatakan tak pernah. Dia selalu tersenyum untuk menutupi kesedihannya. Karena dia tak ingin ada orang yang tau luka hatinya.
“Ya, Allah. Apa dosa hamba?” jeritnya. Air matanya terus mengalir deras. Tatapannya terpaku pada bangku di depannya. Hatinya terus berdebat dengan akalnya. Dan rasa itu terus menyiksanya. Rasa bersalah karena telah mengotori persaudarrannya dengan kakaknya terus mendominasi pikirannya. Ingatannya kembali pada kejadian beberapa hari lalu. “Kamu berubah, Dek. Sikapmu benar-benar berubah. Kau bukan adekku yang dulu,” itulah kata-kata kakaknya waktu itu. Ita semakain mencengkram rapor yang berada di tangnnya. Otaknya dipenuhi oleh bayangan-bayangan itu. Tatapan matanya benar-benar kosong. Wajah Bapaknya yang terbaring lemah di atas ranjang ikut berkelebat dalam ingatannya. Menagduk hati dan perasaannya. Membuatnya semakin terluka.
Tiba-tiba Ita terperanjat. Dia seolah melihat dirinya sendiri sedang duduk di atas bangku yang berada di depannya dengan pakaian berwarna hitam pekat. Bayangan itu menertawakan Ita yang sedang menangis.
“Menangislah. Menangislah terus. Karena hanya itu yang kau bisa. Jalan hidupmu hanya akan ada gelap dan tangis. Begitu seterusnya. Sampai ajal menjemputmu. Ha… ha.. ha…,” kata bqayangan itu sambil tertawa lepas. Ita masih saja terpaku di tempat. Air matanya masih membanjiri kerudung seragamnya yang putih. Ya, Allah. Lindungi hamba. Batinnya.
“Kenapa kau masih meminta perlindungan pada Tuhanmu? Padahal Dia sudah tak adil padamu. Ingat selama ini kau telah hidup sengsara. Terlahir menjadi orang yang penyakitan. Masalah dan musibah tak pernah lepas dari hari-harimu. Bapakmu sakit. Kau tak pernah dikunjungi keluargamu. Mereka sibuk cari biaya untukmu dan Bapakmu. Bahkan kau telah menjadi ‘anak titipan’. Menyusahkan orang lain yang tak ada hubungan darah sama sekali denganmu. Lalu apa kau masih mau minta perlindungan pada Tuhanmu? Sedang Dialah yang membuatmu seperti ini? kamu bodoh,” cerca bayangan itu.
“Diam kamu. Tuhan itu lebih tau dari kamu. Dia Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi ummatnya. Jadi kau tak usah buang kata-kata. Karena aku tak akan termakan oleh bualanmu itu.” Kata bayangan yang memakai baju putih yang datang dengan tiba-tiba.
“Alah… tak usah menyangkal kebenaran perkataanmu. Bukankah selama ini kau memang selalu mengeluh dan merasa Tuhan tak adil padamu. Bukankah kau selalu merasa iri dan marah saat melihat temanmu yang lain dikunjungi. Dan kau akan menangis dan bersembunyi di kamar mandi, agar orang lain tak tau itu. Bukankah kau juga sudah bosan menjadi ‘ anak titipan’? lalu untuk apa kamu masih pura-pura menyangkal? Akui saja semuanya. Akui bahwa kau adalah orang yang hina, yang hidup hanya atas belas kasihan orang lain. Hidupmu benar-benra tergantung pada orang yang bukan keluargamu. Lalu apa yang masih kamu banggakan. Hidupmu yang selalu nyusahin itu? Katanya sinis.
“Tau apa kamu tentang hidupku? Tak ada yang tau selain Tuhanku. Hanya Dia yang tau apa yang terbaik untukku.”
“Ya. Dia tau yang terbaik untukmu. Makanya hidupmu dibuat sengsara dan menderita. Jadi ‘anak titipan’ yang membebani orang lain. Apa itu yang terbaik untukmu? Coba ingat jalan hidupmu selama ini. Kau tak sama dengan anak seusiamu. Liaht kehidupan mereka, bahagia, punya keluarga yang sehat dan sangat menyayanginya. Selalu ada saat mereka butuh. Sedang kamu. Keluargamu berpenyakit, mereka tak pernah punya waktu untuk mengunjungimu, kebutuhanmu tak pernah tercukupi, dan kau hidup atas belas kasihan orang lain. Apa sekarang kau mesih mau bilang bahwa Tuhan tau apa yang terbaik untukmu. Sedang Dia tak pernah mencukupi dan mengabulkan harapanmu?”
