Dari kejauhan kutatap rumahku. Berdiri kokoh menatap langit. Tak ada sorak-sorai atau gelak tawa terdengar dari celah-celah jendela rumahku yang kaku. Sunyi, sesunyi malam tanpa cahaya binatang.
Liburan Ramadlan kali ini aku tidak menunaikan ibadah puasa di rumah. Sama seperti Ramadhan-Ramadhan yang lalu. Aku lebih memilih untuk menghabiskan liburan panjang ini di pondok. Bukan karena kerasan ada disini, atau rasa rindu kepada kedua orang tua dan sanak keluarga tak lagi ada. Justru di saat hati ini ingin menebus gelayut rindu, terpaksa harus bersabar sampai beberapa waktu kemudian. Inilah pengorbanan demi hari esok yang mudah-mudahan lebih cerah. Karena hati ini sudah tidak berkenan lagi mendengar celoteh tetangga yang selalu menjadikan hati ini bagai di iris belati.
Perlahan kuhembuskan nafas. Ada keresahan yang begitu dalam pada diriku. Akhir-akhir ini perasaanku tidak enak. Apakah ini suatu firasat? Apakah yang akan terjadi dengan diriku? Kuseret tatapan kea rah sekitar, mencoba mengenyahkan perasaan resah yang menjalar. Daun-daun berguguran. Pepehonan yang menjulang tinggi, hanyalah tinggal dahan-dahan yang rapuh. Terik matahari membakar kulit. Bumi menguap seolah mengeluarkan bara.
"Hore… Hore… bibi pulang." Sayup-sayup terdengar suara anak kecil bersorak-sorai. Kusipitkan mataku, mencari-cari sumber suara itu. Tiba-tiba muncul di kejahuan Rony, keponakanku berlari-lari kecil menghampiriku.
"Bibi!" serunya seraya berteriak. Roni langsung memelukku. Kuusap kepalanya sambil kucium keningya. Dalam hati aku berdoa: Semoga kelak kau jadi orang yang shaleh dan berguna.
"Bi…," pekiknya sambil menengadah. Kutatap matanya yang bening. Aku suka mata itu. Mata yang polos dan menandakan kejujuran yang abadi. Mata seperti itulah yang membuatku suka pada anak kecil. Lalu Tersungging senyum manisnya yang tulus.
"Eiit…," kuletakkan telunjukku di bibir sambil tersenyum. "Assalamu'alaikum, cinta…."
"Wa'alaikum salam, honey…," jawabnya lalu mencium tanganku.
"Lho… kok pake' bahasa Inggris? Tahu dari mana?" tanyaku keheranan.
"Tahu dari Bu Guru. Kan, di sekolahku kemarin ada pondok Ramadhan. Ayo Bi, cepat. Rony punya cerita buanyaaaak banget," ucapnya sambil menarik-narik tanganku.
"Tunggu, Ron. Jangan cepat-cepat. Kaki Bibi pegel nih."
"Bibi capek ya? Ayo Roni bawain tasnya." Dengan cepat tangan mungilnya menyambar tas yang berisi mukenah dan sajadah di tanganku. Lalu melangkah berjalan di depanku.
"Kok sepi Ron? Kemana yang lain?"
"Ke sawah, mengairi jagung. Katanya Rony nggak boleh ikut dan nggak boleh kemana-kemana. Disuruh nemenin Bibi kalo dateng." Tangan mungilnya yang kiri kemudian membukakan pintu kamarku. Ternyata kamarku sudah ada yang membereskan. Emak mungkin. Terbersit di hatiku rasa rindu pada kamarku. Rindu dengan ketenangan dan keindahannya yang memberikan kedamaian pada hari-hariku.
Surgaku, ini aku sudah datang kembali dengan hati ceria. Ceriakanlah hari-hariku bersamamu.
“Bibi pasti capek banget,” kata Rany mengagetkanku. “Kalo gitu Rony cerita sambil tiduran aja ya.” Rony menberi keputusan. Aku tersenyum sambil merebahan tubuhku ke tempat tidur di samping Rony. Rony mulai bercerita. Angina berhembus menerobos jendela yang sedikit terbuka. Membelai wajah dan tubuhku. Memberikan kesejukan yang alami dan begitu menetramkan. Serasa berteduh di bawah pohon rindang di siang bolong. Kesejukannya membawa hayalanku. Meninabobokanku di istana salju yang megah.
