Matahari mulai beranjak turun. Mengukir langit dengan semburat kuning kemerahan. Mencipta jingga yang menyejukkan mata. Burungpun mengepak sayap, berlomba menuju sarang. Setelah seharian menorah alur kehidupan. Tapi aku tetap terpekur, tak ada niatan untuk beranjak dari batu tempat aku duduk. Besok ujian Semester genap. Tapi tak ada setitikpun semangat yang mengajakku untuk belajar. Bahkan, matapun sudah perih karena menangis sepanjang malam.
Aku masih ingat kejadian beberapa hari yang lalu. Saat aku masih tertawa lepas di dalam kelas, bermain dengan teman-teman, bahkan menanam bunga dengan tulisan MA 1 A Pi di halaman sekolah. Betapa menyenangkannya hari-hari itu. Sepintas, semua kejadian itu seolah biasa, bahklan terlalu biasa untuk di kenang. Tapi sekarang, saat bangku sekolah tak lagi dapat kududuki, saat pendidikan tak lagi dapat kuenyam lantaran ekonomi keluarga yang tak mengizinkan, maka semua kejadian itu berubah wujud, menjelma menjadi torehan sejarah yang tak terlupakan, bahakn terlalu indah untuk dilepas dari 9ingatan meski hanya sesaat.
“Lho… Emak! Tumben Fany dikunjungi sekarang? Emak bawa oleh-oleh apa?” ucapku antusias saat Emak mengunjungiku dua hari yang lalu.
“Emak akan sowan sekarang ke ndalem. Apa kamu mau ikut?” ucap Emak yang mampu menghapus senyumku sekatika.
“Tapi Mak, Fany kan masih mo ikut ujian. Di sekolah kan nggak boleh kalong Mak. Berhentinya setelah haflah saja ya, Mak. Fany mohon, Mak.” Ucapku memelas, berharap Emak akan mengabulkan permintaanku.
“Tapi Fa, Emak sudah tak punya uang lagi. Uang ini pun hanya cukup untuk sowan ke pengasuh. Biarlah kamu berhenti sekarang saja ya, Nak.”
“Mak. Fany tau, Emak udah nggak punya apa-apa. Fany juga nggak akan minta uang jajan sama Emak. Asal Fany berhenti setelah Haflah ya, Mak. Empat hari lagi kan ujian dimulai. Fany juga masih mu ikut lomba. Boleh ya, Mak.”
“Nak. Emak tau kamu tidak ingin berhenti dari pondok ini. Emak juga tau kamu tidak akan minta uang jajan sama Emak. Tapi, kamu pasti minta uang jajan sama orang kantor Kakakmu, dan mereka akan selalu memberikan apa yang kau butuhkan. Tapi Nak, Emak sudah tidak enak hati pada mereka. Ingat, mereka bukan familimu, tak ada ikatan darah sedikitpun diantara kalian. Iya dulu, masih ada Kak Ziemu di sana. Tapi sekrang….?” Ucap Emak menggantung, membiarkan aku untuk melanjutkannya. Aku hanay diam membeku. Tenggorokanku seolah tercekat. Mataku panas, mungkin air sudah menganak sungai yang akan segera pecah. Kutahan sekuat tenaga, agar tak mengalirkan air mata. Agar tak semakin menambah beban Emak. Kutatap langit yang mulai mendung, mencoba mengalihkan perhatian. Agar muara itu tak jatuh.
“Sekaranglah, Nak waktu yang paling tepat. Mumpung Emak masih punya uang hasil merumput.” Suara Emak kembali memecah luapan emosiku.
“Tapi, Mak. Gimana dengan sekolahku? Sebentar lagi ujian sedang di sekolah nggak boleh kalong.”
“Kau boleh pindah pondok. Tinggal dengan tunangan kakak sepupumu atau tinggal dengan bibimu.”
“Bereati Fany pindah pondok, Mak?” ucapku antusias. Ada secercah harapan aku masih akan tetap sekolah, belajar bersama teman-temanku, bermain dan melakukan rebisasi dan sebagainya. Biarlah, meski aku harus pindah pondok, asal aku masih bisa sekolah di pondok ini itu sudah lebih dari cukup. Pikirku.