“Aku tau, Tuhan itu Maha Adil. Dan dia pasti memberikan yang terbaik bagiku. Dan mungkin jalan itu yang terbaik untukku.”
“Dasar bodoh. Kau benar-benar bodoh dan buta. Tuhan itu tak adil padamu. Kalau Tuhan itu adil, Dia tidak akan membiarkan kamu menderita. Hidupmu akan dibuat senang, sama seperti yang lain. Coab pikir itu.”
“Aku sudah pikirin itu. Dan satu kesimpulan yang kuperoleh. Bahwa, Tuhan sangat menyayangiku, dan selalu meberikan yang terbaik untuku.”
“Bedebah. Kau telah membohongi dirimu sendiri. Kau telah menjadi orang munafik pada perasaanmu sendiri. Tapi, aku tidak heran dengan sifatmu itu. Karena selama ini kau memang menjadi orang munafik terpandai di dunia. Selalu cengar-cengir untuk menutupi lukamu, dan menipu orang sekitarmu.”
“Oke. Aku akui, aku memang sering munafik selama ini. Tapi aku terpaksa lakuin itu. Agar orang lain tak tau lukaku. Tapi untuk kali ini, aku tidak munafik. Karena Allah memang benar-benar mencintaiku dan menyayangiku.”
“Ha... ha… ha… Kalo memang Tuhan sayang sama kamu. Dia tidak akan menyiksamu dengan ‘rasa’ itu sekarang. Karena Dia tau, kalau orang itu adalah ‘bapak’ bagimu. Bahkan Tuhanlah yang menyebabkan kamu harus ber’bapak’ pada orang itu. Tuhanlah yang membuat Bapakmu sakit. Hingga kau jadi ‘anak titipan’ seperti sekarang. Lalu, apakah menurutmu Tuhan itu sayang padamu? Apakah kau masih menganggap-Nya adil padamu? Tidak. Tuhan tidak adil padamu.”
“Tuhan sayang padaku. Tuhan selalu sayang pada setiap ummatnya. Dia tidak pernah menganiaya ummatnya. Keputusan-Nya selalu yang terbaik.”
“Kau masih mau membela Tuhanmu. Kau pikir, siapa yang menumbuhkan ‘penyakit itu di hatimu? Dan apakah kau masih menyangkal bahwa, kau sangat tersiksa dengan rasa itu. Setiap malam kau selalu menangis dalam tahajjutmu, agar Tuhan berbelas kasih menghilangkan ‘penyakit itu dari dalam hatimu. Tapi apa buktinya? Tuhan tak mendengar rintihmu. Dia malah semakin menyiksamu dengan penyakit itu. Apa itu yang kau bilang adil?”
“Oke. Tuhan memang tak adil. Dan tak pernah adil. Kalau Tuhan adil, maka tak akan ada satupun orang yang akan masuk surga selain para nabi. Karena amal kebaikan yang dilakukan oleh manusia tak akan pernah cukup untuk sekedar berterimakasih pada Tuhan atas segala yang sesuatu yang daberikan-Nya pada mereka. Apalagi untuk menebus dosa mereka. Maka beruntunglah manusia karena Tuhan tak pernah adil.”
Ita memegang kepalanya. Matanya terpejam. Tanganya mencengkram keras kerudung seragamnya. Seolah ingin menjambak rambut yang tersembunyi di dalamnya. Rapor itu terserak di lantai. Wujudnya tak lagi mirip kertas. Layaknya tisue yang telah dipaki untuk lap tangan.
“DIAM!” Ita berteriak. Rasa sakit di kepala dan dadanya semakin mendera. Bumi berputar cepat. Bintang berputar mengelilingi kepalanya. Lalu… tubuh itu tergolek ke lantai. Rapor itu segera menyangga kepalanya. Meja dan bengku berderit. Seolah menangisi gadis malang itu.

Neo Rizoma Class XI IPA MA 1 Annuqayah Putri

note; Pernah dimuat di buletin AvoXvak

0 komentar:

Posting Komentar