***
Ugh, sudah jam 14.30 WIB rupanya. Aku membatin. Buru-buru aku ke kamar mandi berharap masih menututi waktu shalat Dhuhur. Dengan gayung di tangan, perlahan-lahan kusiramkan air ke seluruh tubuhku sekenanya, berharap dapat mengembalikan kesegaran tubuh untuk menunaikan shalat dengan khusu'.
Rabb, inilah tubuh segarku karena kemurahan-Mu akan kuperuntukkan kepada-Mu, demi sujud dan ruku'ku yang tulus hanya karena-Mu.
“Bi, Rony shalat sama Bibi aja ya? Bapak sama Emak sudah shalat tadi pas Rony tertidur sama Bibi. Boleh ya?” Tanya Rony. Baju koko warna putih telah melekat di tubuhnya. Lengkap dengan sarung warna hijau bermotif bunga-bunga. Peci putih terpasang di kepalanya. Sejadah hijau melilit di bahu kanannya, seraswi dengan warna sarungnya. Aku mengangguk sambil tersenyum. Lalu melangkah meraih mukenah di kursi dan mengenakannya. Rony segera melantunkan lafadz iqamah saat aku selesai tanpa kusuruh. Pasti itu kebiasaan yang sudah ditanamkan oleh Mbak Izza, saudara kandungku yang tertua dan Rizqi, suaminya.
Aku memulai shalat. Mencoba menyelami artio dari setiap lafadz yang kubaca. Rony berdiri di samping kananku agak kebelakang sedikit. Rupanya dia sudah hafal betul tentang posisi ma’mum shalat yang sendirian.
"Fan, udah shalat belum?" terdengar suara Abi memanggilku.
"Sudah, Bi," jawabku pelan. Segera kubuka mukenaku lalu menggantinya dengan jilbab putih kesukaanku untuk menemui Abi. Entah, tiba-tiba saja ada perasaan tidak enak. Tidak seperti biasanya abi memanggilku ke ruang tamu. Kalau ada sesuatu yang perlu dibicarakan berdua, Abi pasti mendatangi kamarku.
"Ada apa, Bi?" pertanyaanku rupayanya membuyarkan lamunan Abi. Ternyata Abi tidak sendirian. Ummi duduk di sampingnya lalu menatap kedatanganku, dingin tanpa sepatah kata pun. Benar-benar tidak seperti biasanya. Seingatku, mata teduh Ummi tidak pernah jauh dari senyumnya yang tulus setiap kali menasehatiku ataupun untuk sekedar menyuruhku membeli sebungkus garam dapur ke toko tetangga sebelah. Aku semakin tidak bisa menguasai diri.
Tiba-tiba tenggorokan terasa kering dan pekat. Seakan pita suaraku putus. Maksud hati ingin memulai pembicaraan untuk mencairkan suasana yang mulai membeku. Tapi aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa selain menunduk, untuk meredam gejolak hati yang kian tak menentu. Jantungku berdetak cepat. Keringat dingin mulai menyesaki pori-poriku.
"Ada apa sebenarnya, Bi, Mi?" reflek pertanyaan ini muncul. Mataku berkaca-kaca. Terlihat Abi menarik nafas dalam-dalam. Mungkin akan menjawab pertanyaanku.
"Kalo jadi, besok malam tunangan Fani sekeluarga akan datang ke sini. Mereka akan meminta kesediaan Fani untuk segera melangsungkan pernikahan dengan Ari." Buk!! Seakan tengkukku ada yang memukul dengan keras dari belakang. Hingga aku tidak mampu umtuk sekedar menghela nafas. Dada terasa sesak. Tenggorokanku yang kering menjadi pekat. Tiba-tiba air mata mengalir deras. Membasahi pipi dan bibirku yang kaku. Aku hanya bisa menunduk. Seperti nasib air mataku yang membasahi lantai rumahku yang berdebu. Secepat inikah masa-masa indah akan berlalu? Bukankah masih panjang jalan yang harus kutapaki untuk meraih masa depan yang cerah?
"Abi serahkan semua ini kepadamu, Nak. Kalau Fani masih mau mondok, nggak apa-apa permintaan ini ditolak. Abi tidak akan memaksa, seperti Abi memaksa Fani untuk ditunangkan dulu. Abi kira Fani sudah bisa mempertimbangkan yang terbaik. Hanya saja, jangan terlalu menuruti keinginan yang belum dipikirkan dengan matang. Mintalah petunjuk kepada Allah," kata Abi dengan bijak. Alhamdulillah... sungguh Engkau maha pengasih, ya Allah. Kuangkat wajahku menatap Abi dan Ummi yang tetap bergeming. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Abi meraih tangan Ummi mengajaknya beranjak dari ruang tamu. Aku tersenyum dalam, sedalam kegelisahan ini menyesaki hatiku. Kuhapus air mata yang tumpah tak terbendung. Secara perlahan dada ini kembali bisa bernafas lega.
Aku ingin berlari-lari di halaman rumah meneriakkan perasaan legaanku pada bintang yang bertaburan. Aku ingin berbagi kebahagiaan ini dengannya. Seperti saat ia menemaniku dalam kesendirian. Dan menghiburku di saat hati ini gelisah. Sungguh mulia Engkau menciptakan bintang-bintang itu. Bintang-bintang itulah yang membuatku terus bermimpi. Bermimpi untuk menatap hari esok yang lebih cerah. Karena aku yakin, di atas segala keterbatasan dan kekurangan dalam diriku, masih terdapat kekuasaan-Mu yang agung yang akan melukiskan keindahan maha karya di alam semesta ini.
Namun seandainya Abi tetap seperti dulu. Entah aku tak tahu bagaimana nasibku. Karena tidak boleh tidak aku harus menerima permintaan Ari, tunanganku, untuk segera melangsungkan pernikahan.
Kuhempaskan tubuhku di kasur sambil menatap langit-langit kamarku. Kata-kata Abi terus terngiang di telingaku. Aku benar-benar akan serasa mati seandainya Abi tidak berubah perndirian. Karena jika aku menolak dengan alasan masih ingin melanjutkan pendidikan di pondok pesantren, masyarakat akan mencaciku, dan akan mecatat namaku sepanjang sejarah, sebagai perempuan yang tidak punya perasaan dan tidak tahu terimakasih. Ini adalah aib bagi keluargaku. Sudah pasti keluargaku akan dicemoh oleh masyarakat sekitar karenaku. Budaya inilah yang menyebabkan pendidikan tinggi menjadi nihil di desaku. Pintu sekolah tidak terbuka bagi perempuan yang sudah menikah. Dari sekian teman-teman sebayaku, hanya aku yang belum menikah. Bahkan, banyak perempuan usia di bawahku sudah punya anak.
***
Takbir berkumandang di mana-mana. Menyuarakan kebesaran dan kekuasaan-Nya. Aku bersujud kepada Allah.
Ya Allah, ini aku, hamba-Mu, yang tak punya daya sedikitpun untuk melangkah jalani hidup. Ya Allah... kebahagiaan, kesedihan dan kegalauan yang kujalani selama ini sudah tertulis pada lembaran takdir-Mu. Ya Allah, aku mencintai-Mu sepenuh hati dan segenap ragaku. Dengan rahmat dan hidayah-Mu, terangilah didupku. Beri aku petunjuk-Mu untuk memutuskan yang terbaik untukku dan keluargaku.
"Fan, kalo tidak ada kerjaan, ikut kakakmu ke rumah om Adi sekarang," suara Abi mengagetkanku.
"Iya, Bi," buru-buru aku mengiyakan, takut Abi yang sedang berdiri di balik pintu itu tiba-tiba masuk ke kamarku. Di depan cermin kukeringkan mataku yang sembab dengan tisu, sehingga tidak ada tanda-tanda bahwa aku baru saja menitikkan air mata. Lalu aku ganti jilbab dan bergegas menemui kakak.
"Jangan lama-lama! Khawatir mertua kamu datang," Abi mengingatkanku. Aku diam tak menjawab. Lidahku terasa kelu. Kata-kata tersekat di tenggorokan. Kutatap mata Abi. Kutemukan harapan sekaligus kepasrahan di sana. Cepat-cepat aku berpamitan dan mencium tangannya yang kasar.
"Asslamau'alaikum," Kakak mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam," Abi menjawab sambil terus memerhatikan kepergian kami.
Terasa berat kaki kulangkahkan. Beban pikiran terus menghantuiku. Bukannya aku bingung untuk memutuskan. Bahkan aku sudah pilihan. Akan tetapi yang membebani pikiranku adalah perasaan berdosa kepada kedua orang tua. Karena bagaimanapun, mereka berdua yang akan menanggung aib keluaragaku di mata masyarakat. Rabb, di malam idul fitri ini, mohon limpahkanlah rahmat-Mu dan petunjuk-Mu kepada kedua orang tuaku. Sungguh kemurahan dan pengorbanannya melebihi segala arti hidup dan matiku.
Di sepanjang jalan berkerikil ini, lampu senter yang Kakak bawa tidak cukup menerangi jalan setapak. Batu-batunya tersangkut kakiku yang kaku. Sakit rasanya. Tentu tidak sesakit hati ini jika harus dipaksa mengiyakan untuk menikah. Tapi inilah tamsil kehidupan. Saat kaki kesandung, sudah pasti akan semakin berhati-hati untuk melangkah. Tak ada kehidupan yang berjalan mulus tanpa hambatan. Perjalanan hidup sering kali tidak sesuai rencana. Inilah misteri kekuasaan Tuhan pencipta alam semesta. Shubhanallah…
"Kak, Kakak aja di depan ya…. Nanti kakak juga yang bilang sama om Adi kalau kita tidak mau lama-lama. Kita cukup maaf-maafan aja." Tanpa komentar Kakak langsung mendahuluiku masuk pekarangan om Adi.
***
Seperti di musim kemarau, saat malam mulai menyapa, bintang kejora tiba-tiba berpendar. Bentuknya lebih besar dan cahanya lebih terang dibandingkan bintang-bintang yang lain. Begitulah dengan nuraniku. Terbersit rasa untuk membahagiakan orang lain dan membantu mewujudkan keinginannya sebagai asas kehidupan makhluk sosial. Hati kecilku seakan merelakan hari esokku demi tercapainya keinginan seorang manusia yang patut aku patuhi. Mengorbankan keinginanku untuk kepentingan orang lain yang sangat mencintaiku.
Rabb, inikah tuntunan-Mu? Apakah sudah cukup bekal bagiku untuk menjadi seorang istri yang berbakti kepada suami? Menjadi seorang ibu yang siap menjadi tempat bersandar anak-anaknya?
Tapi akal sehatku tetap tidak bisa merelakan dunia mimpiku yang melukiskan istana kehidupan yang megah hanya manjadi buih di tengah-tengah realita yang kuhadapi. Gemerlapnya seakan menjanjikan arti hidup yang lebih bermakna. Kesuksesan di masa depan tidak bisa dibandingkan dengan arti pengorbananku kali ini. Jika aku memilih mengorbankan impian dan cita-citaku, tentu sangat sulit untuk meraihnya kenbali. Mustahil malah. Karena aku sudah hidup di dunia yang lain.
Jika aku bertekadku membiarkan perasaan orang lain merasa kehilangan, membiarkan dia mencari calon istri yang lebih baik dariku demi cita-cita dan masa depanku, tentu, yang terberat bagiku adalah jika setiap hari harus menutup telinga karena cemohan para tetangga yang begitu pedas. Namun, di balik itulah tersimpan masa depanku yang cerah. Yang akan menerangi hidupku, dengan proses panjang yang akan kulalui. Hatiku yakin, suatu saat nanti aku dapat menjadi perempuan dewasa yang bisa berpikir bijak. Tentu itu lebih baik bagi seorang istri. Dan lebih dapat dipertanggungjawabkan jika kelak menjadi seorang ibu.
***
Ugh…. Dadaku menjadi sesak, seakan dunia akan berbalik. Pandanganku terombang-ambing bagai gempa bumi menerjang rumahku. Berat rasanya. Tapi sia-sia rupanya harus pusing tujuh keliling untuk mempertibangkan kembali pilihan-pilihan itu. Jawabanku dibutuhkan saat ini juga. Pada detik ini di depan Ari dan keluarganya yang tidak lain adalah pamanku sendiri.
Aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata. Lidahku menjadi kelu untuk menyusun bahasa. Hanya air mata yang tumpah, deras membasahiku. Ingatanku sudah mulai kabur. Yang tetap kurasakan adalah bahwa kado pernikahan Ari yang tetap berada di pangkuanku. Tiba-tiba semuanya gelap. Gelap gulita tak ada yang bisa menerangiku. Kuhempaskan kado pernikahan itu entah kemana. Bergegas aku bangkit dan berlari menuju kamarku. Kuhempaskan tubuhku dan aku pun menangis sejadi-jadinya.
Ya Allah, seiring alunan takbir kebesaran-Mu menyambut hari kemenangan ini, berkatilah aku dengan rahmat dan hidayah-Mu.

0 komentar:
Posting Komentar