“Gimana? Apa kamu mau ikut ke ndalem?” Tanya Emak mebuyarkan hayalku. Aku mengangguk cepat. Sebelum tawaran Emak untuk pindah pondok ditarik kembali. Aku melangkah mengikuti langkah Emak ke ndalem. Ditanganku terjinjing tas berisikan beras sebagai oleh-oleh ke ndalem.
@@@
Kini aku sudah duduk di pondok bibikku. Masih tertanam lekat tatap heran dari teman-teman sekamarku saat mengantarku tadi. Masih kuingat jelas pintu gerbang pondokku. Pondok yang sangat aku cintai, yang memberiku segala pengetahuan dan pengalaman, yang mengajariku ketegaran dan arti kehidupan, yang membuatku mengerti asam garam kehidupan. Bagiku di sanalah surgaku. Semua yang kubutuhkan ada di sana. Fasilitas lengkap, kegiatan padat, dan hal lain yang tak mungkin kutemukan di tempat lain. Tapi sekarang aku di sini. Sekuat tenaga kutahan agar tak melelehkan air mata.
Tuhan. Jadikan ini yang terbaik untukku. Hanya Engkau yang Maha Tau. Hamba hanya menjalani garis taqdir-Mu.
“Lho… kok ngelamun terus? Mulai besok nanak dengan Bibik ya. Biar semakin hemat. Agar Emakmu nggak usah ngunjungin setiap minggu.” Ucap Bibik mengagetkanku. Dialah Bibikku, sepupu Emak dari kakek.
“Biar, Bak, nggak usah di kunjungi setiap setengah bulan. Setiap bulan juga nggak apa-apa.” Ucap Bibiku pada Emak.
“Emangnya berapa hari ujiannya Dek?” Tanya Emak pada Bibik.
“Sepuluh hari Mbak. Habis itu langsung bazaar.” Jawab Bibik. Aku hanya diam. Lamunanku masih terpatri suasana pondokku.
“Kan Cuma sepuluh hari, masak masih minta dikunjungi lagi. Habis itu kan setelah itu ‘nggak ada’.”
“Maksud Emak setelah itu nggak ada. Berarti Fany tetap….” Ucapku tercekat. Emak hanya mengangguk, mengiyakan dugaanku. Segera kusandarkan tubuhku ke tembok, berharap akan segera mendapatkan ketegaran tumk menghalau segala rasa yang sedang berkecamuk di jiwa. Kini aku baru mengerti ternyata yang dimasud emak dengan ‘pindah’ hanya pindah untuk sementara bukan untuk seterusnya. Tapi hanay selama aku mondok saja.
“Ya sudah , kalau begitu Fany pulang aja ke rumah, Mak. Toh di sini juga hanya untuk sementara.” Ucapku memberi keputusan. Ingin rasanya aku berkata; aku tak mau ikut ujian. Untuk apa? Toh setelah itu aku akan berhenti juga. Paling rapor itu hanay akan terpajang di atas lemari dan menjadi sarang tikus dan kecowa. Tapi aku tak tega untuk mengucapkannya.
“Terus ujiannya gimana? Katanya nggak boleh kalong.”
“Biar Fany numpang di rumah Oom Herman saja. Di sana masih termasuk radius kok. Jadi Emak nggak usah hawatir.” Emak hanya diam. Kutolehkan kepala. Ternyata Emak menatapku lekat. Ada segurat resah yang terpancar di sana. Namun, begitulah Emakku. Kutau dia pasti terpaksa dan tak tega untuk melakukan semua ini. Keadaanlah yang memaksanya untuk berbuat begitu. Kutau Emak sangat menyayangiku. Tapi dia tidak akan mengucapkan kata sayang ataupun ungkapan yang lainnya padaku. Mungkin itu adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan baginya.
Dan disinilah aku sekarang,termenung menangisi nasib. Berhenti mondok dan menumpang di rumah orang. Beginilah jalan taqdir. Hari ini kita tertawa,esok mungkin kecewa. Hari ini bahagia, mungkin lusa terluka. Detik ini kita masih bernafas, semenit lagi mungkin kita binasa. Maka nikmatilah setiap harimu. Berbuatlah selama kau masih bisa. Jangan pernah diam. Karena ketika kau diam,maka saat itulah kau telah mati.
“Fan. Lho kok nggak belajar, katanya besok ujian? Ayo pulang, sebentar lagi bukit ini gelap lho…” kata Oom Herman membuyarkan semua lamunanku.
Jumat, 13 Agustus 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar